Pertanian Holtikultura NTB Belum Sesuai Harapan

HORTIKULTURA: Gubernur NTB, DR TGH M Zaenul Majdi, ketika meninjau salah satu pengusaha pertanian hortikultura di wilayah Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, beberapa waktu lalu (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr TGH Muhammad Zainul Majdi, menyebut pembangunan di bidang pertanian, khususnya tanaman hortikultura di Provinsi NTB belum sesuai harapan.

Pasalnya, petani hortikultura belum menikmati harga jual yang menguntungkan. Itu dapat terlihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) untuk tanaman hortikultura yang selalu dibawah 100.

“Pembangunan hortikultura ini harus terus ditingkatkan. Karena NTP Hortikultura masih belum sesuai harapan  di bawah 100 persen,” kata Gubenur Zainul Majdi, Jumat (7/4).

[postingan number=3 tag=”ekonomi”]

Gubenur menyebut sejumlah indikator kesejahteraan petani salah satunya diukur dari indikator NTP yang diatas 100 persen. Seperti NTP peternakan selalu diatas 100 persen, NTP tanaman pangan diatas 100 persen. Sementara NTP untuk hortikultura dan perkebunan termasuk juga NTP perikanan masih dibawah 100.

Peningkatan nilai tukar petani yang masih di bawah 100 persen, menjadi perhatian Gubenur, agar SKPD teknis terkait di Pemprov NTB dan pemerintah kabupaten/kota memberikan perhatian terhadap beberapa produk pertanian yang NTP -nya masih dibawah 100. “Pembangunan hortikultura harus terus ditingkatkan. NTP tingkatkan yang masih rendah dan ini jadi prioritas kita,” ucap Gubenur Majdi.

Selain itu, Gubenur juga menginstruksikan kepada SKPD teknis terkait untuk perkuat revitalisasi pertanian dan perkebunan. Revitalisasi di sektor pertanian, perkebunan dinilai sangat penting untuk menekan angka kemiskinan. Kriteria-kriteria dalam membangun pertanian dan perkebunan sedapat mungkin dapat dibuat hilirisasi yang dapat menghasilkan industri.

“Membangun revitalisasi pertanian dan perkebunan sedapat mungkin dapat menekan impor. Harus bisa menciptakan produk olahan dari hasil pertanian dan perkebuan,  agar bisa kurangi ketergantungan impor,” tegas Gubenur Majid.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Husnul Fauzi mengaku pihaknya terus berupaya merevitalisasi pertanian dan perkebunan. Terbukti dengan produksi yang terus suprlus. Selain itu juga sejumlah produk hasil pertanian, hortikultura dan perkebunan, petani yang bersentuhan langsung diberikan pelatihan dan pendampingan untuk pengolahan hasil pertanian mereka.

“Kami di Dinas Pertanian dan Perkebunan sudah mulai memberikan pelatihan dan pendampingan bagi usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) untuk mengolah hasil pertanian dan perkebunan,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat melimpahnya produksi untuk tanaman hortikultura di bulan Maret berdampak terhadap deflasi di NTB. Terjadinya deflasi hingga 0,6 peren lebih tersebut, karena harga jual dari produk hortikultura anjlok.

Sementara itu, pemerintah daerah belum mampu mecarikan solusi ketika produksi melimpah utamanya tanaman hortikultura, maka harga jualpun anjlok dan sangat murah, tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid