Pengurus Demokrat NTB Gunduli Kepala

DIGUNDULI : Ketua DPD Demokrat NTB, TGH Mahalli Fikri bersama jajarannya melakukan aksi gundulkan kepala sebagai bentuk kesetiaan kepada Ketum AHY. (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Prahara partai Demokrat di tingkat pusat memengaruhi situasi politik daerah. Apalagi masalah yang tengah dihadapi adalah isu kongres luar biasa (KLB) untuk menggulingkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari jabatan ketua umum.

Jajaran pengurus DPD Partai Demokrat NTB berserta pengurus DPC kabupaten/kota juga merasakan dinamika itu. Adanya pembelot di partai memang sangat terasa. Bersyukurnya, para pembelot itu kini telah dipecat dari partai.

Para pengurus Partai Demokrat se-NTB melakukan aksi menggunduli kepala secara serentak pada Rabu (3/3). Aksi itu dilakukan untuk membayar nazar atas ditunaikannya aspirasi kader di daerah oleh Ketua Umum Demokrat, AHY untuk memecat kader pembelot. “Kita melakukan aksi bergundul ini untuk menunaikan nazar karena aspirasi kita dikabulkan agar kader-kader yang membelot yang menginginkan adanya KLB dipecat,” ucap Ketua DPD partai Demokrat NTB, TGH Mahalli Fikri di lokasi aksi, kemarin.

Mahalli sendiri menjadi orang pertama yang digunduli rambutnya. Kemudian berturut-turut diikuti oleh Ketua DPC Demokrat Kota Mataram M Zaini, Ketua DPC Demokrat Sumbawa Barat Mustakim Fatawari. Selanjutnya Abdul Rauf perwakilan dari fraksi Demokrat di DPRD NTB dan para pengurus partai lainnya. “Kita juga santuni 100 anak yatim dan lansia. Kita doa bersama tadi, semoga Demokrat selamat menghadapi berbagai cobaan. Pak SBY panjang umur, AHY sebagai ketua semoga bisa hadapi berbagai tantangan yang menyerang beliau,” ucapnya.

Meski kader pembelot sudah dipecat, persoalan gangguan terhadap AHY tidak lantas selesai begitu saja. Mereka tetap bergerak untuk menggulingkan AHY dengan menggalang dukungan dari ketua DPD dan DPC seluruh Indonesia sebagai pemilik suara untuk melakukan KLB.

Mahalli menanggapi santai upaya KLB tersebut. Ia meyakini rencana KLB yang digalang eks kader Demokrat tidak akan bisa menurunkan AHY dari jabatan ketua umum. Karena upaya KLB tersebut tidak dibenarkan oleh konstitusi partai. Apalagi saat ini juga tidak mendapat dukungan dari DPD/DPC. “Adanya dukungan itu semua klaim-klaim sepihak mereka. Saya pastikan itu tidak benar dan tidak masuk akal. Kemarin klaimnya sudah 270 ketua DPD dan DPC yang mendukung KLB, kemudian bertambah lagi tadi pagi sudah 310 katanya. Cuma mereka tidak mau menyebutkan namanya dan alamat orangnya, karena katanya takut nanti sebelum berangkat KLB akan dipecat,” tuturnya.

NTB sendiri, lanjut Mahalli, sangat solid mendukung AHY. Tidak ada satupun kader yang berani membelot. “Yang di NTB, siapa yang mendukung KLB, ketua-ketua DPC semua kumpul hari ini dan kompak setia kepada Mas AHY. Gak ada di NTB, kalau ada yang coba-coba, akan habis,” tegas Mahalli.

Diakui Mahalli, pihaknya seringkali dibujuk untuk ikut dalam gerakan KLB. Namun tetap tegas menolak. “Tiap hari kami dapat telepon terkait ajakan KLB, tapi apa yang mau di-KLB-kan. Dalam AD/ART itu, ada syarat-syaratnya, salah satunya ada sesuatu yang serius, sesuatu yang membahayakan partai baru bisa KLB, jadi dasar harus kuat,” jelasnya.

Mekanisme KLB memang ada dalam partai. Namun tentu saja tidak bisa dilakukan semaunya. “Boleh KLB kalau ada pelanggaran serius yang dilakukan oleh Ketua Umum. Tapi apa yang dilanggar oleh AHY, kalau dikatakan partai makin mengecil dikepemimpinan AHY, justru hasil survei terakhir Demokrat menanjak terus elektabilitasnya. Isu KLB ini masalah serius, Pak SBY juga turun gunung untuk menghadapinya,” kata Mahalli.

Perwakilan fraksi Demokrat NTB, Abdul Rauf yang ikut dalam aksi gunduli kepala ini mengatakan, pihaknya menentang keras adanya upaya KLB. “Aksi gunduli kepala ini sebagai bentuk komitmen kami, dan kesetiaan kami terhadap kepemimpinan partai Demokrat yang sah,” tegasnya. (zwr)