Keluh Kesah Korban Gempa Saat Hujan Turun

Tenda Mulai Kebanjiran, Rumah Tak Kunjung Diperbaiki

Keluh Kesah Korban Gempa Saat Hujan Turun
SEMAKIN CEMAS: Warga Lingkungan Pengempel Indah semakin tidak nyaman di tenda pengungsian ketika hujan turun. (Sudir/Radar Lombok)

Musim hujan telah tiba, nasib para korban gempa di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais semakin memperihatinkan. Tenda-tenda mereka mulai tergenang dan setiap malam harus rela kedinginan.


SUDIRMAN-MATARAM


TENDA-tenda para korban gempa masih terpasang di lokasi tempat pengungsian di Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais.  Tanah seluas satu hektar milik PT PLN Persero itu nyaris dipenuhi tenda-tenda warga setempat.

Di Kota Mataram, Lingkungan Pengempel Indah tercatat sebagai salah satu wilayaha yang paling parah terkeenda dampak gempa. Di lingkungan ini, nyaris semua rumah warga sudah rata dengan tanah.

BACA JUGA: Rizki Maulana, Anak Pelanggar Lalu Lintas yang Viral di Medsos

Selama tiga hari terkahir, Kota Mataram telah diguyur hujan lebat. Hujan yang sejatinya menjadi berkah justru menjadi petaka bagi warga di pengungsian. Ini karena areal pengungsian mereka mulai tergenang. Parahnya lagi , saat malam hari para pengungsi ini justru kedinginan.

Di Pengempel Indah, hampir 480 rumah telah rata dengan tanah ketika gempa dua bulan lalu. Kini warga hanya bisa pasrah sambil melihat proses pembangunan rumah instan sederhana sehat (Risha) dan Rumah Instan Konvensional (Riko) yang telah dipilih awal bulan lalu.

Salah satu warga sekitar, Hamdi mengaku, hanya bisa pasrah melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Sampai saat ini, proses pembangunan belum ada kabar.

‘’Sementara di tenda pengungsian, saya bersama keluarga saat  malam hari biasanya kedinginan. Kondisinya semakin parah ditambah dengan genangan air yang terus meluber,” ungkapnya, Selasa (13/11).

Seiring waktu, kondisi tenda para pengungsi juga semakin buruk. Terpal sudah mulai banyak yang rusak. Di lain sisi, tidak jarang di dalam satu tenda yang berukuran 4×5 meter diisi oleh satu keluarga. Di tenda itu menyatu dengan tempat tidur maupun peralatan dapur.

Kondisi para pengungsi ini bertambah miris ketika para balita disekap kedinginan. Begitu juga dengan para lansia yang sudah berusia senja.

‘’Seperti saat malam hari hujan, banyak lansia dan anak-anak yang basah kuyup,” ucap Hamdi.

Terhitung sejak 9 Agutus lalu, ia mengaku sudah berada di tenda darurat. Ia berharap ada perhatian serius dari pemerintah, terutama pembangunan rumah bantuan. Termasuk dengan janji-janji lain pemerintah yang selama ini belum direalisasikan.

BACA JUGA: Lelah Tunggu Bantuan Pemerintah, Sukarno Bangun Rumah Terbalik

Warga lainya, Nurhalimah, mengaku kondisi tenda sudah tidak nyaman. Saat malam hari, ia mulai gelisah akan hujan datang. Praktis dua anaknya yang masih sekolah dasar terpaksa harus diungsikan ke tempat yang lebih nyaman.

Ada beberapa tenda permanen dari Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram  yang dibangun dan terbebas dari air. Di tempat inilah biasanya anak-anak dan lansia diungsikan kala hujan.

‘’Kita harapkan ada respon terutama saat musim hujan,’’ katanya. (*)