Kite Surfing Kaliantan, Destinasi Baru yang Banyak Diburu

SIAPAPUN pasti telah mahfum, Pulau Lombok kini telah menjelma sebagai daerah tujuan wisata berkelas internasional. Dimanapun lokasi, selama masih di wilayah Lombok, beragam obyek wisata tersaji indah. Mulai dari kemolekan Pantai Senggigi di Lombok Barat, hingga Eksotisme Gili Trawangan di Lombok Utara, yang tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan.

Jika bosan dengan wisata yang itu-itu saja, pengunjung juga bisa mencoba pengalaman baru dengan berkunjung ke wisata minat khusus, yang memang belum banyak diketahui wisatawan.

Salah satunya adalah Kite Surfing di Pantai Kaliantan, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Dari Ibukota Provinsi NTB, Kota Mataram, menuju Pantai Kaliantan dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke lokasi ini.

 

 

 

Kite surfing, atau selancar layang merupakan variasi olahraga yang cukup unik, menggabungkan penggunaan sebilah papan selancar dan sebuah parasut yang digerakkan dengan hembusan angin.

Penggagas Kite Surfing Kaliantan, Lalu Putradi, mengatakan, ide ini bermula saat dia itu sedang mengantar turis asing ke Kawasan Pantai Kaliantan. “Tidak sengaja, awalnya lagi jalan-jalan di Kaliantan sama bule. Pas sampai disana, bule bilang anginnya cocok untuk kite surfing," katanya, belum lama ini.

Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi dia untuk membuat untuk membuat kite surfing di Kaliantan pada dua tahun lalu. Keunggulan Kite Surfing Kaliantan dibandingkan tempat lain di Lombok adalah garis pantai yang luas dan panjang, hingga mencapai tujuh kilometer.

Selain itu, hembusan angin di Kaliantan juga memiliki rentang waktu terlama hingga tujuh bulan, yang biasanya dimulai sejak Maret hingga Oktober, atau lebih lama dibandingkan kawasan pantai lain di Lombok yang biasanya hanya sekitar dua bulan saja.

Arah angin dari laut ke pantai, atau on shore dengan kecepatan berkisar 18 knot sampai 25 knot, juga menjadi kelebihan lain di Kaliantan. Sehingga dari sisi keselamatan lebih terjamin, dibandingkan pantai yang memiliki arah angin sebaliknya, atau off shore.

Kondisi ombak di Kaliantan juga cukup bervariasi, dengan tingkatan skala kecil, hingga yang mencapai 700 meter. Hal ini tentunya mengakomodir para pengunjung dari yang pemula hingga yang berstatus profesional.

Diakui, hingga kini jumlah kunjungan wisatawan baru mencapai 200 pengunjung, yang seluruhnya adalah turis-turis asing dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Perancis. Kebanyakan dari mereka membawa sendiri peralatan untuk kite surfing. Sedangkan bagi yang tidak membawa peralatan, pihaknya juga menyewakan peralatan kite surfing sebesar 70 US$ atau sekitar Rp 911.330 selama tiga hari, dengan durasi dua jam per harinya. Para turis, kata dia, menilai Pantai Kaliantan memiliki salah satu angin terbaik di Asia.

Pihaknya juga menyiapkan Kaliantan Paradise Bungalow Retreat yang bisa dimanfaatkan para peselancar untuk bermalam. Mengingat masih merintis, maka kini baru tersedia tiga kamar saja, dengan tarif yang fleksibel. Kebanyakan para peselancar lebih memilih mendirikan tenda di sekitar pantai untuk bermalam.

Karena bagi para peselancar, terpenting mereka bisa menikmati Kite Surfing dengan panorama alam Lombok yang begitu indah. “Mereka enggak peduli soal penginapan, yang penting mereka main. Bahkan ada yang dari Pantai Kuta (Lombok) bolak-balik," ungkapnya.

Sebagai destinasi baru yang belum familiar, ia tidak menampik masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Misalnya aksesbilitas menuju ke lokasi wisata, masih banyak ditemui jalan yang berlubang.

Dia berharap, pemerintah daerah terutama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memberikan perhatian lebih dari sisi infrastruktur dan keamanan. Menurutnya, sektor pariwisata di Lombok Timur masih berjalan sendiri-sendiri, meski potensi alam dan wisata Lombok Timur tidak kalah dengan wilayah lain di Pulau Lombok. “Sinergitas antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kata kunci dalam pengembangan pariwisata Lombok,” pungkasnya. (*)