Menyimak Suka Duka Siti Aisyah, Sang Kader Posyandu

Jangan mengira menjadi kader Posyandu itu tidak ada tantangannya. Contohnya Aisyah, menjadi kader yang bertugas mengajak warga selalu memperhatikan kesehatan di Lingkungan Dasan Cermen selatan justru membuatnya banyak menerima halangan.

 


SUDIRMAN-MATARAM


 

Siti Aisyah adalah perempuan kelahiran 12 November 1972. Ia merupakan ketua kader Posyandu Edelwis di Lingkungan Dasan Cermen Selatan Kelurahan Dasan Cermen. Ia sendiri punya banyak kisah berkaitan dengan aktivitas sosialnya. Ia menjadi kader sejak tahun 1988.

Ia adalah salah satu kader Posyandu teladan mengingat kiprahnya yang sudah belasan puluhan tahun. Banyak rintangan yang dihadapinya, namun ia terus bekerja dengan ikhlas. Selain menghadapi kendala adat, masih minimnya sarana dan prasarana, termasuk ketiadaan fasilitas gedung Posyandu, juga menjadi kendala lain. Ia menceritakan kisahnya kepada Radar Lombok kemarin.

Pada tahun 1998 Siti  turun ke masyarakat. Waktu itu sebagian besar warga belum memahami kesehatan.” Banyak yang bilang banyak anak banyak rizki, tapi itu tidak menjamin. Saat itu banyak yang menentang begitu diberikan nasihat. Bahkan saya dibilang kader tidak baik, serta diancam dengan parang sampai diancam dirusak rumah saya,” ungkapnya.

Kuatnya adat lama yang negatif juga menjadi kendala. Banyak warga yang lebih percaya ketimbang dokter.

Namun ia terus getol memberikan penyadaran terhadap masyarakat. Ia melanjutkan, ada kebanggaan tersendiri melihat masyarakat  datang berduyun-duyun tanpa diminta ke Posyandu dengan membawa anak-anak mereka. Menurutnya, proses itu membutuhkan waktu dan mereka hanya memberikan contoh kepada masyarakat bahwa ketika ada anak yang sakit atau meninggal akibat kurangnya memeriksakan secara rutin perkembangan kesehatan anak.  “Kami berikan contoh. Misalnya ada anak yang sakit atau meninggal kami jelaskan penyebabnya dan fungsi dari Posyandu adalah salah satunya untuk mencegah anak terkena penyakit,” ungkapnya.

Siti adalah salah satu kader Posyandu terbaik Kota Mataram dan sempat mendapat penghargaan dari Kemensos sebagai kader lestari di bawah 20 tahun. Ia mendapatkan 3,5 gram emas sebagai hadiah pada tahun 2012.  

Saat ini kondisi kader Posyandu nyaman. Mereka mendapat insentif bulanan dari Pemkot.(*)