Proyek Perempatan Sikur, PU Bongkar Rumah Warga

PEMBONGKARAN: Guna melakukan percepatan pembangunan jalan di perempatan Sikur, Pemkab Lotim mulai melakukan pembongkaran rumah-rumah warga yang terkena proyek, dan telah diberikan ganti rugi (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai mengerjakan proyek pembangunan jalan di perempatan Sikur, yang panjangnya sekitar 400 meter. Pembangunan perempatan jalan Sikur ini diawali dengan melakukan pembongkaran rumah-rumah warga yang akan terkena proyek. Pembangunan ini adalah untuk mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di depan Pasar Paok Motong.

Meski sebelumnya telah dilakukan pembayaran, masyarakat yang menjadi korban pembongkaran masih merasa kecewa dengan pihak negosiator, yang turun langsung ke lapangan melakukan pembebasan lahan. “Yang kita permasalahkan saat ini bukan masalah pembayarannya. Namun yang menjadi permasalahan pemerintah tidak sesuai perjanjian dengan masyarakat yang menjadi korban penggusuran akibat jalan baru yang dibuka,” ungkap Lalu Junaidi, selaku pemerhati masyarakat kepada Radar Lombok, Kamis (2/3).

Junaidi mengatakan, pada saat dilakukan negosiasi oleh Pemda, mayarakat dijanjikan akan membongkar rumahnya, ketika rumah masyarakat sudah selesai dikerjakan. Hanya saja pemerintah bersifat memaksa terhadap masyarakat, dan tidak sesuai dengan perjanjian.

“Sebelum menandatangani kesepakatan, pemerintah berjanji akan menggusur rumah ini ketika rumah barunya sudah jadi. Akan tetapi kenyataannya tidak seperti itu, makanya dia kecewa,”jelasnya.

Selain itu, ada surat teguran yang diberikan kepada masyarakat yang menjadi korban penggusuran ini tentu dipertanyakan. Menurutnya, masyarakat yang menjadi korban ini sudah mengihlaskan rumah yang dia tempati untuk digunakan membangun jalan. Sehingga tidak perlu surat teguran kepada masyarakat yang bersifat menakut-nakuti.

“Kecuali masyarakat yang sudah mendapatkan ganti rugi ini tidak mau pindah, baru pemerintah memberikan surat teguran. Mereka belum pindah karena sesuai dengan perjanjian, kalau rumahnya digusur setelah masyarakat sudah membuat rumah,” ulangnya.

Tak hanya itu, dalam perjanjian yang ada, Tim Negosiasi berjanji akan membuka jalan baru ini mulai dari utara, sehingga bisa memperbanyak ruang gerak bagi masyarakat untuk membangun rumah di tempat yang yang berbeda. Namun kenyataannya pemerintah tidak menepati janji awal sebelum datang ke masyarakat.

[postingan number=3 tag=”proyek”]

“Jangan hanya baik ke masyarakat pada saat menginginkan sesuatu. Namun pada saat sudah mendapatkan apa yang diinginkan masyarakat diabaikan, ini yang kita sesalkan kepada pemerintah,” tegasnya.

Sementara salah satu warga korban pengusuran, Sukiah, menyatakan kekecewaannya lantaran pemerintah tidak sesuai dengan perjanjian yang ada. Meski sudah mendapatkan teguran untuk pengosongan rumah, namun baginya pemarintah tidak menepati janjinya terhadap masyarakat.

“Pada saat pemerintah datang, dia berjanji akan menggusur rumah ini pada saat rumah kami telah jadi. Tapi kenyataannya sekarang pemerintah tidak seperti itu, dan sekarang saya mau tidur dimana?” tangisnya.

Dikatakan, pihaknya mengaku belum membangun rumah, karena tanah yang dia beli masih ada tanaman padinya. “Masak kita akan bangun rumah di atas padi warga. Kita juga punya pikiran,” kesalnya.

Terpisah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Lotim, Dedi Irawan mengatakan pengusuran yang dilakukan oleh pihaknya setelah masyarakat membongkar rumahnya sendiri, dan memberikan puing bangunan yang bisa dipakai untuk diambil pemliknya.

“Sebelum dibongkar, masyarakat yang menjadi korban ini membongkar sendiri. Jadi tidak ada masyarakat yang merasa keberatan,” bantahnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Disampaikan, jalan baru yang di bangun oleh pemerintah untuk mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di depan Pasar Paok Motong, untuk mempermudah akses menuju pasar baru yang sudah dibangun oleh pemerintah daerah sebagai pengganti Pasar Paok Motong.

Jalan yang akan di buat ini panjangnya sekitar 400 meter, dengan lebar sekitar 12 meter. Tidak hanya jalan yang akan dibangun, namun satu unit jembatan yang panjangnya sekitar 24 meter dengan lebar sekitar 12 meter juga. “Jadi jalan yang akan dibangun ini sangat luas, dan akan sangat bagus untuk pembangunan ekonomi,” jelasnya.

Menurutnya, kekecewaan masyarakat terjadi kemungkinan karena mereka merasa kangen dengan tempat tinggalnya. Namun pemerintah sendiri telah memberikan ganti rugi, dan memindahkan ke tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya. “Rumah masyarakat kan sekarang berada di tengah. Tapi pada saat jalan baru ini nanti jadi, yakin masyarakat pasti akan merasa senang dan bangga dengan jalan jalan ini,” pungkasnya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid