Penyelundupan Narkoba via Bandara Semakin Marak

I Putu Alit Ari Sudarsono (DERY HARJAN/RADARLOMBOK)
I Putu Alit Ari Sudarsono (DERY HARJAN/RADARLOMBOK)

MATARAM-Para bandar narkoba seolah tak pernah menyerah untuk mengedarkan atau menyelundupkan berbagai jenis narkotika. Mereka kerap menggunakan modus agar barang terlarang bisa sampai ke tujuan tanpa diketahui aparat penegak hukum.

Ketika menyelundupkan narkoba via bandara misalnya, mereka kerap kali lolos dari pengawasan petugas. Ini kemudian menjadi tanda tanya.

Kepala Bea Cukai Mataram, Putu Alit Ari Sudarsono yang dimintai keterangan terkait hal itu mengatakan bahwa seiring perkembangan zaman, modus yang dilakukan para penyelundup narkoba semakin canggih. “Modus mereka disembunyikan dalam barang bawaannya, kemudian ada juga dimasukkan ke dalam tubuhnya,” ungkap Alit yang ditemui Radar Lombok di ruang kerjanya, Rabu (5/8).

Dalam menyembunyikan narkoba di dalam tubuh, kata Alit, para penyelundup biasa memasukkannya ke dalam anus, mulut, hingga alat kelaminnya bagi yang perempuan. Jika melalui barang bawaannya, narkoba biasa dikamuflase menjadi berbagai bentuk, bisa dalam bentuk kemasan makanan, alat kosmetik, maupun yang lainnya. “Modusnya berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang ada,” paparnya.

Namun, Alit mengaku, meski para penyelundup narkoba memainakan segala cara, pihaknya tak akan mudah untuk  dikelabui. Sebab petugas bea cukai rutin diberikan pelatihan agar mudah mengindentifikasi upaya penyelundupan narkoba. “Kita rutin melakukan pelatihan dengan memanggil (tutor) dari Jakarta dan Bali. Baik pelatihan menggunakan anjing pelacak maupun mesin X-Ray,” paparnya.

Adapun terkait beberapa penyelundupan via bandara yang belakangan ini selalu lolos, Alit berdalih bahwa itu di luar pengawasannya. Sebab penyelundupan dilakukan melalui penerbangan domestik. Sementara penerbangan domestik menjadi kewenangan dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTB. Pihaknya kemudian hanya terlibat begitu ada permintaan dari BNNP NTB. “Kalau penerbangan domestik itu bukan kewenangan kami. Kita hanya yang international saja,” ucapnya.

Kepala BNNP NTB Brigjen Pol I Gde Sugianyar Dwi Putra mengatakan, bahwa pihaknya tidak bisa maksimal dalam melakukan pengawasan di bandara. Sebab pemeriksaan barang penumpang kata Sugianyar hanya di bandara pertama. “Kalau di sini kan tidak dilakukan pemeriksaan,” ucapnya.

Pihaknya kemudian hanya melakukan pemeriksaan penumpang dan barang bawaannya begitu ada informasi dari masyarakat terkait adanya upaya penyelundupan narkoba via bandara. “Kalau ada informasi baru kita bertindak,” ucapnya.

Untuk itu, Sugianyar berharap peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan peredaran gelap narkotika di wilayah NTB ini. Tanpa peran masyarakat akan sulit bagi aparat penegak hukum berbuat maksimal. Terlebih dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) yang kurang dan juga anggaran yang ada. “Narkoba adalah musuh bersama. Mari kita perangi bersama,” tutupnya.

Untuk diketahui belakangan ini ada beberapa kasus penyelundupan via bandara.

Di antaranya yang terungkap pada Minggu (2/8). Di mana seorang pria berinisial AK, 47 tahun, asal Riau menyelundupkan narkoba jenis sabu via bandara dengan menyembunyikannya di dalam anusnya. Begitu dilakukan pemeriksaan oleh personel Ditresbarkoba Polda NTB ditemukan empat bungkus plastik bening yang berisi sabu seberat 200 gram.

Kemudian kasus lain yang terungkap yaitu penyelundupan sabu sebarar 2 Kg via bandara pada Kamis (30/7). Sabu tersebut dibawa dari Medan, Sumatera Utara oleh tiga orang tersangka. Masing-masing berinisial MF, 37 tahun, LRM, 24 tahun, dan RS, 24 tahun. Saat sampai di BIL, mereka luput dari pengawasan petugas di sana.

Barangnya kemudian ditemukan begitu sampai di sekitar Cakranegara, Kota Mataram. Sabu 2 kg tersebut ditemukan dalam dua buah koper. Untuk mengelabui petugas, sabu tersebut dimasukkan ke dalam 18 botol bedak.

Terungkapnya kasus ini berkat kerja sama tim gabungan Polda NTB yang terdiri dari Tim Puma, Tim Rinjani, Tim Tambora, dan anjing pelacak.(der)