Berkesenian Cilokak Itu Bukan Soal Materi

LAZIMNYA seniman tradisi, aktifitas berkesenian yang dilakukan tentu bukan soal memburu materi. Namun lebih pada kepuasan hati, setelah kesenian yang dimainkan banyak mendapat apresiasi dari penonton.

Demikian para seniman Cilokak, salah satu kesenian tradisional Lombok yang meskipun di perkotaan keberadaannya mungkin sudah mulai ditinggalkan. Tetapi di perdesaan kesenian yang satu ini tetap masih diperhitungkan, bahkan sangat populer.

“Saya mewarisi keahlian kesenian Cilokak ini dari orang tua saya, yang juga menerima warisan dari kakek saya. Jadi sudah turun-temurun keluarga saya berkiprah sebagai seniman Cilokak. Kini, keahlian ini juga menurun kepada empat anak saya,” kata Amaq Jahri, Pemimpin Grup Cilokak Bunga Mawar, dari Dusun Mateq Maling, Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, ketika ditemui Radar Lombok, usai pentas Festival Cilokak di Museum Negeri NTB, Sabtu (29/10).

Diakui, menjadi seniman tradisi Cilokak itu kalau bukan dasarnya “hobi”, tentu sangat berat. Karena kesenian ini memang tidak bisa menghasilkan secara ekonomi. “Ada bayarannya, tetapi kecil. Sekali pentas, dari malam sampai pagi, bayarannya paling tinggi cuma Rp 3 juta. Bahkan terkadang kita hanya dibayar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta saja, tergantung yang nanggap (tuan rumah pengguna jasa, red),” ujar Jahri.

Kalau untuk sendiri lanjutnya, bayaran sebanyak itu mungkin besar. “Tapi bermain Cilokak itu kan tidak sendirian, tetapi bergrup. Seperti grup saya ini, jumlah anggotanya sebanyak 15 orang. Bayaran segitu dibagi 15 orang, berapa yang didapat masing-masing pemain? Belum lagi biaya perawatan untuk peralatan, dan juga transportasi dari dan menuju lokasi pentas,” tutur Jahri.

Jadi sambungnya, bermain kesenian Cilokak itu karena ingin menyalurkan hobi, hati senang, dan tentu saja banyak pengalaman yang bisa didapatkan. “Hampir seluruh Pulau Lombok ini pernah saya datangi untuk pentas Cilokak. Bahkan kami juga pernah diundang main sampai Sumbawa dan Bima,” jelas Jahri.

Karena itu, mengapa ketika ada undangan untuk mengikuti Festival Cilokak di Museum Negeri NTB, tanpa berpikir panjang Jahri pun langsung menyanggupi untuk datang. “Yang penting ada silaturahmi. Apalagi bertemu dengan rekan-rekan sesama pemain Cilokak dari berbagai daerah di Pulau Lombok, tentu sangat membahagiakan. Makin digalakkan kehadiran kesenian Cilokak ini oleh pemerintah, kami para seniman Cilokak tentu makin giat,” papar Jahri.

Sementara Amaq Songel, Pemimpin Sanggar Seni Kembang Desa, Masbagik, Lombok Timur, yang juga Pemimpin Grup Cilokak Kembang Kegirangan ini menyampaikan, bagi dia berkesenian tradisi itu intinya hanya girang (senang), genem (hobi), dan sebagai penghibur hati. “Bagaimana lagi, bayaran Cilokak kan hanya sedikit, Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta saja. Tapi pengalaman banyak, dan bisa tampil dimana-mana saja itu sudah sangat membahagiakan bagi kami,” tuturnya.

Pengakuan Amaq Songel yang juga Guru di SMPN 3 Masbagik ini, Grup Cilokak yang dipimpinnya bahkan menjadi langganan ketika pemerintah daerah menggelar berbagai kesenian diluar daerah. “Grup kami pernah 4 kali tampil di Taman Mini Indonesia Indah, kemudian di Yogyakarta 2 kali, Bandung 2 kali, dan Bali 3 kali. Selain itu, kami juga pernah tampil di Mabes Polri 2 kali, dibawa oleh Kapolda NTB ketika masih dipimpin Pak Arief Wahyunadi, dan kemudian Pak Moh. Iriawan,” bebernya.

Keikutsertaannya dalam Festival Cilokak Museum Negeri NTB ini, selain niat silaturahmi dengan sesama seniman tradisi Lombok, khususnya Cilokak, sekaligus berharap ada nilai edukasi. “Sebagai Guru di SMP 3 Masbagik, kami juga mengajarkan berkesenian di sekolah. Demikian di Museum NTB kali ini, apa yang kami lakukan bisa dilihat para pengunjung museum, untuk kemudian menginspirasi mereka, dan mau belajar tentang seni tradisi. Sehingga kesenian Cilokak ini bisa terus lestari,” harap Amaq Songel bijak. (gt)