Jembatan Lendangluar Telan Rp 6,9 Miliar

MELINTAS : Sejumlah pengendara yang menunggu giliran melintasi di jembatan Lendangluar sementara yang disediakan pekerja (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Peningkatan jembatan Lendangluar Desa Malaka Kecamatan Pemenang menghabiskan anggaran Rp 6,9 miliar.

Peningkatan jembatan yang anggarannya bersumber dari APBN 2017 ini untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat dan wisatawan yang melintas di jalur ini menuju Kabupaten Lombok Utara. Ini mengingat jembatan itu merupakan jalur kawasan wisata Malimbu. “Perbaikan jembatan ini dari provinsi, karena itu termasuk jalan negara (nasional). Perbaikan ini untuk peningkatan jembatan, karena kondisi sebelumnya terlalu sempat dan tikungannya sangat tajam,” terang Kepala Desa Malaka H Ichwanudin kepada Radar Lombok, Minggu (4/6).

Pekerjaan yang menghabiskan anggaran Rp 6,9 miliar lebih ini berada bersumber Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga. Pelaksana lapangan dilakukan oleh PT Catur Pilar Perkasa Tangguh dengan mengejar target pekerjaan selama 210 hari.

Ia mengungkapkan, pihak desa telah mengusulkan peningkatan jembatan ini pada tahun 2015 ke kabupaten. Karena jalur ini merupakan jalan negara maka pihak kabupaten mengarahkan ke provinsi. Sehingga pihaknya langsung ke provinsi untuk menyampaikan keinginan masyarakat dan pengendara. Atas usulan itu, pihaknya kemudian pada akhir tahun 2016 mendapatkan informasi kepastian rencana peningkatan jembatan Lendangluar tersebut untuk memulai pekerjaan pada tahun 2017 ini. “Ini kami dari desa mengusulkan ke pemerintah provinsi atas aspirasi masyarakat dan pengendara,” katanya.

Peningkatan dan pelebaran jembatan ini sangat penting, karena menurutnya kondisi jembatan sebelumnya sangat sempit dengan tikungan yang tajam. Kondisi sangat mengkhawatirkan para pengendara, apalagi jalur ini termasuk kawasan wisata. Tentu dengan adanya perbaikan diharapkan akan bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pengendara. “Sebenarnya ini sudah lama dikeluhkan masyarakat, tapi kami berhasil usulkan pada tahun 2015 dan langsung direspon. Tentu harapan kami agar pengendara, terutama kendaraan travel bus pariwisata bisa melaju dengan aman, nyaman dan selamat,” harapnya.

Kata Ichwan, jembatan Lendangluar bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan oleh pemerintah provinsi. Yang perlu juga menjadi perhatian yaitu tanjakan Malimbu yang dekat hotel Amarsvati juga perlu lebih direndahkan tanjakannya. Karena akibat tanjakan terlalu tinggi dan panjang sangat mengkhawatirkan bagi pengendara bus-bus pariwisata. Seperti peristiwa kecelakaan yang terjadi pada awal tahun ini yang menewaskan sejumlah orang dan belasan luka-luka. “Kami berharap pada tahun berikutnya bisa direspon untuk penggalian badan jalan,” harapnya.

Tak hanya itu, Ichwan juga mengaku sudah meminta lampu penerang jalan umum (PJU). Pemdes setempat sudah beberapa kali mengusulkan, baik ke kabupaten maupun ke provinsi. Namun, sampai sekarang belum ada respon.

Permintaan ini, sambung dia, mengingat jalur ini banyak keluhan masyarakat dan wisatawan yang melintas pada malam hari. Apalagi, kondisi keamanan di Desa Malaka saat ini tidak aman. Terjadi sedikit rawan kaitan dengan aksi pencurian ternak. Hal itu disebabkan salah satu faktor tidak terpasangnya PJU. “Jalur sepanjang 5 km ini perlu dipasangkan (PJU) separuh dulu,” pintanya.

Selanjutnya, dengan geliat pengembangan industri pariwisata, pihaknya sudah berdiskusi mengenai perlu keberadaan pos polisi. “Pos polisi kami sudah diskusikan dan akan kami bicarakan dengan Polres lebih jauhnya,” pungkasnya. (flo)

BACA JUGA :  Polisi Kantongi Calon TSK Jembatan Roboh