Irigasi Tak Berfungsi, Ribuan Petani Meradang

Irigasi Tak Berfungsi
KERING: Saluran irigasi di Desa Matua selama dua minggu terakhir kering kerontang. (Juwair/Radar Dompu)

DOMPU-Ribuan petani di wilayah Kecamatan Woja kini meradang. Saluran irigasi yang mengairi sawah mereka, kini sudah tidak berfungsi lagi.

Macetnya irigasi akibat jebolnya Dam Raba Baka, telah berlangsung lebih dari dua minggu. Pekan lalu, pintu irigasi sempat diperbaiki secara  swadaya oleh petani setempat, namun tidak bertahan lama akibat banjir susulan.

Macetnya irigasi tersebut membuat petani resah. Para punggawa sebagai penanggungjawab penyaluran air ke lahan persawahan pun tidak bisa berbuat banyak. Padahal saat ini tanaman padi petani sedang membutuhkan air.

Pengamat Pintu Irigasi Dam Raba Baka H Rasyid berharap, pemerintah segera turun tangan memperbaiki pintu irigasi. Sebab, perbaikan pintu tidak bisa secara manual. “Minggu lalu petani sempat gotong royong memperbaiki pintu irigasi. Tapi, hanya bertahan dua hari,” ungkap H Rasyid pada Radar Dompu, Selasa (25/4).

Kata dia, irigasi sangat penting bagi kehidupan petani di wilayah Kecamatan Woja. Karena mengairi sekitar 1.780 hektare sawah  di tujuh desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Woja. “Beberapa hari terakhir hujan masih sering hujan untuk mengairi sawah petani,” kata H Rasyid saat ditemui di lokasi Dam Raba Baka.

 Rusaknya pintu irigasi Dam Raba Baka diakui, sudah dilaporkan kepada  perusahaan pemenang tender pembangunan dam Raba Baka. Mereka menjanjikan perbaikan pintu. Namun, hingga saat ini pihak perusahaan belum juga memperbaikinya. “Dua hari lalu mereka (pihak perusahaan) mengaku menunggu bronjong dari Lombok baru pintu irigasi diperbaiki. Tapi, sampai saat ini bronjong tak kunjung tiba,” sesalnya.

Jika dalam dua hari ke depan saluran irigasi tidak diperbaiki, dikhawatirkan tanaman padi petani bakal mati. Bahkan, beberapa hari lalu sekitar 200 lebih hektare tanaman padi dipastikan gagal panen. “Para punggawa wilayah Woja sudah menghubungi saya, untuk menghadap ke Bupati jika irigasi tidak segera ditangani,” tegasnya.

Keluhan yang sama disampaikan Ilham, Plt Kades Raba Baka. Kata dia, rusaknya pintu irigasi membuat petani di desanya menjerit. “Saat ini sebagian petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengairi sawah mereka. Dengan menyedot air dari sungai,” kata Ilham saat ditemui di kantornya, kemarin.

Menurutnya, manfaat irigasi bagi warganya sangat besar. Selain mengairi sawah, warga pun memanfaatkan aliran irigasi ini untuk keperluan sehari-hari. Seperti mandi, cuci,  kakus. Namun, semenjak rusaknya irigasi warga terpaksa beralih menggunakan air sungai.

Parahnya lagi kata dia, warga di Desa Raba Baka kini kesulitan mendapatkan air bersih. Sehingga air untuk kebutuhan masak dan minum tepaksa numpang di rumah tetangga yang memiliki sumur bor. “Janji PDAM uakan mensuplai kebutuhan air warga, hingga kini belum direalisasikan,” sorotnya.

Selain tanam padi padi, petani ikan di Desa Matua juga mengeluhkan macetnya irigasi. Mereka mengaku, selama dua pekan terakhir ikan-ikan sudah banyak yang mati. “Ikan sudah banyak mati. Saat ini kita hanya mengandalkan sisa air di sungai sekitar untuk menghidupi induk ikan,” keluh Imam, petani setempat. (jw)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid