Broker Kamar Hotel Sulit Dikendalikan

H Nizar Denni Cahyadi (ALI/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Seri ke 11 balapan World Superbike (WSBK) akan dilaksanakan di Sirkuit Mandalika, November mendatang. Namun kekhawatiran mulai muncul berkaitan dengan potensi meningkatnya tarif kamar hotel saat balap kuda besi tersebut berlangsung.

Kota Mataram sebagai salah satu daerah penyangga turut mengkhawatirkan melonjaknya tarif kamar hotel. Seperti yang terjadi saat balapan MotoGP Maret lalu. Harga kamar hotel melonjak drastis.

Melonjaknya tarif kamar hotel ini diduga kuat ulah atau permainan broker. “Kira-kira ini seperti broker lah (yang bermain),” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H Denni Nizar Cahyadi di Mataram, kemarin (4/8).

Modus atau permainan broker dengan memborong kamar hotel yang dijual online. Setelah itu, kamar dijual lagi kepada pembeli. Harganya pun meningkat tiga kali lipat seperti yang terjadi di MotoGP beberapa waktu lalu. “Seperti itu kira-kira caranya,” katanya.

Denni mengakui, modus seperti ini sudah dilakukan sebelumnya. Prakteknya pun sulit dikendalikan, terlebih oleh daerah. “Sulit itu. Karena kan bukan ranahnya kita untuk mengendalikan itu. Mungkin dari pusat yang bisa mengendalikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Realisasi Mall Pelayanan Publik Dipertanyakan

Terkait dengan modus seperti ini. Pemerintah daerah berupaya mencari solusi. Tujuannya tentu agar warga luar daerah tidak jera datang ke Mataram dan lainnya. Pemerintah provinsi pun diminta lebih aktif menekan modus tersebut.

“Kita dari Kota Mataram mendukung agar pemerintah provinsi juga dapat mengintervensi harga-harga kamar. Bukan hanya di Mataram tapi se Pulau Lombok ini. Apapun peraturan yang dikeluarkan provinsi. Tentunya kami taati dan ikuti,” jelasnya.

Mengacu saat pelaksanaan MotoGP Maret lalu. Ulah broker membuat kamar hotel melonjak tiga kali lipat. Padahal pihak hotel sudah meningkatkan harga kamarnya. Tetapi broker tetap mencari keuntungan yang lebih banyak lagi. “Kemarin itu sampai tiga kali lipat kenaikannya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Mobil Dinas Dilarang Pakai Pertalite

Denni menambahkan, ulah broker ini sangat menghawatirkan. Selain itu bisa merusak image pariwisata daerah. “Kita kan tidak tahu siapa yang mempermainkan ini. Mereka tidak kelihatan tapi memainkan harga,” terangnya.

Saat pelaksanaan MotoGP Maret lalu. Peraturan Gubernur (Pergub) NTB Nomor 9 tahun 2022 tentang penyelenggaraan usaha jasa akomodasi. Pergub ini untuk mengantisipasi adanya penyelenggara usaha akomodasi yang mengeluarkan tarif terlampau mahal.

Pergub juga mengatur batas atas dan batas bawah penginapan saat MotoGP berlangsung. Namun untuk penginapan atau hotel yang dekat dengan lokasi penyelenggaraan bisa menaikkan harga kamar sampai tiga kali lipat.

“Tetapi kalau kita (Mataram) jauh dari lokasi. Sebaiknya naiknya itu tidak terlalu signifikan. Boleh mereka menaikkan. Cuma kan acuannya pergub itu. Owner hotel juga tahu itu dan faham sekali dan bukan mereka yang menaikkan harga,” pungkasnya. (gal)