Unram Hadirkan Beras Analog Fungsional

Unram Hadirkan Beras Analog Fungsional
BERAS ANALOG: Dekan Fatepa Unram, Prof. Ir. Sri Widyastuti, P.hD, didampingi tim peneliti Beras Analog Fungsional, Dr. Satrijo Saloko, menunjukkan beras alternatif hasil penelitian kerjasama Unram, UGM, Pemkab Lotim dan DKP NTB, Rabu kemarin (7/6). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Trend peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan akan pangan memberikan pengaruh langsung terhadap pentingnya usaha untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Tidak saja dari pangan pokok seperti beras, tetapi juga dari sumber pangan lain seperti jagung, singkong, dan alternatif pangan lainnya seperti penyediaan beras analog.

Fakultas Tekologi Pangan (Fatepa) Universitas Mataram bersama tim peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM), Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB, Pemkab Lombok Timur dan Perguruan Tinggi dari New Zealand menghadirkan ‘Beras Analog fungsional’ yang menjadi beras alternatif bagi masyarakat selain beras yang seperti sekarang ini di konsumsi masyarakat secara umum.

“Beras Analog Fungsional ini memiliki kandungan yang lebih bagus dari beras seperti pada umumnya. Karena tidak hanya untuk kenyang, melainkan untuk kesehatan dan terapi,” kata Dekan Fatepa Unram, Prof. Ir. Sri Widyastuti, P.hD didampingi tim peneliti Beras Analog Fungsional, Dr. Satrijo Saloko, Rabu kemarin (7/6).

[postingan number=5 tag=”beras”]

Dikatakan, kehadiran beras alternatip ini  yakni ‘Beras Analog Fungsional’ menjadi salah satu pilihan masyarakat. Karena sekarang ini kecenderungan dalam perkembangan jenis penyakit degenerative seperti diabetes mellitus, asam urat, osteoporosis, ginjal, kolesterol, hipertensi, jantung dan stroke seringkali memerlukan asupan atau diet khusus yang tidak mampu diatasi melalui pemanfaatan pangan beras.

Kecenderungan ini berimplikasi pada pentingnya pemikiran dan kegiatan dalam rangka pengembangan dan penyediaan pangan alternatif seperti “Beras Analog Fungsional”, yang mampu memenuhi kebutuhan kalori harian, dan pada saat bersamaan akan berfungsi mengendalikan dan menjaga kondisi kesehatan dari jenis-jenis penyakit degeneratif tersebut.

Beras analog yang didefinisikan sebagai karbohidrat non-padi atau campuran dari sumber pangan lainnya memiliki ciri yang serupa dengan padi beras, dengan atau tampa campuran bahan tambahan guna memenuhi fungsi tertentu. Kelebihan atau keuntungan dari beras analog adalah karakteristik organoleptiknya yang mirip dengan beras biasa, dan lebih mudah untuk diolah menjadi produk-produk turunan dengan variasi yang beragam.

Dengan menggunakan sumber-sumber karbohidrat lain seperti jagung, singkong, dan lainnya, sejak tahun 2012 Pemda Lombok Timur melalui UD. Kaya Rasa bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan NTB dan Universitas Mataram telah mencoba pembuatan beras analog namun hasilnya belum memuaskan. Upaya terbaru pembuatan beras analog juga dilakukan oleh Unram berkejasama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB dan berhasil menyusun formula produksi beras analog dalam skala laboratorium.

“Beras Analog Fungsional ini sudah mulai diproduksi dalam bentuk terbatas dengan harga jual Rp10 ribu dengan isi kemasan 250 gram. Beras Analog Fungsional ini bagus untuk terapi penyakit diabetes dan diet kegemukan,” jelasnya.

Sementara itu, tim peneliti lainya Dr Satrijo Saloko mengatakan, mengingat pentingnya upaya peningkatan penghidupan petani melalui peningkatan produksi, pemasaran dan penciptaan nilai tambah atas produk-produk pertanian memalui proses pengolahan ini, dan di sisi lain telah tersedia teknologi  dalam produksi dan pengembangan beras analog. “Kegiatan penelitian dan aksi produksi massal dalam jumlah besar ‘Beras Analog Fugsional ini berlangsung dalam 3 tahun, Juli 2016 Juni 2019,” kata Saloko.

Adapun komposisi beras analog fungsional ini adalah kandungan kadar serat kasar 3,74 persen, kadar air 6,06 persen, kadar protein 6,73 persen, kadar lemak 0,21 persen, kadar abu 1,37 persen, kadar karbohidrat 74,39 persen, kadar antosianin 13,77 ppm, Fe 37,11 persen, Zn 12,39 peren Ca 1277,63 ppm. Sementara bahan dasar /baku dari Beras Analog Fungsional tersebut adalah tepung singkong fermentasi, tepung jagung, tepung kacang gude dan rumput laut.

“Untuk pemasaran beras ini akan ada kerja sama dengan rumah sakit sebagai makanan terapi khusus bagi penderita diabetes dan program diet,” Pungkas Saloko. (luk)

BACA JUGA :  BI NTB Kembangkan Tanaman Cabai Organik