Hari Kelapa Sedunia Diperingati di Lombok

COCONUT TRADE FAIR: Sejumlah stand kerajinan pelaku UMKM asal Lombok Utara yang murni berbahan baku dari kelapa saat Coconut Trade Fair 2016 di Pantai Klui, KLU, Sabtu (3/9) (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

TANJUNG—Kabupaten Lombok Utara terpilih sebagai pusat peringatan hari kelapa sedunia tanggal 2 September 2016. Pantai Klui, Kecamatan Pemenang ditunjuk sebagai tempat peringatan Hari Kelapa Sedunia yang diisi dengan pameran Coconut Fair Trade, Sabtu (3/9).

Pameran yang diikuti puluhan perusahaan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk perusahaan dari merk ternama nasional juga ambil bagian dalam Coconut Fair Trade yang dihadiri Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Miskin, Direktorat Pennggulangan Kemiskinan Bappenas RI, Woro S.Sulistyaningrum, Asisten III Setprov NTB, H. Baharuddin, Kepala Bappeda NTB, H. Ridwansyah dan juga perwakilan dari Kedubes Australia untuk Indonesia, Murray O’Hanlon serta sejumlah pejabat dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian RI.

Pelaksanan Coconut Fair Trade 2016 di Pantai Klui, Pemeng, Lombok Utara tersebut merupakan peringatan hari kelapa internasional yang pertama dilaksanakan di Indonesia dan dipusatkan di KLU, Provinsi NTB.

Menurut Sulistyaningrum, Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia. Hanya saja sampai sekarang ini, nilai tambah petani kelapa di Indonesia secara umum masih jauh dari harapan. Padahal, potensi kelapa sebagai sumber ekonomi di Indonesia begitu besar. Karena hampir semua yang ada di kelapa itu bisa dimanfaatkan dan dijadikan bahan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi.

“Sebagai produsen kelapa terbesar di dunia, sudah waktnya kita menggalakan kesadaran dari semua pelaku pasar akan potensi sektor kelapa yang sangat besar di Indonesia,” kata Sulistyaningrum.

Dikatakan, Pulau Lombok potensi kelapa begitu sangat besar. Namun ternyata belum secara optimal dikelola dengan baik karena berbagai faktor, diantaranya pasar yang belum dikelola secara baik, serta kondisi pohon kelapa yang cukup tinggi, terkadang membuat petani enggan memetik buah kelapa mereka.

“Pemerintah bekerjasama dengan Australia menginginkan petani kelapa yang berasal dari keluarga miskin bisa meningkatkan kesejahteraan mereka melalui berbagai program yang dijalankan Prisma,” harap Sulistyaningrum.

Sementara itu, Murray O’Hanlon, menambahkan pada tahun 2016, kerjasama Indonesia – Australia melalui PRISMA ((Partnership for Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture) telah membantu petani kelapa yang ada di KLU sebanyak 5.000 orang petani. mereka diberikan pelatihan dan pendampingan termasuk juga memberikan bantuan pupuk untuk produktifitas dari kelapa petani. “Lombok memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan produksi kelapa,” kata Murray O’Hanlon.

Pemerintah Australia bekerjasama dengan Indonesia melalui Departement of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Prisma mempunyai sasaran untuk meningkatkan pendapatan bersih 300.000 orang petani kecil baik laki-laki maupun perempuan sebanyak 30 persen  pada akhir tahun 2018. Program tersebut berfokus diberbagai sektor pertanian di wilayah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, NTT, Papua dan Papua Barat. (luk)