Derita Makmur, 17 Tahun Merasakan Sakit Tumor Maksila

Derita Makmur, 17 Tahun Merasakan Sakit Tumor Maksila
TUMOR MAKSILA: Makmur, salah seorang warga yang didiagnosa mengidap penyakit tumor maksila saat ditemui di kediamanya, pekan lalu. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

Keterbatasan ekonomi memang selalu menjadi kambing hitam atas penyakit menahun yang diderita sebagian masyarakat selama ini. Tak terkecuali Makmur, warga Dusun Selandung Desa Sukaraja Kecamatan Praya Timur. Sudah 17 tahun mengidap penyakit tomur maksila (tumor rahang).


HAERUDDIN & SAPARUDDIN-PRAYA


WAJAH Makmur terlihat membengkak dan pucat. Terutama pipi kirinya yang sudah tak lazim. Letaknya bukan di samping lagi, melainkan sudah maju ke depan. Hidungnya juga demikian. Kedua lubangnya sudah mengarah ke kanan seper berbelok. Begitu juga dengan rahang dan giginya sudah mulai menganga dan tampak jelas terlihat.

Iya, begitulah kondisi wajah Makmur sejumlah awak media mengunjunginya di rumahnya, pekan lalu. Benjolan akibat tomur maksila yang dideritanya betul-betul sudah merusak wajahnya. Apalagi, umur tumor itu bukan sehari dua. Melainkan sudah 17 tahun.

Penyakit itu juga yang membuat Makmur tak bisa jauh dari sehelai handuk. Kain itu selalu ia gunakan untuk mengusap air liurnya yang terus meleleh. Karena sejak penyakitnya itu semakin membengkak, Makmur tak bisa meludah. Begitu juga dengan makan, ia harus mencicipi makanan lunak.

Meski demikian, Makmur mengaku harus tetap beraktivitas untuk mengurangi rasa sakit penyakitnya. Makmur mengaku, penyakitnya sudah tumbuh sejak tahun 2001 silam. Awalnya, benjolan di pipinya hanya sebesar biji kedelai. Makmur pun tidak mengacuhkannya.

Ia kemudian merantau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia tahun itu. Di negeri jiran itu, benjolan itu semakin membesar. Hingga teman Makmur yang memperhatikan wajahnya memberi tahu, bahwa wajahnya besar sebelah. Makmur pun akhirnya memilih pulang setelah wajahnya mulai berubah akibat benjolan itu.

Ia pulang mencari obat. Mula-mulanya, Makmur hanya mengandalkan obat tradisonal. Ia ke sana kemari, pontang-panting mencari dukun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Tak hanya di Pulau Lombok tapi juga sampai ke Sumbawa. Tapi, penyakit Makmur tak kunjung sembuh. Malah, semakin membengkak.

Bahkan, rahang gigi kiri atas sudah mulai berpindah ke depan. Sementara gigi depannya mulai rontok. Ironisnya, tak sedikit dukun yang menipunya hingga Makmur harus berutang. “Ada juga dukun menjanjikan kesembuhan pada saya, bahkan dukun itu bisa menentukan kapan saya sembuh. Saya kemudian disuruh membayar uang Rp 300 ribu dan menjalani berbagai macam ritual yang diinginkan, tapi nyatanya hingga saat ini saya tidak sembuh-sembuh,” tuturnya.

Dalam himpitan ekonomi, Makmur pun akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke dokter tahun 2015. Oleh dokter kemudian didiagnosa dan dinyatakan mengidap penyakit tomur maksila (rahang). Dokter pun menyarankan agar Makmur segera menjalani operasi. Namun, karena beban mental yang belum siap sehingga operasi itu urung dilakukan. ‘’Saya tidak siap operasi karena masih memikirikan kebutuhan akan kehidupan anak-anak saya seteah operasi,” keluhnya.

Kini, wajahnya semakin membengkak bahkan keseharianya terus merasakan rasa sakit. Untuk menghilangkan rasa sakit itu dia awalnya menjadi seorang pengojek, namun karena saat ini wajahnya sudah sangat membesar sehingga dia beralih perofesi. “Saya setiap hari bekerja membuat bata, selain untuk kebutuhan keluarga tapi dengan bekerja membuat muka saya tidak sakit,” katanya.

Tiada hari waktunya tanpa membuat batu bata. Dari 250 biji bata yang dibuatnya, dia bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu. Bata 250 biji itu juga tidak bisa dikerjakan hanya dalam kurun waktu sehari, akan tetapi paling lambat dua hari bahkan hingga tiga hari. ‘’Dari membuat bata saya bisa menghidupi anak saya saat ini,”ujarnya.

Bapak dua anak itu saat ini mengaku bisa makan hanya dengan nasi bubur. Setiap malamnya dia harus merasakan kesakitan yang begitu pedih. Namun di satu sisi dirinya harus tetap mencari uang untuk membiyayai anaknya yang masih duduk di bangku SMP. ‘’Kalau anak saya yang pertama sudah kawin, tapi anak yang kedua ini masih SMP,” bebernya.

Bertumpukan penyakit itu, Makmur kini harus tetap menanggung beban memikirkan masa depan anak keduanya. Utangnya semakin hari kian menumpuk, sementara tubuh semakin lemah. Dia berharap nanti akan ada kuasa Tuhan agar dirinya bisa kembali hidup normal, sehingga bisa menghidupi keluarganya. ‘’Kalau masalah operasi saya masih mikir-mikir karena kebetulan saat ini ada juga yang mau membiyayai untuk operasi,” tambahnya. (**)