Harga Kedelai Melambung, Perajin Tahu Tempe Terancam Bangkrut

KEDELAI MAHAL : Perajin Tahu dan Tempe di Kota Mataram terpaksa memperkecil ukuran produknya, imbas kenaikan harga bahan baku kedelai. (RATNA / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Menjelang akhir tahun harga kedelai kembali merangkak naik. Naiknya harga kedelai tersebut, membuat perajin pengusaha tahu dan tempe menjerit. Pasalnya, meski harga bahan baku naik, namun perajin tidak bisa serta merta menaikkan harga tahu dan tempe. Kondisi ini kemudian membuat perajin terancam merugi.

Salah satu perajin tahu di Lingkungan Kekalek Gerisak Kota Mataram Rusdi mengatakan harga kedelai terus meningkat. Saat ini harga kedelai lokal sudah tembus di angka Rp14.500 per kilogram dan kedelai impor seharga Rp 13.500 per kilogram. Harga kedelai terus melonjak dari harga sebelumnya hanya Rp11.700 per kilogram.

“Harga tidak pasti, dengan harga kedelai lokal yang mencapai Rp14.500 per-kilogram dan harga kedelai impor Rp 13.500 per kilogram. Kita terpaksa mengurangi produksi dan mengecilkan ukuran,” kata Rusdi ditemui Radar Lombok di rumah produksinya, Kekalek Gerisak, Kamis (24/11).

Dikatakannya, sebelun harga kedelai naik, dalam sekali produksi terbanyak mampu menghabiskan sekitar 80-100 kilogram kedelai, dengan produksi tahu sebanyak 25-30 papan per hari. Namun setelah kenaikan harga kedelai yang cukup drastic, maksimal hanya mampu memprodukasi sekitar 15-17 papan dengan menghabiskan 70 kilogram kedelai per hari. Bahkan angka tersebut saat permintaan konsumen sedang tinggi. Sedangkan saat permintaan tahu sedikit pihaknya hanya bisa memprodukai 60 kilogran per hari dengan ukuran yang juga diperkecil.

Baca Juga :  Bappenda NTB Perpanjang Insentif PKB Hingga 31 Desember 2022

Rusdi menyebut ia terpaksa mengambil langkah ini agar omzet penjualan yang didapatkan tidak mengalami penurunan terus menerus. Karena tidak mungkin menaikkan harga tahu secara mendadak. Hal itu justru dapat mengurangi pelanggan tahu miliknya.

“Yang buat tahu kan bukan saya saja, tapi banyak di lingkungan Kekalek. Takutnya pada kabur ke yang lain,” keluhnya.

Tak jauh beda dengan Rusdi, perajin tempe di Kekalek Jaya Siti Aisyah juga mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan terpaksa mengecilkan ukuran tempe yang diproduksinya. Mengingat harga kedelai yang biasa ia beli naik hingga Rp 1.500 lebih.

Baca Juga :  Hingga September, Laporan Kasus PHK Meningkat

“Sekarang kami beli kedelai di Koperasi Rp 13 juta lebih per ton. Biasanya tidak segitu walaupun kami dapat subsidi,” ujarnya.

Akibatnya Aisyah terpaksa mengecilkan ukuran tempe untuk meminimalisir kerugian. Ia juga mengaku saat ini omzet berkurang dan memaksa dirinya untuk mengurangi ukuran setiap tempe yang diproduksinya.

“ Alhamdulillah, Konsumen yang biasanya beli pada kami, juga tidak keberatan walaupun ukurannya berkurang sedikit, tapi rasanya tetap sama seperti sebelum,” ucapnya.

Tentang kelancaran pasokan bahan baku kedelai import tersebut. Aisyah memyebut tidak ada masalah. Pasokan kedelai impor selalu tersedia di koperasi tempat dia biasanya membeli sepanjang modal masih ada.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk memberikan solusi terbaik terhadap naiknya harga kedelai ini. Agar pengrajin yang membutuhkan bahan baku kedelai dapat menjalankan usahanya dengan normal seperti dulu,” harapnya. (cr-rat)

Komentar Anda