Ahyar-Mori Berupaya Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan

Ahyar-Mori Berupaya Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan
SEJAHTERAKAN NELAYAN: Calon gubernur nomor urut 2 TGH Ahyar Abduh bersama perwakilan nelayan tergabung dalam Jaring Amanat Nelayan NTB (Jaring AMAN NTB, Red saat ) deklarasikan dukungan kepada pasangan calon Ahyar-Mori di pilkada NTB beberapa waktu lalu. (Dok/)

MATARAM – Kekayaan laut yang dimiliki Provinsi NTB, seharusnya membawa kesejahteraan bagi nelayan.  Namun hingga saat ini, masih saja banyak nelayan yang justru hidup di bawah garis kemiskinan. Sektor kelautan belum jadi  prioritas bagi Pemerintah Provinsi NTB. Namun tidak ada salahnya, potensi yang begitu luar biasa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Memajukan pariwisata, itu sudah pasti. Tapi kita juga harus melirik potensi yang lain, salah satunya kekayaan laut kita. Seharusnya sejahtera nelayan di NTB ini,” ujar calon wakil gubernur NTB, H Mori Hanafi, Rabu kemarin (7/3).

Dipaparkan Mori, kesejahteraan nelayan inilah yang menjadi salah satu perhatian dirinya bersama calon gubernur NTB TGH Ahyar Abduh. Mengingat, produksi perikanan laut di NTB setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Namun tidak diiringi dengan tingkat perekonomian nelayan.

Pada tahun 2014, produksi perikanan NTB sebanyak 976.742,73 ton dengan nilai produksi yaitu Rp 3.899.385.238.Kemudian pada tahun 2016 meningkat signifikan menjadi 1.172.425,86 ton dengan nilai Rp 4.732.128.678. “Jadi seharusnya, nelayan memang layak sejahtera dengan kekayaam laut kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, salah satu cara meningkatkan kesejahteraan bisa melalui pembentukan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang bersih dan nyaman. Konsep ini diyakini akan menguntungkan nelayan dan pembeli.

Sebagai provinsi berkarakteristik kepulauan, NTB memiliki dari total 49.312,19 km2 luas wilayah, dengan sebanyak 59,13 persen atau 29.159,04 km2 merupakan lautan. “Dengan kondisi tersebut, kita patut bersyukur karena bisa mengambil manfaat sebaik-baiknya dari lautan yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita makhluknya,”  ucapnya.

Kekayaan laut NTB, bisa menjadi daerah wisata, melakukan budidaya rumput laut, mutiara laut, hingga yang utama yaitu mendapatkan beragam hasil tangkapan. Hasil tangkapan yang dimaksud diantaranya adalah ikan, udang, cumi-cumi dan masih banyak lagi. Hasil tangkapan tersebut didapatkan oleh para nelayan dengan  cara melaut.

Dimana selanjutnya akan ada berbagai pihak, berbagai rantai pemasaran, hingga ikan-ikan tadi sampai ke tangan masyarakat selaku konsumen. Namun jika mau, masyarakat pun dapat membelinya langsung yaitu di TPI.

TPI adalah sebuah pasar yang umumnya terletak di dalam pelabuhan atau pangkalan pendaratan ikan yang digunakan sebagai tempat terjadinya transaksi penjualan ikan serta hasil tangkapan lainnya baik secara lelang atau tidak. Sejak subuh, tempat ini akan ramai oleh mereka yang hendak menjual maupun membeli ikan. Kondisi yang ramai, becek, bau amis, dan terkadang kebersihannya diragukan menjadi pemandangan sehari-hari di tempat tersebut. Sebab yang terpenting adalah berhasil mendapat ikan segar dengan harga yang jauh lebih murah.

Akan tetapi masyarakat yang berpikir demikian tidaklah banyak jumlahnya. Di sisi lain, ada masyarakat yang  tidak masalah membeli dengan harga mahal asalkan bisa berbelanja dengan nyaman.

Kondisi ini menjadi latar belakang yang mendorong pasangan Ahyar-Mori menggabungkan kedua logika ini. TPI yang merupakan pusat pemasaran hasil tangkapan direvitalisasi dan dibuat modern, sehingga masyarakat NTB nantinya dapat berbelanja ikan segar di tempat yang bersih dan nyaman.Ahyar- Mori percaya bahwa sektor kelautan dan perikanan perlu ditanggapi secara serius seperti sektor-sektor prioritas lainnya di NTB.

Selain dengan meningkatkan kesejahteraan nelayan, cara lainnya bisa dimulai dengan melakukan revitalisasi dan modernisasi TPI. Bangunannya dibuat menjadi lebih layak dan disediakan pula Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertanggung jawab mengelola dan melakukan perawatan.

Kondisinya kita jaga agar lebih bersih dan nyaman, selayaknya tempat penjualan ikan yang berada di swalayan. Tidak ketinggalan pula sejumlah fasilitas seperti WC umum dan fasilitas standar lainnya pun disediakan. Dan ya, pasangan Ahyar-Mori juga bermimpi bagaimana hebatnya TPI ini nantinya jika memiliki restoran seafood sendiri.

Setiap harinya, masyarakat NTB selain bisa membeli ikan segar, juga dapat langsung menikmati berbagai menu seafood yang tersedia di restoran. Tidak hanya itu, restoran tersebut juga dapat menarik perhatian para wisatawan yang datang berkunjung.

Maka revitalisasi dan modernisasi TPI  bukan hanya tentang memuaskan para masyarakat yang hendak membeli ikan. Tetapi juga membahagiakan hati para nelayan, yang percaya dengan perubahan demikian tentu akan berpengaruh para besar dan cepatnya perputaran penjualan hasil tangkapan ke depannya. (tim)