12 Negara Ikuti Festival Kitesurf & Traditional Kite di Kaliantan

SELONG—Kegiatan Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dusbudpar) Provinsi NTB selama sebulan penuh, 16 Agustus – 18 September 2016, ternyata tak hanya menyelenggarakan kegiatan seni budaya atau olahraga tradisional khas Lombok Sumbawa saja. Namun juga menggelar sport tourism (olahraga wisata) seperti Kitesurf (berselancar dengan layang-layang), yang berlangsung di Pantai Kaliantan, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Sabtu (27/8).

Kegiatan yang juga disandingkan dengan traditional kite (layang-layang tradisional) warga setempat itu diikuti oleh 15 peselancar dari 12 negara. “Sport tourism Kitesurf ini dilaksanakan di Pantai Kaliantan, sekaligus untuk mengenalkan dan mempromosikan berbagai potensi wisata yang ada pantai Kaliantan, yang panoramanya dikenal sangat indah,” kata Ana, penggagas kegiatan, sekaligus General Manager Hotel Ekas Break.

Menurutnya, komentar dari para peselancar berbagai belahan dunia yang pernah mencoba spot di Pantai Kaliantan, angin dan ombak yang ada di pantai selatan Lotim ini adalah yang terbaik di Indonesia. “Kata mereka para peselancar internasional, hembusan angin di Pantai Kaliantan ini sangat bagus dan konstan sepanjang tahun. Sehingga untuk bermain Kitesurf tidak tergantung musim-musim tertentu,” tutur Ana.

Sementara Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal dalam sambutan menyampaikan apresiasi dan penghargaan setingginya kepada panitia, yang telah menggagas kejuaraan Kitesurf International ini di Pantai Kaliantan. “Bagi kami Disbudpar NTB, Festival Kitesurf & Traditional Kite yang merupakan rangkaian kegiatan BBLS 2016 ini, sekaligus dapat dijadikan ajang promosi kepada para wisatawan. Bahwa di NTB, khususnya di Lombok Timur, ada salah satu pantai sangat indah yang ternyata memiliki potensi besar untuk berkembangnya sport tourism Kitesurf,” jelasnya.

 

FESTIVAL KITESURF: Kepala Disbudpar NTB, HL Moh. Faozal, didampingi Ketua Panitia Festival Kitesurf & Traditional Kite, Ana, ketika melihat secara langsung para peselancar Kitesurf bermain dengan ombak di Pantai Kaliantan.

 

Ibarat “tak kenal maka tak sayang” sambung Faozal. Sebagus apapun potensi yang ada di Pantai Jerowaru, kalau tidak diperkenalkan dan dipromosikan secara terus-menerus, tentu tidak akan ada investor yang membangun. Demikian pula wisatawan, tidak akan ada yang datang karena di lokasi belum ada daya dukung dan fasilitas wisata yang memadai.

“Terpenting, kegiatan BBLS yang menyebar di seluruh penjuru NTB, mulai dari Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga ujung Bima, sekaligus menepis anggapan sebagian orang bahwa BBLS ini hanya digelar di Kota Mataram saja. Bukti nyata ada, kalau berbagai kegiatan BBLS ada tersebar di berbagai daerah. Mungkin tidak bisa merata di semua daerah, karena keterbatasan anggaran. Namun paling tidak daerah-daerah prioritas bisa merasakan, seperti Pantai Kaliantan ini misalnya melalui perhelatan Festival Kitesurf & Traditional Kite,” tutur Faozal.

Kesempatan itu, Kepala Disbudpar NTB ini juga berharap penyelenggaraan Festival Kitesurf & Traditional Kite di Pantai Kaliantan ini bisa dilaksanakan secara kontinyu, sehingga nantinya bisa dimasukkan menjadi agenda pariwisata tahunan Disbudpar NTB. “Mengawali itu memang sulit. Sama seperti penyelenggaraan sekarang ini, dengan keterbatasan yang ada, mungkin baru 15 peserta dari 12 negara saja yang hadir. Namun kedepan, kami berharap bisa dijadikan calender of event Disbudpar NTB, sehingga penyelenggaraan tahun mendatang bisa lebih dipersiapkan, dengan jumlah peserta yang banyak pula. Namun diatas itu semua, sekali lagi saya sampaikan terima kasih dan selamat kepada panitia, dan sukses,” ucap Faozal tulus. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid