Bendungan Pandandure Memakan Korban

EVAKUASI: Pihak Kepolisian dengan dibantu masyarakat ketika melakukan proses evakuasi terhadap korban tenggelam di Bendungan Pandandure, Rabu kemarin (11/1) (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Masyarakat Desa Embung Raja, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Rabu kemarin (11/1), sekitar pukul 12.00 Wita, digegerkan dengan informasi adanya salah satu anggota masyarakat yang menjadi korban tenggelam di Bendungan Pandandure, saat hendak mengambil ikan di keramba miliknya. Korban, Amaq Kamar, baru ditemukan sekitar pukul 17.00 Wita, namun telah meninggal dunia.

Kronologis kejadian berdasarkan keterangan salah satu temannya, Amaq Mus, yang kebetulan sesama pemelihara ikan di Bendungan Pandandure. Saat itu korban mendapat pesanan ikan dari salah satu pelanggannya sebanyak 5 kilogram. Kemudian Amaq Kamar pun bergegas mengambil ikan di keramba miliknya di Bendungan Pandandure.

Namun ketika mengambil ikan di keramba miliknya yang berada di tengah-tengah dam lanjut Amaq Mus, korban melakukan dengan cara berenang. Sementara Amaq Mus yang tidak kuat berenang, memilih menggunakan perahu, meskipun harus jalan berputar  agak jauh untuk menuju kerambanya.

Ketika korban telah menangkap ikan sebanyak 5 kilogram sesuai pesanan, maka dia pun kembali berenang ke daratan, dengan cara ikan tangkapan diikatkan dipinggangnya.

Namun di pertengahan berenang, tiba-tiba Amaq Kamar sudah tidak terlihat lagi. Amak Mus sempat mendengar teriakan minta tolong dari temannya tersebut. Namun ketika dia menoleh ke lokasi, korban sudah tidak terlihat lagi. Melihat itu, Amaq Mus pun segera berteriak meminta pertolongan kepada warga yang ada di sekitar. “Dia (korban) itu sudah biasa berenang setiap hari menuju lokasi kerambanya. Namun mungkin karena sudah nasibnya,” ujarnya.

[postingan number=3 tag=”pandanduri”]

Pantauan Radar Lombok di lokasi kejadian, berbagai cara dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menemukan korban, mulai dari mendatangkan para dukun untuk menerawang letak jenazah korban, hingga akhirnya bisa ditemukan.

Sementara Kepala Desa Embung Raja, H. Hajar Ibrahim, sebagai perwakilan dari keluarga mengaku telah mengikhlaskan kejadian tersebut. Karena menurutnya, korban benar-benar meninggal dunia dengan cara tenggelam, sehingga tidak perlu dilakukan otopsi.

Hanya saja, ketika dia mencoba membicarakan hal itu kepada petugas kepolisian yang juga hadir ketika proses evakuasi korban, justeru mendapat respon yang tidak mengenakkan. Mereka (polisi) hendak melakukan otopsi, tetapi tidak melakukan koordinasi dengan pihak keluarga dan kepala desa yang ada.

“Kita sudah ikhlas, dan itu tidak perlu di otopsi. Namun kenapa ketika saya cegat, kok dia (polisi) ini mengepung saya, dan mengeluarkan senjata. Saya ini kepala desa, saya berhak melarang. Misalkan otopsi perlu dilakukan, harus ada izin dari keluarga dan saya. Apa ini yang namanya aparat,” kecewanya.

Untuk itu, agar sikap kepolisian bisa berubah, pihaknya akan menghadap Kapolres Lotim, untuk melaporkan sikap anggotanya yang dinilai tidak seperti aparat penegak hukum. “Masak menghadapi orang meningal saja seperti itu. Kita mau bicara baik-baik dicegat sama anggota yang banyak. Hingga mau mengeluarkan senjata. Itu pimpinan operasionalnya tidak tegas menangani kasus,” kritiknya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid