Photo Booth Segara Anak Dibongkar Paksa

MATARAM – Sekitar 20 orang pencinta lingkungan yang tengah  melaksanakan clean up atau membersihkan sampah-sampah di Gunung Rinjani naik ke Segara Anak pada hari Senin (27/6).

Dalam misi pembersihan sampah-sampah tersebut, pada malam harinya rombongan membongkar paksa photo booth yang bertuliskan ''Segara Anak Lake'' itu. Salah seorang pencinta lingkungan yang merencanakan aksi pembongkaran paksa tersebut adalah Royal Disembahulun. Royal bahkan mempersiapkan alat-alat untuk membongkarnya. "Sudah dibongkar tadi malam sembari membersihkan sampah di sekitar danau Segara Anak," ungkapnya saat dihubungi Radar Lombok, Selasa sore kemarin (28/6).

Pembongkaran photo booth Segara Anak Lake terpaksa dilakukan, karena pihak  Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) tidak mau membongkarnya sendiri. Pihaknya pun siap menanggung apapun resiko dari aksi ilegal pemaksaan kehendak tersebut.  Menurut Royal, adanya photo booth telah mengusik ketentraman para pencinta alam. Mayoritas dari orang yang mencintai gunung Rinjani tidak setuju dengan adanya photo booth karena dinilai merusak pemandangan dan menodai suasana natural di danau Segara Anak. "Kita bongkar total, jadi bukan juga kita pindahkan posisinya," tambah Royal.

Saat ini, sisa-sisa dari photo booth masih berada di Pelawangan. Rencananya, hari ini Rabu akan dibawa turun untuk dikembalikan ke pihak Balai TNGR. "Kita akan kembalikan apa yang telah mereka pasang, besok akan dibawa turun," ucap pria yang pernah mendapat penghargaan di bidang pariwisata itu.

Disampaikan, pembongkaran yang dilakukan memang tanpa izin dari pihak TNGR. Namun, apabila dibiarkan akan terus menimbulkan polemik berkepanjangan. Dikhawatirkan, para pendaki lainnya yang akan merusak photo booth tersebut, yang pada akhirnya malah akan menambah sampah saja.

Dengan dibongkarnya saat kegiatan clean up, sisa-sisa seperti besi bisa diamankan dan masih utuh. "Katanya kan itu aset negara, jadi akan kita kembalikan secara baik-baik ke pihak TNGR. Terserah kalau mereka mau pasang di kantornya, kita gak urus," ujar Royal.

Komunitas yang melakukan clean up lanjutnya, tidak diperintah oleh siapapun untuk melakukan pembongkaran. Meskipun begitu diakui Royal, kegiatan clean up sendiri di-back-up oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi NTB. "Gak pernah pak Faozal suruh kami bongkar, inisiatif teman-teman saja. Memang sih kalau clean up itu didanai oleh Budpar," tutup Royal.

Sementara itu, pihak TNGR sendiri sampai saat ini enggan berbicara banyak atas pembongkaran paksa tersebut. Padahal, untuk pemasangan saja biayanya mencapai Rp 80 juta. Belum lagi untuk kebutuhan-kebutuhan lain yang menggunakan uang rakyat.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Balai TNGR, Musthofa Lubis saat dikonfirmasi Radar Lombok mengaku masih belum bisa memberikan keterangan. Pembongkaran paksa sangat tidak diinginkan oleh pihak TNGR. Setidaknya, mereka berharap lokasi photo booth yang dipindah, bukan dibongkar total. "Saya sedang rapat, nanti ya," jawabnya via telepon.

Kepala Balai TNGR Agus Rudi juga bungkam. Ia belum mau berbicara banyak menanggapi pembongkaran paksa tersebut. Padahal rencana pemasangan photo booth telah ada sejak tahun lalu. (zwr)

BACA JUGA :  Pendaki Rinjani Luar Negeri Meningkat