Kejaksaan Usut Perjalanan Dinas Fiktif DPRD KLU

Ida Bagus Putu Widnyana (ABDURRASYID EFENDI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram mulai mengusut dugaan perjalanan dinas fiktif di Sekretariat DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Guna membuat kasus ini terang-benderang, Kejari Mataram sudah memanggil beberapa anggota dewan untuk diklarifikasi. “Kami sudah memanggil anggota dewan setempat untuk dimintai klarifikasi. Masih dilakukan penyelidikan,” sebut Kasi Intel Kejari Mataram Ida Bagus Putu Widnyana, Senin (26/9).

Pengusutan yang dilakukan ini, juga menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan BPK tahun 2021, temuannya mencapai Rp 186.576.000. Total ada 51 orang yang diberikan surat perintah perjalanan dinas (SPPD) tidak menggunakan uang sesuai dengan peruntukannya. Sebab hasil konfirmasi dari pihak hotel, mereka tidak ada yang menginap sesuai dengan peruntukan SPPD itu sendiri.

Terhadap persoalan yang tengah diusut ini, Ida Bagus belum memberikan tanggapan yang mendalam. Dengan alasan masih dilakukan klarifikasi terhadap yang yang bersangkutan. “Masih belum bisa kami sampaikan, masih dalam tahap klarifikasi,” katanya.

Begitu juga dengan indikasi melawan hukum yang terjadi dalam kasus ini, belum disebutkan secara detail. Termasuk juga soal potensi kerugian negara. “Masih tahap klarifikasi dulu. Kalau sudah cukup, nanti kami sampaikan secara detail,” imbuhnya.

Dikatakan, penanganan kasus ini akan terus berproses sampai ditemukannya kepastian hukum. “Soal kerugian negara nanti, kami masih fokus memeriksa saksi dulu,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kekeringan Meluas, Permintaan Air Meningkat

Diketahui, BPK RI Perwakilan NTB menemukan anggaran perjalanan dinas senilai Rp 195.976.000 di DPRD KLU tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Rinciannya yaitu kelebihan pembayaran biaya penginapan senilai Rp 194.176.000 dan kelebihan pembayaran uang harian perjalanan dinas dengan tujuan pelatihan tidak sesuai dengan ketentuan senilai Rp 1.800.000.

Hal itu diketahui dari hasil pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban dan hasil konfirmasi kepada pihak hotel. Di mana hasil konfirmasi kepada manajemen hotel menunjukkan hal-hal sebagai berikut: yakni sebanyak dua pelaksana perjalanan dinas benar menginap di hotel sesuai bukti dalam pertanggungjawaban, namun tanggal menginap tidak sesuai.

Kemudian sebanyak 51 pelaksana perjalanan dinas tidak menginap di hotel pada tanggal perjalanan dinas sesuai dengan bukti pendukung pada dokumen pertanggungjawaban. Namun pelaksana perjalanan dinas melampirkan invoice hotel sebagai bukti pertanggungjawaban. Invoice hotel tersebut diduga fiktif karena pihak hotel tidak mengonfirmasi kebenaran invoice tersebut. Sehingga terdapat kelebihan pembayaran atas biaya menginap senilai Rp 186.576.000.

Rincinya yaitu hotel LVV dengan jumlah pelaksana perjalanan dinas sebanyak 8 orang. Kelebihan biaya sebesar Rp 31.136.000. Kemudian di hotel KMV dengan jumlah pelaksana perjalan dinas sebanyak 24 orang. Adapun kelebihan biaya sebesar Rp 89.180.000. Selanjutnya di hotel GTR. Jumlah pelaksana perjalan dinas sebanyak 10 orang. Adapun kelebihan biaya sebesar Rp 32.060.000. Kemudian di hotel BH jumlah pelaksana perjalan dinas sebanyak 9 orang, dengan jumlah kelebihan biaya sebesar Rp 34.200.000. Total semuanya kemudian sebesar Rp 186.576.000.

Baca Juga :  Global Hub Tetap Dipertahakan pada Revisi RTRW, DPMPTSP NTB: Investor Masih Penjajakan

Selanjutnya dari pembayaran uang harian perjalanan dinas dengan tujuan pelatihan tidak sesuai dengan ketentuan senilai Rp 1.800.000. Hasil pemeriksaan terhadap rekapitulasi atas realisasi belanja perjalanan dinas dan dokumen pertanggungjawaban pada Sekretariat DPRD diketahui bahwa terdapat pembayaran biaya perjalanan dinas dengan tujuan mengikuti pelatihan.

Berdasarkan Lampiran VII pada Keputusan Bupati Lombok Utara Nomor: 15/15/BPKAD/2021 tanggal 4 Januari 2021 tentang Standar Satuan Harga Perjalanan Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara Tahun 2021 terdapat perbedaan nilai uang harian untuk perjalanan dinas biasa dan perjalanan dinas dengan tujuan mengikuti pelatihan.

Selain itu besaran uang harian yang diberikan dalam rangka kegiatan pelatihan dengan pembayaran uang kontribusi diatur tersendiri dalam Peraturan Bupati Lombok Utara Nomor 1 Tahun 2016 tanggal 4 Januari 2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Bupati Lombok Utara Nomor 18 Tahun 2013 tentang Perjalanan Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara pada Pasal 6 ayat (1) poin b dan c memiliki aturan pembiayaan perjalanan dinas yang berbeda. Atas hal tersebut terdapat kelebihan pembayaran atas uang harian perjalanan dinas dengan tujuan mengikuti pelatihan senilai Rp 1.800.000. (cr-sid)

Komentar Anda