Lebih Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Cangkang Udang dan Kepiting

PENELITIAN: Dwi Sabda Budi Parstia saat memperlihatkan salah satu larutan daya dukung penelitiannya untuk memanfaatkan limbah cangkang udang dan kepiting (Nasri/Radar Lombok)

Inspirasi bisa muncul dari kondisi lingkungan sekitar. Ini juga  yang dialami Dwi Sabda Budi Prastia  dosen IKIP Mataram dalam melakukan penelitian. 


NASRI BOEDJANA- MATARAM


Potensi alam NTB sangat besar. Tidak hanya di darat tetapi juga di laut. Sayangnya, banyak potensi ini yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal jika dimanfaatkan, maka akan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Dwi Sabda Budi Prastia mengalaminya. Dwi melakukan penelitian dengan memanfaatkan limbah hasil laut. Selama ini,  dia melihat udang dan kepiting hanya dagingnya saja yang dimanfaatkan oleh masyrakat. Padahal limbah dari cangkang udang dan kepiting itu masih bisa dimanfaatkan atau dijadikan sesuatu yang lebih berguna untuk kepentingan umum. 

Dia lalu terinspirasi melakukan penelitian akan manfaat cangkang udang dan kepiting itu. Bersama dua rekan dosen lainnya, mereka terlibat melakukan penelitian. Dari hasil penelitiannya itu, ternyata mereka menemukan ada hal yang menarik dan sangt bermanfaat dari cangkang udang dan kepiting ini.  Cangkang udang dan kepiting itu sangat berguna untuk menyerap ion positif yang dikandung batuan mengandung emas.”Ternyata manfaatnya  cangkang udang dan kepiting ini sangat besar,” ujarnya belum lama ini.

Dia menjelaskan cara kerja dari limbah cangkang udang dan kepiting.Terjadi absorbsi fisika sehingga hanya terjadi interaksi lemah antara penyerap (kitosan) dan yang diserap (ion positif emas).  Dengan demikian setelah terjadinya penyerapan, maka emas akan mudah untuk dipisahkan.  Selama ini pemisahan emas menggunakan zat kimia berbahaya seperti merkuri.

Menurutnya, penggunaan cangkang udang dan kepiting ini jauh lebih murah dan ramah lingkungan serta tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Berbeda dengan penggunaan merkuri yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan bisa merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Dwi berama rekan-rekannya masih melakukan penelitian untuk menyempurnakan penelitiannya itu. Dia juga tengah berupaya agar hasil temuannya ini bisa dengan mudah dididapatkan dan dimanfaatkan masyarakat.  “Kami memang masih kembangkan untuk memudahkan pengguna nantinya. Untuk mewujudkan hal itu kita sudah bekerja sama denga  Kemenristekdikti,  UGM dan IKIP,”tuturnya.

Pihaknya telah mendapat informasi jika Kemenristekdikti mendukung penelitiannya ini. Dengan dukungan ini, maka hambatan yang didapat selama ini seperti biaya bisa diatasi.  “Temuan kita saat ini masih belum maksimal, karena daya dukung kita juga masih minim,” Bebernya (*)