Travel Meringis, Biaya Umrah Tembus Rp 60 Juta

TRAVEL: Perusahaan travel di NTB harus meringis karena mahalnya biaya umrah setelah turunnya kebijakan Pemerintah Arab Saudi (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang membuka pendaftaran umrah pada 9 Agustus 2021 lalu dinilai tidak masuk akal. Pasalnya, ada banyak persyaratan untuk bisa melakukan umrah, terutama jamaah dari Indonesia.

Hal tersebut membuat biaya berangkat umrah justru membengkak hingga Rp 60 juta per orang. Travel umrah di NTB meringis dengan kebijakan tersebut. Tinggi biaya akibat kebijakan diberlakukan, yakni mulai dari tes PCR, karantina di negara ketiga transit, serta jamaah sudah menerima vaksin yakni vaksin pfizer, moderna, astra zeneca dan johnson & johnson. Sementara masyarakat Indonesia lebih banyak diberikan vaksin sinovac. “Yang namanya orang pergi ibadah kalau sudah mau pasti dia berusaha. Tapi yang menjadi persoalan itu,  biayanya tidak masuk akal dan sangat memberatkan jamaah,” kata Ketua Pengurus Persatuan Travel Umrah dan Haji (Patuh) NTB, TGH Turmuzi, Kamis (12/8).

Menurutnya, yang membuat biaya umrah menjadi lebih besar karena habis dijalan. Terutama untuk kesiapan menghadapi pandemi Covid-19, terlebih biaya yang membengkak ini karena ketidakmampuan pemerintah dalam melobi agar biayanya normal seperti negara-negara lain. “Kita berharap dari jamaah tetap bersabar menunggu sampai normal, sampai biaya itu masuk akal. Yang jelas biaya umrah sampai segitu memberatkan masyarakat kita,” jelasnya.

BACA JUGA :  Puan Maharani Dinilai Lebih Menjual di NTB

Diharapkan agar pemerintah Indonesia bisa melobi pemerintah Arab Saudi agar tidak banyak syarat dalam keberangkatan jamaah umrah. Seperti transit di negara ketiga dan sebagainya. Bahkan para calon jamaah justru lebih memilih untuk ditunda daripada harus dibebankan dengan biaya yang cukup tinggi. “Calon jamaah ini banyak yang mengambil keputusan tidak apa-apa ditunda dulu. Kalau waktunya banyak habis di jalan untuk transit, jamaah memilih menunggu sampai pemerintah berhasil melobi pemerintah Arab Saudi,” ungkapnya.

Untuk diketahui, dari Bendahara Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Tauhid Hamdi memperkirakan biaya umrah kemungkinan akan sangat mahal dengan skema dari Pemerintah Arab Saudi. Hal ini berdasarkan ketentuan lamanya karantina, tes PCR, dan vaksin tambahan yang dibebankan kepada calon jamaah umrah. Jika bicara harga, akan jadi dua kali lipat, bisa sampai Rp 54-60 juta per orang, untuk selama 30 hari menyelenggarakan ibadah umrah.

BACA JUGA :  Anggota DPRD NTB A. Kahar M. Rifai Meninggal, Sekwan Bantah karena Covid

Terpisah, Direktur Utama Muhsinin Tour & Travel, Ahmad Muharis mengatakan, isu yang berbeda bahwa biaya umroh mencapai Rp 60 juta dikarenakan masih dalam keadaan Covid-19 ini. Kendati kondisi tersebut tentu memberatkan masyarakat, calon jamaah maupun pengusaha travel itu sendiri. “Jangankan Rp 60 juta, setengah dari itu saja yang Rp 30 juta kemarin sangat-sangat berat, khususnya warga daerah. Maka sekarang lagi dicoba untuk dikomunikasi oleh pemerintah kita,” ujarnya.

Sekarang ini dari pemerintah Indonesia tengah berupaya untuk bisa menegosiasi agar biaya umrah tidak naik dengan nominal Rp 60 juta tersebut. Pasalnya, biaya yang begitu tinggi belum diketahui pasti komponennya apa saja yang membuat harganya melonjak. “Keluar angka Rp60 juta itu darimana? Karena jelas, tiket tergantung dari airline itu sendiri. Kalaupun dia naik dilihat dari harga bahan bakarnya. Jadi tidak ada oritas bahwa pemerintah Saudi menaikan dengan angka pesawat,” jelasnya. (dev)