2021 Pembelian Tembakau Petani Bakal Merosot

TEMBAKAU : Salah satu petani tembakau asal Lotim sedang memetik daun tembakau untuk diompreng (open), tahun 2020 lalu. ( DOK/ RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pembelian tembakau virginia oleh perusahaan di NTB pada 2021 mulai berkurang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Terlebih munculnya aturan terkait dengan kebijakan dari pemerintah terkait cukai tembakau. Hal tersebut memengaruhi perusahaan untuk bisa menyerap lebih banyak tembakau petani. Dengan demikian, pembelian produksi tembakau petani di tahun 2021 ini bakal merosot.

“Perusahaan itu banyak menahan diri, karena cukai tembakau ini terlalu tinggi bagi mereka,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Muhammad Riadi, kepada Radar Lombok, Selasa (4/5).

Dikatakannya, untuk penyerapan tembakau dari perusahaan, sudah memastikan akan menyerap tembakau petani mitra mereka. Justru dari perusahaan memberikan peringatan kepada pemerintah agar tidak meloby untuk menyerap tembakau petani-petani swadaya.

Selain itu, para pengusaha tembakau juga sudah punya target pembelian, harga rokok, produksi, karena mereka sudah punya hitung-hitungan, sama dengan perusahaan lain. Kalau tidak ada order dari perusahaan rokok, mereka juga tidak mau membeli tembakau produksi petani.

BACA JUGA :  Pajak Sembako Bikin Harga Bapok Semakin Mahal

Berdasarakan data Distanbun Provinsi NTB renacana tanam, produksi, dan pembelian tembakau virginia oleh perusahaan mitra 2021, dari 21 perusahaan yang terdata hanya 16 perusahaan yang sudah menyerap. Realiasai pembelian pada tahun 2020 itu sebanyak 21.279,49 ton, kemudian target luas tanam sebesar 8.246,20 hektar dan produksi 15.836,53 ton. Penyerapan tembakau dari petani binaan sebanyak 3.405 orang dan 2.517 unit ovent.

Saat ini hanya ada beberapa perusahaan saja yang menyerap tembakau para petani, yakni hanya 16 perusahaan dari 21 perusahaan yang ada. Total rencana penyerapannya mencapai 17.328,75 ton dengan petani binaan sebanyak 1.060 ton dan petani swadaya 150 ton. Masing-masing perusahaan sudah memiliki kuota tersendiri berapa banyak tembakau petani yang diserap, baik petani binaan maupun petani swadaya.

Untuk mengantisipasi ini pasti banyak petani swadaya yang diluar tidak diserap produksi tembakaunya. Karena itu, Riadi meminta, ada tempat dari masing-masing perusahaan memberikan elastisitas dari target.

BACA JUGA :  50 Persen Hotel di Mandalika Terpaksa Tutup

“Umpanya dia target 10 ton ada elastisitas 10 persen,” sebutnya.

Menurut Riadi, petani swadaya yang tidak banyak diserap tembakaunya dapat dialihkan dengan menanam komoditi lain yang juga mempunyai nilai ekonomis, tidak hanya pada tembakau saja. Karena, tidak semua petani bermitra dengan perusahaan.

“Kita sarankan jagung untuk ditanam. Jagung itu harganya bagus secara ekonomi tidak merugikan petani. Kalau petani menanam tembakau tanpa mitra, justru mereka yang rugi, kasian petani,” imbuhnya.

Untuk saat ini yang difokuskan pihaknya, yakni bagaimana para petani tidak merugi dan lahanya bisa dimanfaatkan, sehingga kesejahteraannya meningkat. Meskipun memang tujuan menanam tembakau itu meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri, tapi jika tidak ada kepastian harga tidak didapat bermitra sama saja akan merugi.

“Kita harus rasional jangan ikut-ikutan. Jadi kalau tidak ada kepastian harga dan mitra jangan lah menanam tembakau, masih ada komoditi yang lain,” tandasnya. (dev)