Ngopi Bareng Aqi: Stop Stereotip Milenial!

Nasib Daerah dan Bangsa di Tangan Mereka

BINCANG HANGAT: Calon Wali Kota Mataram, H Baihaqi saat berdialog dengan para pemilih milenial di salah satu café di Kota Mataram.(IST FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM—Muncul paradigma keliru tentang kalangan milenial. Mereka kerap distereotip sebagai generasi anti politik dan hedonis. “Senang foya-foya, hang out,” kata pengamat politik Inka, dalam acara Ngopi Bareng Aqi.

Padahal stereotip semacam ini dinilai berbahaya. Jika hal ini diyakini kaum milenial, maka bangsa terancam krisis kepemimpinan.

Estafet pembangunan bangsa terancam tidak ada penerus. “Ingat arah pembangunan bangsa saat ini ada pada kelompok milenial,” tegas Dosen Ilmu Pemerintah, Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Mataram itu.

Para generasi tua yang memimpin saat ini tidak selamanya akan duduk di pemerintahan. Suatu saat estafet pembangunan harus diserahkan pada generasi milenial. “Maka generasi milenial harus mengerti politik,” tegasnya.

Untungnya, geliat perlawanan terhadap stereotip ini sudah mulai muncul. “Data memperlihatkan 52 anggota DPR RI kini sudah diisi kalangan milenial,” ungkapnya.

Tidak cuma itu, SDM pemerintah pusat pun sudah mulai mengakomodir milenial. “Saya mencatat ada satu menteri dan dua wakil menteri dari kalangan milenial,” terangnya.

Inka mengutip hasil riset BPS di Pilkada Serentak 2020 ini ada sebanyak 147 Juta suara milenial akan menentukan arah bangsa. “Di pilkada serentak 9 Desember,” jelasnya.

Atau bila diporsentasekan, kisarannya di 37-40 persen. “Ini luar biasa sekali,” ungkapnya.  Begitupula di Kota Mataram persetanse milenial tidak jauh beda. Sehingga suara milenial sangat menentukan arah dan nasib pembangunan kota nanti. “Dari data sekitar 300 ribu pemilih milenial dan pemilih pemula di Kota Mataram,” ujarnya.

Inka berharap siapapun yang terpilih sebagai wali kota nanti harus mampu mengakomodir kepentingan milenial. “Tetapi saya lebih berharap yang terpilih nanti kalangan milenial,” ulasnya.

Terpilihnya kalangan milenial sebagai pempimpin, akan lebih baik dampaknya terhadap estafet pembangunan daerah. “Jadi milenial tidak hanya sebagai objek, tetapi subjek (pemerintahan, Red) karena milenial lebih memahami kemauan milenial,” tegasnya.

Inka lantas menjabarkan bila generasi milenial itu yang lahir antara tahun 1981-1996. Mereka adalah generasi pertama yang memahami teknologi. “Sedikit lebih maju dari orang tua kita atau kakek kita yang tidak paham teknologi,” terangnya.

Sementara dari empat calon wali kota yang berlaga, Inka melihat hanya satu yang masuk kategori milenial. “Bang Aqi (Baihaqi, Red) termasuk milenial (lahir 1981),” jelasnya.

Desi Kemalasari, penggagas acara “Ngopi Bareng Bang Aqi” di Milenial Talk, berharap generasi milenial menyadari peran fundamentalnya. “Jadi stop cuek politik, ayo melek politik,” kata akademisi salah satu kampus swasta di NTB itu.

Milenial tidak boleh apatis. Jika tidak, nasib bangsa akan jatuh ke tangan yang salah. “Saya ingin mengutip pernyataan presiden Turki Erdogan, ‘Jika politik tidak diisi oleh orang yang baik, maka bersiap-siaplah politik akan diisi oleh orang jahat’,” kutipnya.

Karena itu mau tidak mau, generasi milenial sebagai penerima estafet pemerintahan harus menyiapkan diri tampil. “Dan milenial-milenial yang baik tidak boleh tinggal diam,” serunya.

Suara milenial jangan sampai sia-sia apalagi tercecer. “Kami melihat satu-satunya calon pemimpin milenial yakni Bang Aqi, beliau yang termuda dan qualified dari umur,” ulasnya.

Namun walaupun Baihaqi secara umur qualified, kaum milenial ingin membedah gagasan Aqi memimpin daerah. “Kami juga ingin mengulik, apa gagasan Bang Aqi untuk Kota Mataram ini, apakah gagasannya menarik dan bisa dinalar,” ujarnya.

Calon Wali Kota Mataram H Baihaqi mengapresiasi acara itu. “Saya percaya pemilih milenial adalah pemilih yang rasional,” katanya.

Aqi pun setuju, dalam politik tidak boleh fanatisme buta. “Kita tidak boleh fantatik berlebihan terhadap salah satu calon, termasuk saya juga tidak ingin ada pendukung saya terlalu fanatik, tanpa alasan rasional,” tegasnya.

Aqi mengatakan ingin dipilih karena gagasannya. Bukan karena alasan yang tidak rasional. “Silakan tracking, mengukur kemampuan saya, apakah saya punya kemapuan atau gagasan yang bagus atau tidak,” tantangnya.

Ditegaskannya, tampilnya dia dalam kontestasi politik bukan tanpa modal gagasan. “Saya yakin gagasan saya baik dan siap adu gagasan,” tegasnya.

Pria berlatar arsitek itu mengatakan, Mataram saat ini perlahan-lahan kehilangan kekuatan dan daya tariknya. “Padahal daerah ini epicentrum pembangunan, tetapi faktanya ada daerah di luar Mataram yang kini malah punya branding internasional,” bandingnya.

Daerah itu, punya kawasan wisata, event sport, hingga bandara berskala Internasional. “Sedangkan daerah kita jangankan skala internasional, bandara dan dermaga kita bahkan telah meninggalkan Mataram,” ungkapnya.

Karena itu, sebagai putra asli Mataram dia ingin mengembalikan lagi kejayaan daerahnya. “Sebagai daerah yang layak disebut ibu kota provinsi,” tegasnya.

Salah satu gagasannya yakni menyiapkan SDM warga kota agar siap menghadapi revolusi industri 4.0. “Sebagai gambaran saja, revolusi industri 1.0 itu diandai dengan keberhasilan dunia mengganti tenaga manusia dengan tenaga uap,” tuturnya.  Berikutnya, revolusi industri 2.0 ditandai digantinya tenaga uap dengan listrik. “Lalu revolusi industri 3.0 saat tenaga listrik diganti sistem komputerisasi,” ulasnya.

Dan kini dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0. “Ini saatnya seluruh sistem komputerisasi atau digital terkoneksi dalam satu jaringan internet. Pertanyaanya apakah SDM kita sudah siap?” tegasnya. (dir)