CERITA TAUFIQURRAHMAN, MAHASISWA ASAL LOMBOK YANG KULIAH DI RUSIA

Tetap Prioritaskan Kuliah Meski Ikut Merasakan Sanksi Ekonomi Rusia

MAHASISWA: Inilah Taufiqurrahman, salah satu Mahasiswa asal Lombok, NTB yang saat ini sedang menimba ilmu di Russian State Social University, Moskow. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

Kondisi Rusia yang menginvasi Ukraina menjadi perhatian dunia. Tak terkecuali para warga asing yang berada di Rusia maupun Ukraina mulai merasakan efeknya. Seperti yang dialami salah satu mahasiswa asal Lombok, NTB Taufiqurrahman yang kini menimba ilmu di Rusia.


NASRI BOEDJANA-MATARAM


RUSIA tercatat hampir sudah dua pekan melakukan invasi ke Ukraina. Sontak, keadaan ini menjadi perhatian global. Lantaran dampaknya mulai terasa, baik di Ukraina maupun di Rusia. Untuk Rusia sendiri, dampak yang paling dirasakan warganya, termasuk warga asing adalah sanksi ekonomi oleh negara barat terhadap Rusia. “Sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina mulai 24 Februari 2022 lalu, berbagai sanksi dari negara negara barat dirasakan warga Rusia. Tak terkecuali kita sebagai Mahasiswa asal NTB mulai merasakan dampaknya,” beber Taufiq via sambungan telepon, Kamis (10/3).

Diakui pria 26 tahun ini, semua yang berada di Rusia mulai merasakan kesulitan bertransaksi keuangan. Kenaikan harga pangan hingga terhambatnya proses pendidikan yang dijalani sebagai mahasiswa Rusia. Sejumlah dampak yang dirasakan seperti antrian yang panjang di sejumlah ATM. Hal itu dirasakan tiga hari pertama sejak invasi.

Beberapa ATM di sejumlah kota di Rusia bahkan tidak bisa mengambil uang cash, bahkan sampai ATM tersebut kehabisan stok uang. Penyebabnya adalah karena bank–bank di Rusia dikeluarkan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) yang merupakan jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia.

BACA JUGA :  Kisah Baiq Nuril Terdakwa Pelanggaran UU ITE Saat Menjalani Hidup di Tahanan

Tidak hanya itu, naiknya harga sejumlah bahan pokok juga menjadi kendala. Beras yang semula seharga 110 Rubel menjadi 125 Rubel. Diketahui, Rubel (mata uang Rusia) sendiri telah kehilangan lebih dari 40 persen nilainya terhadap Greenback sejak awal tahun dengan kerugian yang meningkat tajam sejak Rusia menginvasi Ukraina. Hal tersebut sebagai bentuk isolasi dari negara-negara lain terhadap Rusia dari pasar keuangan internasioanal.

Bahkan penjualan beberapa brand merek terkenal seperti Zara H&M dan IKEA di banned. Karena Amerika melarang adanya produk import maupun ekspor Rusia. Kesulitan kesulitan itu dirasakan oleh salah satu mahasiswa asal Lombok, NTB Taufiqurrahman yang kini menimba ilmu di Russian State Social University, Moskow. “Suasana memang tegang, tapi kita di Rusia tetap tenang dan tetap prioritaskan pendidikan yang sedang kita tempuh,” katanya.

Terlepas dari berbagai sanksi yang terjadi, pria yang menguasai lima bahasa ini mengaku masih dalam kondisi yang tenang. Terlebih staf dari KBRI di Moskow juga tetap mengimbau dan memastikan bahwa kondisi Rusia untuk mahasiswa internasional khususnya asal Indonesia masih sangat layak untuk melanjutkan aktifitas belajar di negara Beruang Merah tersebut.

Taufiq yang juga alumni Unram ini menyebut, sejauh ini belum ada masalah yang mengarah kepada keamanan fisik. Hanya berkutat di sanksi ekonomi dan merasakan stok kebutuhan yang mulai mahal saja. “Kami minta doanya warga NTB, semoga kami tetap dalam keadaan baik-baik di Rusia,” pintanya.

BACA JUGA :  Geliat Kerajinan Kain Tenun Peringgasela

Kuliah dengan jalur beasiswa melalui LPP NTB ini, Taufiq yang besar di Desa Lingsar, Lobar ini mengambil jurusan Hubungan Internasional, sama seperti saat mengambil S1 Unram. Untuk proses kuliah, sejauh ini masih aman. Bahkan kelas tatap muka dan online tetap berjalan lancar. Taufiq yang tiba di Rusia pada 2021 lalu, mengakui mengalami perubahan cukup drastis setelah terjadi ketegangan Rusia dengan Ukraina.

Namun demikian, proses pendidikan yang sedang ditempuhnya harus tetap menjadi prioritas, selama kondisi Rusia tetap terkendali seperti saat ini. Adapun untuk memastikan kondisi tetap aman, Taufiq bersama sejumlah mahasiswa asal Indonesia lainnya diminta tetap melakukan koordinasi dengan pihak KBRI  di Moskow. “Saya tinggal di asrama mahasiswa, di Moskow. Jadi update info tidak pernah kita ketinggalan,” lanjutnya.

Sementara itu, untuk kebutuhan pokok yang menjadi kebutuhan dasarnya. Taufiq yang juga alumni Ponpes Nurul Haramain ini mengaku, sebelum jauh jauh hari terjadinya sanksi ekonomi terhadap Rusia. Ia bersama teman mahasiswa lainnya sudah menarik uang sebagian untuk keperluan kebutuhannya. Sehingga untuk keperluan pribadi sampai saat ini disebutnya masih aman.

Adapun LPP NTB sebagai lembaga penyelenggara beasiswa NTB sendiri, disebutnya sejauh ini masih memberikan pilihan sepenuhnya kepada para mahasiswa untuk melanjutkan study mereka selama susana dirasa masih kondusif. “Insyaallah kita disini baik-baik dan aman. Semoga kita semua tetap selamat,” tutupnya. (**)