Derita Bocah Tanpa Lubang Anus Asal Lombok Timur

Berharap Bantuan Pemerintah untuk Berobat

Derita Bocah Tanpa Lubang Anus
ANUS BUNTU: Zikrullah, anak tanpa lubang anus, di gendong ibunya saat sedang mengontrol kondisi anaknya di Puskesmas Suela. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Zikrullah, bocah berusia 2,5 tahun, asal Dusun Batman, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), sungguh tidak beruntung nasibnya. Bagaimana tidak, sejak lahir dia menderita penyakit atresia ani, atau kelainan kongenital, yakni tidak memiliki lubang anus.


JANWARI IRWAN – LOTIM


HIDUP dari keluarga miskin, dan tinggal bersama neneknya, kian menambah penderitaan Zikrullah, bocah yang tidak memiliki lubang anus ini. Sehari-hari dia hanya bisa terbaring lemas, sambil menahan rasa sakitnya.

Ditambah dengan penghasilan sang ayah yang hanya sebagai buruh serabutan. Jangankan untuk mengobati anaknya, guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, suami isteri dan tiga anaknya ini saja kesulitan. Karena itu, mereka hanya bisa pasrah melihat penderitaan Zikrullah, sambil menunggu para dermawan membantu mengobati penyakit anaknya itu.

BACA JUGA :  Duka Keluarga Mahasiswa UII yang Tewas Usai Diksar Mapala

Menurut Ibu Kandungnya, Raidatul Jannah, anaknya ini pernah dua kali dibawa ke rumah sakit untuk oprerasi kolostomi, atau operasi pembuatan saluran pembuangan tinja melalui perut, dan pembuatan lubang anus.

Akan tetapi hasilnya belum maksimal, bahkan terjadi pendaharaan yang cukup besar. “Jadi saat ini kalau buang air, lewat lubang yang ada di perut. Dan itu pedih dia rasakan,” kata Raidatul Jannah kepada Radar Lombok, Rabu kemarin (8/11).

Diceritakan, pada saat Zikrullah lahir pada 12 Januari 2015 yang lalu. Tidak ada tanda-tanda kalau anaknya itu akan mengidap penyakit anus. Namun setelah dia sampai dirumahnya, tiba-tiba dia kaget melihat lubang anusnya ternyata tidak ada.

“Waktu itu anak saya pingin muntah, dan tidak mau menyusui. Anehnya lagi, anak ini tidak pernah menangis seperti anak-anak biasanya. Saya telpon Ibu Bidan dan diperiksa, ternyata anak saya ini tidak mempunyai anus,” jelasnya sedih.

Melihat anaknya yang tidak mempunyai lubang anus, kemudian dia disarankan untuk pergi berobat ke rumah sakit. Namun karena keterbatasan ekonomi, maka dia tidak bisa membiayai anaknya untuk melakukan operasi. ”Setelah suami saya ke Malaysia, baru anak saya bisa berobat, dan menjalani operasi,” jelasnya.

Untuk bisa mendapatkan pengobatan anaknya, saat ini dia dan keluarganya sudah mempunyai BPJS mandiri. Hanya saja, dia tidak sanggup rutin membayar iuran BPJS yang dimiliki itu. “Saya kesulitan membayar angsuran Rp 76.650 untuk BPJS itu,” tuturnya.

Karena itu, untuk bisa mengobati anaknya, dia terpaksa harus meminjam uang kepada tetangga, demi kesembuhan anaknya. Pasalnya, selama ini Kepala Desa, Pemerintah Kecamatan, bahkan Kabupaten, belum memberikan perhatian pada anaknya yang membutuhkan biaya pengobatan. ”Harapan saya, pemerintah memberikan dukungan dan biaya untuk bolak-balik ke mataram (rumah sakit), karena saya malu meminjam sama tetangga saya,” sedihnya.

BACA JUGA :  Bakal Buat Sarana Hiburan, Kafe dan Taman Rekreasi

Sementara itu, anggota relawan NTB di Lotim, Ima Swiyanti yang mendampingi Zikrullah, membenarkan kalau Zikrullah adalah anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang serba kekurangan. Tak hanya ekonomi keluarga saja yang kurang, pertumbuhan fisiknya juga mengalami kekurangan. “Saat ini anaknya (maaf) masih buang air melalui perut yang dibuatkan oleh dokter. Tentu ini membuatnya tidak nyaman,” jelasnya.

Disampaikan, operasi terhadap Zikrullah dilakukan oleh salah satu rumah sakit di Mataram. Namun setelah dibuatkan lubang anus, keluarga Zikrullah tidak mampu rutin berobat ke Mataram, yang hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 200 ribu. Akibatnya, pembuatan lubang anus yang dilakukan oleh dokter menjadi tidak maksimal. “Jadi gara-gara kekurangan ekonomi, semua harta keluarganya juga telah dijual. Tapi hasilnya, anus anak ini masih infeksi dan butuh biaya pengobatan,” jelasnya.

Agar pengobatan terhadap Zikrullah berjalan baik, pihaknya saat ini sedang membantu menguruskan BPJS Kesehatan yang dibiyai pemerintah. Sehingga beban pembayaran yang ditanggung oleh keluarga yang kurang mampu ini bisa dikurangi. ”Sejauh ini kita sudah dapat bantuan dri Bazda dan Baznas. Kita berharap ada dermawan yang mau membantu penyembuhan anak ini,” harap Ima Swiyanti. (*)