Jelang WSBK, Pesanan Kamar Hotel Masih Sepi

SEPI PESANAN: Meski perhelatan WSBK Mandalika tinggal sebulan lagi, namun pesanan kamar hotel di Kota Mataram masih belum siginifikan, dibawah 50 persen. Tampak salah satu lobi hotel di Kota Mataram. RATNA/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Pelaku usaha perhotelan di Kota Mataram pesimis balapan World Superbike (WSBK) Mandalika yang digelar pada 11-13 November mendatang, bakal ramai. Buktinya, even balap motor dunia tinggal sebentar lagi, namun jumlah pesanan kamar hotel di Kota Mataram, masih juga di bawah 50 persen, alias masih sepi.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram, Yono Sulistyo menyebut ada sedikit kekhawatiran yang dirasakan para pelaku usaha perhotelan. Apalagi saat ini tarif kamar hotel dipatok jauh dibawah harga normal. Namun seservasi hotel oleh calon penonton tak kunjung meningkat juga.

“Kalau flashback beberapa bulan yang lalu saat MotoGP, jauh sebelum event hotel sudah banyak terpesan sama pihak kedua. Padahal tidak tau apakah laku atau tidak. Tapi sudah dibooking dan dibayar oleh pihak reseller. Tapi kalau sekarang (WSBK 2022), boleh dikatakan masih jauh bawah 50 persen yang sudah pesan. Walapun WSBK tinggal sebulan lagi,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Jum’at (30/9).

Diceritakan Yono, saat event MotoGP Mandalika lalu, tiga bulan sebelum gelaran berlangsung, seluruh hotel sudah full booking. Belum lagi rumah warga, asrama, dan kos-kosan semua dimanfaatkan untuk menampung penonton. Tapi kini, alih-alih full booking, pesanan hotel justru sepi peminat.

Baca Juga :  PHK Masih Menjadi Ancaman Pekerja Hingga 2022

“Harga hotel untuk WSBK 2022 sudah rendah, tapi karena antusias penonton memang agak kurang dibandingkan MotoGP. Jadi pesanan masih sepi,” ujar Yono.

Artinya jumlah reservasi saat ini masih jauh dari harapan pelaku usaha. Untuk itu, pihaknya berharap Pemerintah bersama stakeholder terkait, lebih kompak dan getol dalam menggaungkan gelaran WSBK.

Menurut Yono, penyebab rendahnya minat wisatawan untuk menonton WSBK. Pertama dipengaruhi oleh harga tiket pesawat yang mahal. Kemudian pada Oktober ini, negara tetangga Malaysia akan menyelenggarakan event MotoGP. Sehingga wisatawan lebih condong menonton event MotoGP yang kelasnya jauh diatas gelaran WSBK.

“Jadi pemikirannya orang-orang itu, ngapain November ke Lombok nonton WSBK, kalau Malaysia bulan Oktober ada MotoGP,” ucapnya.

Belajar dari pengalaman saat event-event sebelumnya, tarif hotel yang naik gila-gilaan menjelang event. Harga akomodasi transportasi pun demikian tinggi naiknya. Sehingga kenaikan itu menimbulkan kekecewaan penonton terhadap fasilitas pariwisata di Pulau Lombok.

Untuk itu, pihaknya mendesak Pemerintah setempat tegas dalam pengawasan. Terutama perihal penetapan tarif kamar hotel. Apakah harga kamar botel diperbolehkan naik sesuai Perda Gubernur NTB atau mematok tarif kamar dengan harga tertinggi.

Baca Juga :  Pengusaha Mulai Kibarkan Bendera Putih

“Isu itu sudah menjadi isu nasional. Maka tarif saat ini apakah sesuai Perda Gubernur boleh naik 2-3 kali lipat. Tapi dari pelaku hotel meminta jangan naik berkali-kali lipat, tetapi pakai harga tertinggi saja,” ujarnya.

Kendati demikian, menurut Yono, sekarang wisatawan sudah lebih cerdas. Pihak hotel juga selektif dalam menjual hotel ke reseller. Melalui situs OTA, penjualan kamar hotel oleh reseller atau agent bisa terpantau.

“Harga tertinggi hotel bintang untuk WSBK sekitar Rp750 ribu – Rp760 ribu, yang dulunya menjual Rp 1 juta. Jadi ada penurunan harga cukup signifikan,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Ni Ketut Wolini menyebut telah menyiapkan sebanyak 18.200 kamar hotel, untuk menampung para wisatawan yang datang menyaksikan perhelatan WSBK pada 11-13 November 2022 mendatang.

“Ribuan kamar hotel yang telah disiapkan merupakan kamar hotel bintang dan non bintang yang ada di kabupaten/kota di Pulau Lombok. Jadi di Lombok itu ada hotel berbintang 124 buah, dan hotel melati 908 buah, dengan jumlah kamar yang tersedia 18.200 kamar,” bebernya. (cr-rat)

Komentar Anda