Bocah dengan Kulit Bersisik Butuh Bantuan

Bocah dengan Kulit Bersisik
PENYAKIT KULIT: Ahmad Sahram, 8 tahun, asal Desa Kalibambang, Kecamatan Aikmel, terpaksa tidak bisa menikmati sekolah, lantaran penyakit kulit yang diderita sejak umur tujuh bulan. (JALALUDIN/RADAR LOMBOK)

SELONG — Ahmad Sahram, 8 tahun, warga RT 2, Dusun Kalibambang, Desa Kalibambang, Kecamatan Aikmel, Lotim menderita kelainan pada kulitnya sejak berusia tujuh bulan.

Di sekujur tubuhnya tumbuh bintik-bintik hingga berbentuk sisik. Akibat penyakit yang diderita ini, dia tidak bisa mengenyam pendidikan layaknya anak-anak seusianya. Praktis selama delapan tahun, anak malang ini hanya menghabiskan waktunya di rumah saja.   Selama ini, Sahram diasuh nenekanya, Papuq Rian, 70 tahun. Orangtua Sahram sejak lama bercerai. Ibunya saat ini bekerja di Bali.

Menurut keterangan Papuq Rian,  Sahram dikatakan telah mengidap penyakit kelainan kulit ini sejak berusia sekitar tujuh bulan. Awalnya muncul benjolan atau bintik-bintik kecil seperti jerawat yang banyak tumbuh pada sekitar bahu dan kaki bagian paha.  Lambat laun membesar, hingga kemudian pecah-pecah dan berair, yang kemudian membuat cucu kesayangannya ini merasa kesakitan dan tidak dapat mengenakan pakaian. “Awalnya hanya sedikit yang tumbuh di badan dan kakinya, namun kemudian menjalar ke seluruh tubuh,” katanya pada Radar Lombok saat ditemui di rumahnya, belum lama ini.

Dia mengaku awam tentang kesehatan, sehingga menganggap penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan pengobatan tradisional. Sehingga berbagai tempat dan dukun berobat telah didatangi, namun tidak juga membawa hasil. Penyakit cucunya ini terus tumbuh hingga masih diderita sampai saat ini.

Sahram dikatakan memiliki kakak, namun kakaknya normal dan tidak mengidap penyakit seperti Sahram, sehingga kini ia bisa sekolah. “Sudah beberapa bulan ini, semenjak Sahram dibawa oleh Pak Kadus dan Kepala Desa berobat ke Rumah Sakit di Selong, sudah tidak tumbuh lagi,” katanya.

Namun meski tidak tumbuh bintik-bintik lagi, tetapi bekas bintik yang pecah dan berair itu masih tetap menempel, menyatu dengan kulit, sehingga terlihat sekujur tubuhnya bersisik hitam. “Biasanya kalau sudah kering dan mengeras, serta terkupas, akan tumbuh lagi yang baru, serta pecah, bahkan bernanah,” imbuhnya.

Kalau sudah begini, dia mengaku sangat miris melihat penderitaan cucunya yang kesakitan  dan  tidak bisa nyaman duduk ataupun tidur. Sehingga terkadang tidak kuat menahan bau yang ditimbulkan akibat cairan pada benjolan yang pecah dan bernanah tersebut. Papuq Rian mengaku dia ingin sekali melihat cucunya bisa bermain bebas bersama anak-anak seusianya. Akan tetapi cucunya itu selalu menghindar, lantaran merasa minder dengan penyakitnya. “Ia ingin sekali bermain bebas dan juga sekolah, akan tetapi kondisinya tidak memunginkan. Sehingga saya juga takut dia akan dihina dan diejek teman-temannya, sementara dia tidak bisa membela diri,” katanya.

Kepala Dusun (Kadus)  Kalibambang, Supiandi mengatakan pihaknya telah menguruskan surat-surat yang diperlukan untuk pengobatan, termasuk BPJS. Sehingga nantinya bisa mendapatkan layanan kesehatan agar bisa sembuh dan bersekolah. “Kita sudah membawanya ke Puskesmas, kemudian dirujuk ke RSUD Selong, hingga kini ada sedikit perubahan, meski belum smbuh. Namun kita berharap penyakitnya tidak tumbuh lagi, sehingga dia bisa sekolah nanti,” harapnya.

Pihaknya juga berharap, agar anak ini diperhatikan pemerintah, agar mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik, dan bisa sembuh total, sehingga bisa bersekolah,. Karena saat ini umurnya sudah 8 tahun. Apalagi ketika melihat Sarham saat ini hanya diasuh oleh neneknya yang sudah renta, dengan kondisi yang juga sangat memprihatinkan. Pihaknya berharap ada “dermawan” yang dapat membantunya, sehingga Sahram mendapat hidup layak dan bisa mengenyam pendidikan semestinya. (lal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid