Koordinasi dengan Germo, Bentuk Kader Peduli

PELAYANAN: Petugas tengah memberikan layanan penanganan HIV/AIDS di Puskesmas Karang Taliwang Cakranegara belum lama ini.

HIV/AIDS adalah penyakit mematikan. Penderita juga akan mendapat stigma buruk di tengah-tengah masyarakat. Itu sebabnya banyak penderita yang memilih menyembunyikan penyakitnya dengan alasan aib.

 

 


ZULFAHMI-MATARAM


 

Di Mataram, kasus HIV/AIDS meningkat secara kumulatif dalam beberapa tahun terakhir. Rentang 2001 sampai 2016, penderita HIV sebanyak  197 orang, sementara penderita AIDS sebanyak 180 orang dengan jumlah kematian 113 orang.

Pemerintah Kota Mataram bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) terus bekerja untuk sedini mungkin mendeteksi warga yang teridentifikasi virus yang mematikan ini. Mulai dari sosialisasi dan melakukan upaya pencegahan dengan sosialisasi penggunaan kondom. Namun hasilnya belum maksimal. Agar mudah terdeteksi, Dinas Kesehatan menggandeng Puskesmas. Puskesmas diberikan fasilitas untuk bisa melakukan sosialisasi dan layanan konsultasi bagi masyarakat yang punya resiko tinggi menderita HIV/AIDS.

Salah satu Puskesmas di Kota Mataram yang aktif memberikan pelayanan konsultasi dan deteksi HIV/AIDS adalah Puskesmas Karang Taliwang Kecamatan Cakranegara. Petugas setempat, I Nyoman Suwarsana, menjelaskan selama ini pihaknya kesulitan melakukan deteksi apalagi mencari warga yang mau terbuka menyatakan diri menderita HIV/AIDS. Sebab yang menjadi halangan masyarakat untuk terbuka yakni masih adanya stigma di masyarakat bahwa penyakit ini adalah penyakit “orang nakal”. “Stigam dan cap ini yang membuat masyarakat takut memeriksakan diri,” ungkapnya kepada Radar Lombok kemarin.

Padaha HIV/AIDS kini tidak hanya menyerang orang-orang yang suka berhubungan seks bebas, tetapi juga menyerang ibu-ibu rumah tangga.”Kasus ibu rumah tangga yang baik-baik sudah banyak terpapar virus HIV/AIDS,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Puskemas Karang Taliwang Terakreditasi Tingkat Madya

Kalau hanya menunggu warga melapor, tentu sulit. Untuk bisa menemukan penderita HIV, digunakan pola jejaring pelayanan Risiko Tinggi (Rissti) pengidap HIV/AIDS dengan menempatkan para petugas lapangan. Salah satunya dengan membentuk kader peduli AIDS.”Saat Posyandu, kader juga sekaligus bisa melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi HIV/AIDS,” ungkapnya.

Pemeriksaan secara tidak langsung itu bisa dilakukan ketika ada Posyandu. Kader sudah mendapatkan pelatihan dari KPA dan Dinas Kesehatan. Sudah ada sekitar 10 kader yang diberikan pelatihan. Mereka ditempatkan di lingkungan yang banyak kelompok masyarakat  beresiko tinggi. Selain itu mereka juga dibantu oleh petugas penjangkau lapangan.

Cara lain yang digunakan Puskesmas yakni dengan melakukan pendekatan terhadap kelompok Wanita Pekerja Seks (WPS). Biasanya para wanita pekerja seks ini ada kelompoknya. Maka kelompok-kelompok ini juga didekati dan diberikan pemahaman. Termasuk melakukan koordinasi dengan mucikari atau germo.” Kadang mereka juga datang sendiri, jika ada yang mendeteksi temannya terpapar HIV/AIDS,” jelasnya.

Satu hal yang harus diketahui masyarakat, HIV/AIDS tidak akan menular dengan bergaul, bersentuhan bahkan makan disatu tempat dengan penderita. Untuk itu ketika ada warga yang terpapar HIV jangan dikucilkan apalagi diberikan stigma buruk. HIV/AIDS hanya akan menular kalau melakukan seks bebas dan menggunakan drugs.

Saat ini bagi penderita atau yang dikenal dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa mendapat obat ARV. Obat ini tidak bisa membunuh virus, tetapi bisa mempertahankan hidup penderita HIV/AIDS dalam jangka panjang, dengan catatan obat diminum seumur hidup.(*)