Kesuksesan Pengepul Kelapa di Lombok Utara

Kesuksesan Pengepul Kelapa di Lombok Utara
PENGEPUL KELAPA: Karyawan H Tafsir yang bekerja sehari-hari tengah menjemur daging kelapa. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Kekayaan Lombok Utara dengan pohon kelapa menjadi sumber daya alam (SDA) yang menjanjikan bagi masyarakat yang ingin bergelut di bidang eksportir kelapa. Seperti yang ditekuni H Tafsir warga Desa Sigar Penjalin Kecamatan Tanjung bertahun-tahun, ia menjadi pengepul pertama di Lombok Utara.  


HERY MAHARDIKATANJUNG


HAJI Tafsir sudah menggeluti berbagai usaha sejak usianya masih belia. Mulai menjadi buruh serabutan, pedagan asongan keliling mengendarai sepeda, dan usaha lainnya yang gonta-ganti. Ia terus berupaya menghidupi dirinya sehari-hari dengan berusaha walau hanya menghasilkan seribu rupiah. “Yang penting berusaha tidak menipu dan usaha halal,” kenang kakek yang berusia 67 tahun kepada wartawan koran ini saat ditemui di kediaman yang tengah beristirahat.

Meskipun ia dalam kondisi sakit, ia menerima wartawan koran ini dengan penuh canda tawa dan terbuka menceritakan perjalanan dalam mengarungi duka-cita menjadi pengusaha serabutan hingga menjadi pengusaha sukses. Seiring perjalanan waktu, sambungnya, pada tahun 1981 di tanah kelahirannya Desa Silir Derajat Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur dengan modal Rp 3 juta. Ia mencoba usaha kelapa dan berhasil menguasai tiga kecamatan di Banyuwangi sebagai pengepul kelapa. “Alhamdulillah pada waktu itu, saya berhasil menguasai tiga kecamatan menjadi pelanggan dan kekurangan stok,” tuturnya dengan logat Jawa mengingat masa sulit bersama orang tua yang tidak berada.

Setelah itu, pada tahun 1983 ia memutuskan mencari stok ke sejumlah daerah mulai dari berkeliling Irian Jaya dan Papua, namun menurutnya tidak cocok. Sehingga ia memutuskan ke pulau Lombok, karena ia mendapatkan informasi banyak pohon kelapa. Berkeliling ke sejumlah daerah, ia tidak membawa istri dan anaknya. “Tiba di Lombok, pada tahun yang sama. Saya menyewa kos di Rembiga, lalu berkeliling ke sejumlah kabupaten yang ada di Lombok mulai dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat. Lombok Utara dan Kota Mataram masih bergabung dengan Lombok Barat,” terangnya.

Menginjakan kaki di Lombok Utara ini, dengan kondisi jalan yang rusak dan rawan ia berjalan kaki berkeliling dari satu desa ke desa lain melihat pohon kelapa dan menawarkan pembelian dengan harga yang dikasih Rp 15 rupiah per biji dan paling mahal Rp 25 rupiah. Memang pada waktu itu, ia sudah memiliki kendaraan namun dengan kondisi jalan di Lombok Utara ini dan tidak ada jembatan penghubung seperti di Kecamatan Bayan. “Menderita saya dulu,” ucapnya kakek yang ramah mengaku tidak pernah bersekolah ini.

Setelah mendapatkan barang, ia langsung mengirim ke Surabaya dengan ekspedisi Lombok-Surabaya Rp 60 ribu. Pada waktu itu masih menjual kelapa secara gelondongan menggunakan truk fuso. Seiring perjalanan waktu, ia menetap di Lombok Utara menjalankan bisnis dengan mengambil barang dulu, setelah laku baru dibayar. “Yang saya tanamkan saling kepercayaan dan tidak menipu, makanya di sejumlah tempat yang kunjungi bertahun-tahun sampai sekarang masih mengingat saya,” tandasnya.

Saat ini, Tafsir mampu mengirim kelapa dalam sehari satu sampai dua truk fuso yang bermuatan 10 sampai 14 ribu biji kelapa yang dikirim ke seputaran Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika dihitung per biji Rp 3 ribu, maka dalam sehari uang yang berputar antara Rp 30 juta sampai Rp 42 juta, jika ditotalkan dalam sebulan kisaran Rp 900 juta sampai Rp 1,2 miliar lebih. “Mengirim itu tergantung rezeki, sekarang itu satu hari bisa satu fuso,” terangnya kakek empat cucu ini.

Dari usahanya ini, ia mampu mempekerjakan 85 orang warga setempat yang sehari-hari mengangkut, menaikan, dan sebagian mengupas kelapa. Selain menjual gelondongan, saat ini ia juga telah menjual daging kelapa diolah menjadi kopra yang nantinya dipasok ke pabrik-pabrik pembuatan minyak kelapa, jajan dan bambu yang dikirim ke Surabaya dan Klaten, sedangkan serabutnya dijual di lokal untuk bakar bata dan genting di seputaran Lombok.

Dari hasil usahanya ini, ia membiayai anak-anaknya memperoleh pendidikan, anaknya yang bungsu Rino Kurniawan menjadi anggota polisi yang bertugas di Polda NTB, anak kedua Hasyim Efendi membantu usahanya di Lombok, dan anak ketiga Wiwin diam di Jawa. Ibu dari anak-anaknya sudah meninggal pada tahun 2003 silam, dan sekarang ia tinggal bersama istri kedua Siti Maesarah. “Saya sampai sekarang masih bolak-balik ke Surabaya,” ucapnya.

Selain itu, ia telah banyak memberikan motivasi kepada masyarakat Lombok Utara yang sekarang telah banyak menjadi pengepul seperti dirinya. Satu hal ia selalu tekankan tekun dalam berusaha, dapat rezeki harus bersyukur dan jika tidak dapat harus bersabar. “Saya memilih menjadi pengepul kelapa, karena kelapa tidak habis dan tidak mengenal musim. Berbeda dengan usaha pertanian seperti padi, kedelai dan lainnya. Tapi, saya juga mengembangkan usaha buah-buahan dengan mengambil dan mengirim di Jawa Barat,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu pekerja Wel mengakui bersyukur bisa bekerja sehari-hari di H Tafsir. Ia sendiri sudah bekerja lima tahunan, ia sehari-hari bekerja mengangkat, menurunkan dan mengupas kelapa setiap harinya. Dalam sehari bisa mendapatkan Rp 200 ribu. “Gaji dengan segitu cukup,” ucapnya bersyukur. (**)