IFSCA Berikan TOT Trauma Healing

IFSCA Berikan TOT Trauma Healing
TOT : Seorang narasumber memberikan pelatihan kepada peserta yang akan turun memberikan trauma healing kepada petani yang menjadi korban gempa di Lombok Utara. (IFSCA KLU FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM – Program IFSCA (East Indonesia Innovative Farming Systems & Capability for Agribusiness Activity) atau Inovasi Sistem Pertanian dan Kemampuan untuk Kegiatan Agribisnis Indonesia Timur ikut terlibat dalam memberikan Training of Tainer (TOT) trauma healing korban gempa di Hotel Lombok Raya Mataram, Rabu (19/9).

Sebagaimana diketahui, IFSCA diprakarsai oleh Universitas Massey-New Zealand bekerja sama dengan Univeritas Mataram dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU). Program ini sudah berjalan tiga tahun. Fokusnya pada pengembangan tanaman hortikultura di KLU. Kegiatan TOT trauma healing dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas bagi peserta agar dapat melakukan upaya pemulihan trauma kepada petani sehingga memungkinkan petani memiliki semangat untuk bangkit kembali dan mulai melakukan kegiatan budi daya sehingga penyediaan buah dan sayuran dengan kualitas tinggi, aman, dan berkelanjutan untuk pasar hotel maupun regional segera dapat dilakukan kembali.

Project Leader IFSCA, Prof. Ir. M Taufik Fauzi, MSc, Phd menjelaskan, pemberian trauma healing tersebut bertujuan untuk pemulihan psikologi sebagai akibat kecemasan yang timbul karena gempa. Untuk hal dimaksud kegiatan diawali dengan memberikan pelatihan bagi pelatih (Training of Tariner) yang difasilitasi oleh Caecilia Nirlaksita Rini, S.Psi, M.Si Psikolog dengan jumlah peserta 39 orang yang berasal dari Tenaga Ahli, Filed Officer, PPL dan sejumlah petani hortikultura KLU.

Lebih lanjut Taufik menerangkan, trauma healing merupakan hal yang penting untuk diri pendamping maupun korban gempa. Dalam kesempatan ini pihaknya mengharapkan narasumber untuk juga menularkan teknik membangun semangat sehingga petani binaan IFSCA dapat kembali memupuk optimisme untuk bangkit dari gempa. “Kami berharap bisa membawa kebahagiaan dan menumbuhkan semangat petani hortikultura Lombok Utara untuk kembali mengejar mimpi mereka,” sambungnya.

Sementara di tengah peserta pelatihan, Caecilia Nirlaksita Rini memberikan motivasi agar terus optimis dan memiliki semangat dalam kondisi dan situasi apa pun. Dia mengaku berterima kasih sekali ikut dilibatkan dalam upaya trauma healing ini. Dia berharap kehadirannya dapat mendorong para Petani untuk berprestasi lagi sebagai mana prestasi sebelumnya yang telah mampu meningkatkan pendapatan sampai angka 60-an persen.

Dalam proses pembelajaran tentang trauma healing, ditegaskan oleh narasumber bahwa bantuan pertama yang diberikan pada penyintas (korban) dalam situasi krisis adalah bantuan psikologis yang difokuskan pada bantuan fungsi kapasitas mental bukan bantuan konseling seperti psikolog profesional. Kondisi krisis sering kali memperlihatkan situasi ketakutan, mencekam atau juga situasi menekan (stres). Selain itu, dalam kondisi serupa serin gkali dibarengi dengan kebingungan bagaimana cara untuk bergerak memberi bantuan, bagaimana cara memahami korban serta tidak luput pula dari kebingungan bagaimana cara membantu sekaligus merawat diri sendiri dan penyintas.

Di sisi lain narasumber menekankan bahwa setelah kondisi krisis, penyintas akan dihadapkan pada situasi harus bertahan dalam situasi yang serba terbatas, menderita dalam krisis, dan situasi yang mengharuskan segera mencari solusi. Untuk hal tersebut, setidaknya bisa dimulai dengan memberikan bantuan kebutuhan dasar yang mendesak, mengamati ekspresi dan prilaku penyintas serta mengamati bila ada penyintas yang luka. Untuk itu maka “lihat”, “dengar”, “hubungkan” dan “rawat diri sendiri” adalah prinsip utama.

“Lihat” dimaknai sebagai upaya untuk menemukan/mengamati akan sejumlah hal seperti apa ada masalah fisik, apakah ada cacat fisik, apakah ada gejala ketakutan, trauma, dan depresi. Terkait dengan “dengar”, Caecilia menyarankan agar pendamping seyogyanya menggunakan pendekatan yang tidak menyalahkan atau menambah penderitaan penyintas, dengarkan keluhan dengan empati dan telaten, mendengar dengan ketulusan, mencatat pesan yang penting bagi penyintas serta mendengarkan dan menemukan kebutuhan mendesak Penyintas.

Lain halnya dengan “hubungkan” (LINK). Kaitan dengan hal ini, LINK dimaknai sebagai upaya mencari kebutuhan dasar penyintas yang dibarengi dengan membantu menyediakan kebutuhan penyintas bila memungkinkan dan atau aktif menghubungkan kebutuhan penyintas pada pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Memperhatikan hal hal tersebut, maka kualifikasi seorang pendamping setidaknya mempunyai niat baik dan cepat tanggap, tanggap lokasi, keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama pada bencana, keterampilan bertahan dalam situasi krisis, kemampuan sosial dan pengetahuan budaya. Jaga fungsi emosi, harmoniskan perasaan, pemikiran, perilaku, tubuh dan jiwa serta jaga kesehatan fisik adalah ihwal yang menjadi perhatian untuk pendamping.

Materi praktik trauma healing memberikan pembelajaran berharga bagi peserta TOT. Sejumlah hal bisa dijadikan catatan agar pelaksanaan trauma healing di lapangan bisa berjalan di antaranya: berperilaku wajar selaras dengan adat setempat, hormati kerahasiaan penyintas, jangan memaksakan kehendak, jangan membagi informasi tentang cerita penyintas pada orang lain, jangan menilai orang dari perilaku dan perasaan yang diperlihatkan, jangan meminta imbalan, dan jangan memaksa bila penyintas tidak mau ditolong. Untuk memenuhi tuntutan dimaksud, maka seorang pendamping seyogyanya mendampingi dengan tulus, senantiasa menyampaikan ungkapan pendampingan bahwa “Saya bersama anda, saya harap mampu membantu ketenangan anda, anda aman bersama saya, tempat ini aman untuk anda, kita berusaha bersama menghadapi dan menerima secara ikhlas,” ucapnya.

Akhir diskusi narasumber menaruh harapan banyak bahwa melalui pembinaan IFSCA petani sayur dan buah KLU mampu melakukan pemulihan trauma. Pendamping hendaknya meyediakan waktu yang cukup untuk mendengarkan keluhan penyintas, beri dorongan dengan sikap ramah tapi tegas, jangan menunjukkan sikap jengkel atau marah, sebaiknya mengerti perasaan dan tingkah laku penyintas. Dengan demikian maka proses pemulihan akan berjalan sehingga semangat akan bangkit kembali dan sudah tentu akan berdampak pada kontinuitas produk akan mulai terjaga dengan mutu produk yang aman untuk dikonsumsi (grow safe) serta mampu bersaing dengan produk dari tempat lain. Demikian ditandaskan Caecilia. (adv)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut