Wisatawan Korea Kagumi Keindahan Alam dan Budaya Lombok

Februari 2018, Korean Air Kembali Terbang ke Lombok

Gili Trawangan
Gili Trawangan (foto:tommyschultz.com)

LOTENG — Kerja sama business to business (B to B) antara pengusaha biro perjalanan wisata (travel agent) NTB, dengan travel agent Korea Selatan (Korsel), membawa sekitar 1000 wisatawan Korsel berkunjung ke Lombok, menggunakan skema charter flight (penerbangan sewa) pesawat milik Korean Air, resmi berakhir, Senin kemarin (9/10).

Namun berakhirnya kerjasama B to B antar pelaku usaha biro perjalanan wisata NTB dan Korsel itu, bukan berarti akhir dari kunjungan Wisman Korea Selatan ke Lombok. Pasalnya, setelah ribuan wisman Korsel itu berwisata ke Lombok, ternyata mereka sangat mengagumi keindahan alam dan keunikan berbagai seni budaya Lombok.

“Ada tiga hal yang disenangi Wisman Korea Selatan selama mereka bewisata di Lombok. Pertama mereka sangat mengagumi keindahan alam di Lombok, khususnya panorama alam pegunungan dan pantai. Kedua Wisman Korea tertarik sekali dengan seni dan budaya Lombok. Terakhir, para wisman Korea ini terkesan dengan senyum dan keramahan masyarakat Lombok,” kata Manager Anjani Tour, Kim Hyunki.

WISMAN KOREA
WISMAN KOREA: Manager Anjani Tour, Kim Hyunki, GM PT AP I LIA, Gusti Ngurah Arditha, dan Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal, memberikan keterangan usai melepas Wisman asal Korea Selatan kembali ke negaranya di LIA, Senin (9/10). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

Dari kunjungan 1000 wisatawan Korsel secara bertahap melalui lima kali penerbangan Bandara Incheon – LIA kemarin, ternyata banyak yang terkesan dengan destinasi wisata di Lombok. Sehingga di Korsel sendiri saat ini banyak yang berminat dan tertarik untuk berwisata ke Lombok. “Kalau tidak ada halangan, Februari 2018 mendatang, Korean Air akan kembali terbang ke Lombok membawa para wisatawan Korsel,” ujar Kim.

Harapan Kim, antusias warga Korea untuk berwisata ke Lombok ini, kedepan akan ada penerbangan langsung (direct flight) pesawat dari Korsel ke Lombok, dan sebaliknya. Sehingga biaya paket berwisata ke Lombok yang masih mahal selama ini dapat ditekan seekonomis mungkin.

“Jujur saja, biaya paket berwisata ke Lombok dari Korea, saat ini sama dengan kalau mereka berwisata ke Hawai (Amerika Serikat), mahal. Itu terjadi, karena wisatawan Korsel yang hendak datang ke Lombok, mereka harus transit lebih dahulu di berbagai Bandara,” beber Kim.

Selain itu sambung Kim, dengan waktu liburan wisman Korea yang terbatas, rata-rata lima hari, maka transit di berbagai Bandara lebih dahulu sebelum ke Lombok, akan membuang waktu mereka. “Kalau paket wisata mahal, mungkin itu bukan masalah bagi para wisman Korsel. Karena yang datang berwisata ke Lombok rata-rata adalah golongan menengah atas seperti pengusaha dan lainnya. Namun waktu liburan yang sedikit, kalau tidak langsung ke daerah tujuan, itu akan mengesalkan,” ulas Kim.

Sementara GM PT Angkasa Pura (AP) I LIA, Gusti Ngurah Arditha, pada kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada tiga biro perjalanan wisata yang telah menginisiasi kunjungan Wisman Korea ke Lombok, melalui Bandara di Lombok. “Kesan yang baik, dengan pelayanan maksimal yang telah kita berikan selama ini. Termasuk antusias warga Korea untuk datang berwisata ke Lombok. Maka ini dapat menjadi bahan bagi pihak maskapai seperti Korean Air, untuk terbang secara reguler (langsung) ke Lombok,” ujarnya.

Mengembangkan kepariwisataan Lombok sambung Arditha, tentu butuh kerja sama yang baik antar para pihak. Terkait itu, pihak PT AP I LIA sendiri juga terus berinovasi untuk meningkatkan pelayanan, maupun sarana dan prasarana di LIA. “Tahun ini Terminal LIA yang saat ini seluas 21 ribu meter persegi, akan ditambah sebanyak 20 ribu meter persegi. Usulan telah disetujui pihak direksi, dan tinggal dilaksanakan saja dalam waktu dekat,” beber Arditha.

“Dengan luas terminal 21 ribu meter persegi saat ini, per tahun pergerakan penumpang di LIA ada sebanyak 3,5 juta orang (2016). Sehingga kalau nanti ada penambahan terminal 20 ribu meter persegi lagi, yang rencananya akan dibangun sebelah kanan dan kiri terminal sekarang, maka LIA kedepan bisa menampung 7 juta pergerakan penumpang per tahun,” urai Arditha.

Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal, menyatakan pihaknya akan terus berjuang mempromosikan kepariwisataan NTB, diluar daerah, maupun di luar negeri. Karena sektor kepariwisataan NTB terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat secara langsung.

“ Menariknya lagi, pembangunan kepariwisataan itu juga sejalan dengan konsep lingkungan yang lestari. Coba perhatikan, daerah yang dahulu gersang, ketika pariwisata telah masuk, maka daerah itu akan terlihat hijau dan indah. Pun konsep kepariwisataan kita juga menganut sistem green tourism (pariwisata hijau), sehingga tidak mengorbankan lingkungan,” singkat Faozal. (gt)