Ruslan Pertanyakan Anggaran Zero Waste Rp 31,40 Miliar

MATARAM—Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj Sitti Romi Djalillah, dalam pidato pengantar nota keuangan APBD Provinsi NTB tahun anggaran 2020, Selasa malam (20/8), menyampaikan bahwa upaya mendukung pembangunan dan pencapaian visi jangka panjang, serta jangka menengah, sekaligus sinkronisasi prioritas pembangunan Nasional, yang telah dijabarkan dalam beberapa program prioritas, akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 748,99 miliar lebih, atau 33 persen dari alokasi belanja langsung dalam RAPBD 2020.

Program prioritas tersebut, diantaranya adalah program pemenuhan infrastruktur dengan alokasi anggaran sebesar Rp 442,67 miliar lebih, program industrialisasi sebesar Rp 197,76 miliar lebih, program revitalisasi Posyandu dan stunting sebesar Rp 77,14 miliar lebih. “Kemudian program zero waste dengan alokasi anggaran sebanyak Rp 31,40 miliar lebih,”ungkap Umi Rohmi.

Hanya saja, berbagai program prioritas Zul-Rohmi dalam RAPBD tahun 2020 itu, ternyata mendapat sorotan dari politisi senior PDIP di Komisi IV DPRD NTB, Ruslan Turmuzi, yang mempertanyakan kejelasan dari program-program prioritas tersebut. “Semua program unggulan dari Zul-Rohmi ini harus jelas. Saya yang bertanya ini,” ungkapnya usai rapat paripurna.

“Artinya begini, kita berpikir logika. Apa tugas dan fungsi pemerintah provinsi dalam program zero waste ini. (Sementara) kita (provinsi) tidak punya wilayah yang (mau) kita zero waste kan? Oleh pemerintah provinsi? Yang punya kan kabupaten. Masalah kebersiahan kan,” ujarnya.

Tegasnya lanjut Ruslan, dimana wilayah pemerintah provinsi untuk zero waste? Tentu ini sifatnya koordinatif dengan pemerintah kabupaten/kota. “Nah mestinya pemerintah provinsi koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota. Kalau kita hanya anggarakan Rp 31,40 miliar, tidak ada artinya, dan dimana wilayah kita,” tanyanya.

Selain program zero waste yang dinilai belum jelas peruntukannya. Berbagai program prioritas lain, peruntukannya juga harus diperjelas. “Ini semua kan uang rakyat, ya harus jelas dalam pelaksanaannya. Ini yang saya tanyakan,” ketusnya. (sal)