Korban Kerusuhan Wamena Dipulangkan

Korban Kerusuhan Wamena Dipulangkan
DIPULANGKAN: Korban kerusuhan Wamena Papua asal NTB dipulangkan Jumat kemarin (4/10).(ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Delapan kerusahan Wamena Papua asal NTB, akhirnya dipulangkan Jumat (4/10). Kedatangan mereka disambut langsung Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, T Wismaningsih Drajadiah, Kepala Kesbangpoldagri Provinsi NTB H. Muhammad Rum, dan Dinas Sosial Kabupaten Lombok Tengah di Bandara Internasional Lombok.

Wismaningsih dalam keterangannya mengatakan, pemulangan korban kerusuhan Wamena asal NTB merupakan tahap pertama yang dilakukan pemerintah sejumlah 8 orang asal Lombok Tengah dan Lombok Timur. Dimana sebelumnya telah ada 30 orang yang pulang secara mandiri atau dijemput keluarga.

Dijelaskannya, pulangnya delapan orang ini berarti sudah 38 orang yang sudah pulang. Dengan demikian masih ada 77 orang dari Kabupaten Bima, kemudian 4 orang dari Sumbawa, 3 orang dari Kabupaten Dompu. Total semua yang mau pulang sebanyak 105 orang, sedangkan 55 orang warga NTB di Papua tidak pulang karena dalam keadaan aman.

Mereka adalah petugas negara, ada yang berprofesi sebagai TNI, Polri dan ASN di Wamena, Papua. Mereka merupakan orang-orang yang ikut membatu dalam proses pengamanan dan pemulangan warga NTB. dari total 105 orang yang pulang tersebut adalah sipil atau masyarakat biasa. Total jumlah tersebut dikurangi 8 orang yang pulang hari ini, maka sisa warga NTB yang akan pulang menjadi 97 yang masih di Wamena.

Sisa tersebut akan dipulangkan pada tahap kedua yakni pada hari Minggu 50 orang, hari Senin 27 orang. Mereka akan pulang langsung ke Kabupaten Bima. Dan, diperkirakan lagi sekitar 10 orang menunggu giliran untuk dipulangkan, karena baru kemarin sore bisa turun dari Wamena.

Wismaningsih memastikan, bahwa semua warga Wamena asal NTB dalam kondisi baik dan sehat. Untuk itu Pemerintah Provinsi NTB menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan Yonif 571, yang telah sangat baik dalam melayani warga NTB yang ada di Papua.

Sementara itu, Hikmatul Uliyah, salah satu dari warga NTB pulang, asal Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, mengaku sangat bahagia dan lega, karena sudah berada di NTB. Ia menuturkan bahwa kejadian kerusuhan di Wamena, Papua, tidak membuatnya trauma. Ia pulang bersama anak balitanya dan mertuanya. Sedangkan suaminya masih tatap tinggal di Papua, di tempat yang aman.

Uliyah yang berprofesi sebagai guru honorer sekolah dasar di Wamena mengatakan, bahwa dirinya akan kembali lagi ke Wamena, ketika situasi dan kondisi di sana sudah benar-benar kondusif. Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah provinsi dan kabupaten serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam proses pemulangannya ke NTB.

Usai dilakukan penyambutan oleh pihak Dinas Sosial Provinsi NTB, selanjutnya di lakukan proses serah terima kepada Dinas Sosial Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Untuk selanjutnya dilakukan pemulihan, apabila terdapat gangguan psikis akibat trauma dan lainnya, dengan melibatkan peran serta dari keluarga masing-masing.

Kedelapan orang yang dipulangkan ini lima di antaranya berasal dari Lombok Tengah. Di antaranya Novi Ariyanti, Suarifudin Lubis, Neneng Iin Isnawati, Hapipaturrahman dan Aswad. Mereka tinggal di Wamena sudah lama, dan berperopesi sebagai guru. Saat kerusuhan terjadi, mereka mengungsi di Markas Yonif Infanteri Sentani  Provinsi Papua.

Bupati Lombok Tengah, Suhaili FT mengaku, pemda langsung menyambut kedatangan dari warganya itu. Pihaknya belum mengetahui secara pasti, apakah masih banyak warganya di Wamena atau tidak. Karena tidak hanya komunikasi yang sulit dijangkau, tapi di satu sisi karena warga masih menempati wilayah yang masuk Indonesia. Sehingga tidak perlu membutuhkan berbagai data atau dokumen layaknya seperti TKI atau TKW. “Kita akan bantu warga kita, karena pemerintah juga sebenarnya sudah bergerak baik dari provinsi hingga pemerintah pusat. Jadi kita menunggu seperti apa keterlibatan kita, yang jelas kita perihatin dengan kondisi ini. Tapi bagaimana penyelesaian ini tidak boleh dengan emosi,  jadi mari bersabar karena ini pasti ada hikmahnya,” imbuh Suhaili. (zwr/met)