Musholla Pinggir Sawah Berhasil Cetak Para Hafidz

Dibalik hiruk pikuk pemberitaan miring tentang Desa Waja Geseng, yang sempat menjadi headline media-media nasional beberapa waktu lalu. Ternyata di tengah-tengah desa ini terdapat salah satu santren pencetak Hafidz dengan sistem serogan, atau menghafal Alqur’an beserta arti dan maknanya.

 


JANWARI IRWAN – LOTENG


 

LOKASI Dusun Wajageseng, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), memang jauh dari keramaian, dan cukup terpencil. Namun justeru lokasi seperti inilah yang membuat para santri begitu konsentrasi ketika mereka mempelajari dan menghafal Alqur’an, sekaligus arti dan maknanya.

Memasuki lokasi dimana para Hafiz belajar di Musholla, atau masyarakat Desa Waja Geseng biasa menyebut Santren, memang tidak seramai seperti pondok pesantren lainnya. “Meskipun tempatnya berada di pinggiran sawah. Namun ketika Magrib menjelang, hingga pukul 22.00 Wita, selalu ramai dengan para santri yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an,” kata Pimpinan Santren Al Fadilah, Muhamad Fauzi, Kamis kemarin (22/6).

Dijelaskan Fauzi, Mushalla ini mulai berdiri pada tahun 2002 lalu, yaitu ketika dia telah selesai menuntut ilmu agama di Ponpes Attohiriah Al Fadilah di Bodak. Saat itu dia merasa prihatin dengan kondisi anak-anak di desanya yang kurang mengerti dan memahami pentingnya belajar Alqur’an, karena memang tidak ada tempat untuk mengaji Alaur’an di desanya.

Berikutnya Fauzi mengadukan permasalahan tersebut kepada TGH. Ahmad Fadhil Tohir, Pimpinan Ponpes Attohiriah Al Fadilah Bodak, kalau di desanya tidak mempunyai tempat untuk mengaji Alqur’an. Tak lama kemudian, Fauzi mendapatkan bantuan dana dari gurunya tersebut sebesar Rp 18 juta, untuk membangun Santren Al Fadilah.

Setelah Mushola itu berdiri, maka tahun 2007 Fauzi mendirikan Taffidz (belajaran dan menghafal Alqur’an), dengan metode Serogan. “Sejak berdiri Tahfiz ini, sudah ada 4 Santri yang telah menghapal Alqur’an (Hafidz). Sedangkan untuk santri baru, mereka telah menghapal 10 hingga 11 juz,” jelasnya.

Untuk belajar Tahfiz sambung Fauzi, waktu pembelajaran dilakukan 3 kali seminggu, yaitu malam Selasa, malam Minggu dan Minggu pagi. Sedangkan malam-malam lainnya digunakan untuk mempelajari arti, makna dan kandungan dari Alqur’an.

“Prestasi yang pernah diraih oleh Santren ini yaitu juara favorit dan juara harapan tingkat kabupaten,” jelas Fauzi seraya menyampaikan, pihaknya tidak memberikan target tertentu kepada para santri untuk menghafal Alqur’an, namun para Santri disarankan untuk terus belajar agar cepat menghatam, dan maknanya bisa dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

BACA JUGA :  Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian Jaga Soliditas