Nakami Vidi Makarim, Atlet Balap Motorcross Internasional asal NTB

Nakami Vidi Makarim
BERPRESTASI: Nakami Vidi Makarim (kanan) mengangkat tropy dan hadiah yang diterima di kejuaraan balap motocross di Trengganu, Malaysia bulan Maret 2017 lalu. (Nakami for Radar Lombok)

Nakami Vidi Makarim siswa kelas VII SMP Negeri 16 Mataram telah mengharumkan nama Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di usia yang masih muda, Nakami telah mendulang berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan internasional di olahraga berbahaya yakni motorcross.


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


Sejak usia 4 tahun, Nakami yang dijuluki sang “Bushido’ yang berarti pejuang yang tak kenal menyerah ini mulai mengenal dunia balap motorcross. Usia yang masih dini tersebut, bukan halangan bagi Nakami putra kedua dari pasangan Untarto dan Dina Maulati Dewi ini untuk menjajal olahraga yang dikenal ekstrim tersebut.

Nakami, lahir  29 Mei 2004. Karena kegemaran sejak usia 4 tahun tersebut, membuat sang bapak Untarto yang tak lain adalah mantan atlet renang NTB ini memberikan keleluasaan bagi anak bungsunya tersebut untuk menekuni olahraga yang cukup berbahaya tersebut. Meski pernah terbersit untuk melarang anaknya  tersebut, namun karena keinginan keras dari Nakami, akhirnya Untarto bersama istri Dewi yang juga mantan atlet basket ini memuluskan hobi yang digemari anaknya tersebut dengan menjadi mentor bagi sang anak. Nakami dibawah bimbingan sang bapak,dilatih   baik fisik dan teknik mengendarai motor. Ini dilakukan di luar jam sekolah.

Tahun demi tahun dilalui, alhasil Nakami mengikuti sejumlah kejuaraan mulai dari powercross kelas 50 cc hingga menjuarai berbagai ajang nasional dan internasional.

Pada tahun  2011, Nakami mengikuti kejuaraan nasional (kejurnas)  dan berhasil meraih peringkat 1 nasional. Berbagai prestasipun di torehkan Nakami dalam dunia balap motorcross untuk kelas 85 cc , mulai dari peringkat 1 nasional hingga peringkat 1 Asia.

Yang namanya balap, tidak jauh dari kecelakaan. Nakami menceritakan, dia beberapa kali mengalami  kecelakaan dalam arena balap. Bahkan ketika latihan, Nakami pernah jatuh dan tak sadarkan diri hingga 3 hari. Dia juga pernah pernah patah pergelangan tangan dan juga tulang bahu kanan. Kecelakaan yang dialaminya itu tidak membuat Nakami meninggalkan hobinya tersebut. “Meski sering mengalami kecelakaan, saya tidak akan pernah berhenti untuk ikuti balap. Saya jadi atlet balap bukan untuk mengejar uang tapi ingin meraih prestasi membanggakan NTB,” ungkap Nakami.

Untarto sempat patah semangat  dengan apa yang dialami Nakami.   Untarto pun  meminta Nakami untuk beralih ke cabang olahraga lain. Namun dengan santainya Nakami menjawab, olahraga itu bukan untuk mencari uang, tapi untuk mencari prestasi.

Mendengar pernyataan sang anak yang masih belia dan tegas menjawab seperti itu, akhirnya Untarto habis-habisan untuk mendukung sang anak untuk meraih prestasi di dunia balap. Dia rela   mengorbankan hartanya  yang cukup banyak untku mendukung Nakami menjadi  pebalap motorcross. 

Untarto rela menjual tiga  mobilnya untuk membiayai berbagai turnamen balap  yang harus diikuti oleh Nakami. Dukungan dan pengorbanan Untarto itupun berbuah manis.  Nakami menorehkan prestasi. Dia meraih peringkat I Kejurnas sejak tahun 2011 hingga 2017 ini. Bahkan setiap  balap yang diikuti dalam 1 tahun itu lebih dari 12 kali di berbagai daerah di Indoensia, Nakami selalu tampil memukau dan selalu berada di podium mengangkat piala nomor 1.   Pada tahun 2015 juaga meraih juara II di Internasional Motocross di Solo. Selanjutnya peringkat 4 Asia di  ajang balap PIM Asia Motor Cross,  kelas 85 cc  di Kuala Trengganu,Malaysia  bulan Maret 2017 kemarin. “Dalam waktu dekat ini akan ikut turnamen balap  untuk ikut kejurnas  tanggal 21 Mei di purbalingga seri 4 kelas motor 85 cc,” kata Nakami.

Melihat prestasi Nakami ini, Untarto berharap perhatian dari Ikatan Motor Indonesia  (IMI) NTB maupun pemerintah daerah. Sejak tahun 2011 hingga saat ini, dukungan dari organisasi IMI NTB bisa dikatakan nihil terhadap Nakami.

Saat ini sejumlah perusahaan dari luar NTB memberi dukungan bagi Nakami untuk mengikuti sejumlah turnamen balap motorcross. Sementara dukungan dari daerah dan organisasi IMI NTB sendiri tidak ada. Mereka  terkesan tutup mata.

Fasilitasi latihan saja  sangat terbatas dan tidak adanya fasilitas latihan yang didukung IMI NTB. “Untuk tempat latihan seadanya. Justru yang memiliki perhatian besar terhadap karir Nakami adalah H Izzul Islam yang bukan pengurus IMI,” tutup Untarto.(*)