Kiprah Suharni, Aktivis yang Getol Memperjuangkan Nasib Perempuan KLU

SUHARNI AKTIVIS
DEDIKASI: Suharni, aktivis perempuan asal Lombok Utara yang banyak mendedikasikan diri membantu sesama perempuan. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

Di kalangan aktivis perempuan di Kabupaten Lombok Utara Suharni sudah dikenal luas. Dia kerap kali terlibat dalam pendampingan terhadap berbagai kasus  yang menimpa perempuan setempat.


Ahmad Yani — Mataram


Senyum perempuan berusia 38 tahun terus mengembang. Dalam sebuah diskusi yang  dilangsungkan sejumlah organisasi perempuan  NTB untuk memperingati Hari Kartini tanggal 21 April lalu, Suharni di daulat menjadi salah satu pembicara diskusi. Diskusi ini banyak dihadiri aktivis dan penggiat perempuan.

Bukan tanpa alasan, Suharni di daulat menjadi pembicara diskusi tersebut. Kiprah dan sepak terjangnya di kalangan aktivis perempuan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) sudah diakui. Meskipun, ia tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi namun, itu tidak menghalangi dirinya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan perempuan.

Terlebih, apa yang dilakoni tersebut memperoleh dukungan suami dan keluarganya. Ia menuturkan, keprihatinan dan keresahan dirinya terhadap berbagai kasus  yang  menimpa perempuan di KLU menjadi latar belakang dirinya memutuskan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan perempuan. ” Perempuan itu harus menolong dan membantu diri sendiri,” katanya membuka diskusi kala itu.

Dengan tingkat pendidikan rendah, tidak mudah bagi dirinya untuk terlibat aktif dalam kegiatan perempuan. Namun dengan tekad dan kemauan untuk membantu sesama perempuan, dia  melangkah maju kedepan.   Kesadaran dirinya terhadap kondisi dan nasib perempuan di tempat tinggal khususnya di Desa Sokong dan KLU pada umumnya kian memantapkan dirinya terlibat aktif dalam kegiatan perempuan.

Suharni mulai mengikuti kegiatan aktivis perempuan  pada tahun 2010 dan membangun jejaring. Ia pun kemudian, mengikuti banyak pelatihan untuk peningkatan kapasitas perempuan.

Dari pelatihan yang diikuti tersebut, ia banyak memperoleh ilmu terkait  advokasi dan  pendampingan terhadap  perempuan. Lalu pada tahun 2013 dengan dibantu organisasi Kapal Perempuan Jakarta, Suharni pun menginisiasi pendirian sekolah perempuan di Desa Sokong. Sekolah perempuan ini hampir 80 persen beranggotakan perempuan yang dimarginalkan.” Dengan sekolah perempuan sebagai wadah untuk menyatukan kaum perempuan,” ungkapnya.

 Acap kali kekerasan banyak menimpa kaum perempuan. Misalnya, kekerasan dalam rumah tangga dan  kasus lainnya. Namun, karena pendidikan rendah dan tidak ad keberanian serta pengetahuan, mereka pun hanya pasrah menerima perlakuan tersebut.

Melalui sekolah perempuan tersebut, ia memberikan penyadaran bahwa kaum perempuan tidak hanya tahu kasur, mengurus suami dan anak. Namun kaum perempuan pun harus terlibat aktif dalam proses pembangunan di desa agar pro terhadap perempuan dengan tetap memperhatikan kodratnya.

Melalui sekolah perempuan tersebut juga pihaknya memberikan motivasi dan semangat kepada anggota untuk berani melawan ketidakadilan terhadap perempuan khusus terhadap tindakan kekerasan.  Pelatihan dan pendidikan pun rutin diberikan kepada sekitar 100 orang perempuan yang  terlibat aktif di sekolah perempuan tersebut. Alhasil, anggota sekolah ini  sudah banyak banyak terlibat dalam memberikan advokasi dan pendampingan dalam berbagai persoalan acap kali dihadapi perempuan. Misalnya, pelayanan kesehatan oleh BPJS yang sering dikeluhkan masyarakat. Banyak perempuan yang  belum memperolah bantuan kesehatan seperti BPJS dan KIS.

Anggota sekolah perempuan ini juga mampu bernegosiasi dengan berbagai pihak. Mereka juga kerap memprotes  pelayanan dari instansi pemerintah maupun swasta yang acap kali tidak pro perempuan dan berbagai persoalan lainnya. ”

Prinsipnya, kita saling menguatkan di antara perempuan untuk melawan ketidakadilan terhadap perempuan,” pungkasnya.(*)