Jelang Balap MotoGP, Hotel Melati di Mataram Sepi Pesanan

HOTEL : Inilah salah satu Hotel Melati di wilayah Kota Mataram (IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM – Keberadaan hotel melati di Kota Mataram belum merasakan dampak positif jelang pelaksanaan MotoGP Sirkuit Mandalika pada Maret 2022 mendatang. Hotel melati Ini masih menunggu angin segar jelang event balap akbar tersebut.

Meski begitu, para pengusaha hotel melati masih berharap kecipratan pelanggan. Apalagi dengan penuhnya pesanan di hotel berbintang. Kini, para pengusaha hotel melati di Kota Mataram mulai melengkapi sejumlah fasilitasnya.Fasilitas yang ada di hotel melati dengan hotel berbintang bisa dibandingkan.

“Kita di hotel melati ada AC, TV, dan fasilitas lainnya. Hanya saja di hotel melati jarang ada fasilitas air panas dan kolam renang,” kata Ketua Perhimpunan Hotel Melati (PHM) Kota Mataram I Gede Wenten, Kamis (20/1).

Event MotoGP menjadi angin segar bagi pelaku usaha hotel. Informasinya, semua hotel berbintang di Kota Mataram full booking pada Maret mendatang, termasuk penginapan di Kuta Bali. Namun sebaliknya, hotel melati di Kota Mataram hingga kini masih nihil pesanan. Sementara ini masih sebatas nanya saja.

BACA JUGA :  Peternak Lokal Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Telur

Wenten, tidak ingin hotel melati menjadi penonton pada event internasional. Pada event World Superbike (WSBK) 2021 lalu hotel melati tidak kecipratan. Wenten berharap full booking tamu MotoGP di hotel berbintang benar terjadi, sehingga tamu atau penonton MotoGP lainnya bisa memilih hotel melati menjadi tempat menginap ketika hotel bintang sudah penuh.

“Kita di hotel melati menyiapkan 500 kamar lebih,” sebut Wenten.

Wenten juga menyiapkan tempat parkir yang luas di hotel melati. Sebut saja Hotel Kaila bisa menampung 50 mobil untuk parkir.

“Kalau masalah tempat parkir, endak usah khawatir,” tutur pria yang juga pemilik hotel Kaila ini.

BACA JUGA :  Meski Stok Aman, Harga Minyak Goreng Naik

Menurutnya, penonton MotoGP tidak semuanya akan menginap di hotel berbintang. Masyarakat yang uangnya pas-pasan tentu akan memilih hotel melati untuk menginap, terutama masyarakat yang datang dari Pulau Sumbawa. Jika tarif hotel berbintang naik, tentu hotel melati juga akan ikut menaikkan tarif. Tarif hotel melati maksimal Rp 600 ribu per malam.

“Kalau hotel berbintang naikkan tarif otomatis kita juga akan naikkan,” ucap Wenten.

Sejauh ini Wenten sudah melaporkan jumlah ketersediaan kamar hotel melati ke Dispar NTB dan Kota Mataram. Data-data sudah diberikan untuk menyambut event MotoGP.

“Tidak semua hotel melati memiliki fasilitas lengkap. Ada juga yang tempat tidurnya kurang layak dan menggunakan kipas angin,” pungkasnya. (rie)