IFSCA Ajak Pengelola Seddling House KLU Cross Visit ke Lotim

Belajar Tata Kelola Pembibitan

IFSCA
CROSS VISIT : Manager Program IFSCA KLU, Lukman Taufik mendampingi 12 Pengelola Seddling House KLU belajar tata kelola pembibitan ke Lotim. (IFSCA KLU UNTUK RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Melalui program IFSCA (East Indonesia Innovatife Farming Systems dan Capability for Agribusiness Acitivity) atau Inovasi Sistem Pertanian dan Kemampuan untuk kegiatan Agribisnis Indonesia Timur melakukan cross visit (kunjungan/study banding) ke Kelurahan Jorong Kecamatan Selong, Lombok Timur, Kamis lalu (25/7).

Kegiatan ini diikuti 16 orang peserta yang berasal dari 12 Pengelola Seedling House (rumah pembibitan), dan 4 orang Field Officer dimana 7 orang (43 %) merupakan peserta perempuan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pendapatan petani Kabuaten Lombok Utara (KLU) melalui pengembangan usaha tani hortikultura (sayur dan buah).

Manager IFSCA KLU, Lukman Taufik mengungkapkan, esensi pengembangan Seedling House merupakan upaya membantu petani dalam mengatasi ihwal tentang ketersediaan bibit hortikultura yang acap kali tidak tersedia sehingga pelaksanaan budidaya sayur dan buah seringkali tertunda. Lukman menekankan agar pengelolaan seedling haouse dilakukan secara bagus. “Cross visit ini setidaknya akan mampu memberikan pembelajaran ke arah pengelolaan yang sesuai harapan. Hal ini pasti bisa terwujud apalagi dimulai dengan kerja sama yang bagus antar segenap unsur yang terlibat dalam pengelolaan,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Kamis (1/8).

Dari materi pembelajaran, disarankan sedapat mungkin setiap peserta mengungkapkan kasus lapangan dan dijadikan menjadi bahan diskusi. Dengan demikian maka proses pembelajaran akan menjadi lebih efektif guna menjawab ihwal yang menjadi permasalahan dalam pengelolaan Seedling House. Sebab dalam tujuan cross visit itu yakni petani memperoleh wawasan/keterampilan dalam melakukan proses pembibitan, dapat melakukan tukar pengalaman mengenai tata kelola proses pembibitan dan pemasaran bibit tanaman hortikultura.

Pada proses pembelajaran, petani diajarkan mulai dari cara pemilihan benih, campuran media semai dan penanganan penyakit rebah kecambah menjadi isu dominan. Dalam arahan, petani diimbau memulai dengan mencermati tanda hologram pada setiap kemasan benih sembari mencermati bentuk benih. Jika bentuknya seragam pertanda benih bagus. Benih dapat diuji melalui perendaman di dalam air.

Dari hasil uji bila ditemukan ada benih yang mengapung berarti benih tidak bagus. Petani juga bisa menambahkan untuk benih yang pakai kemasan penting juga dilihat masa berlaku, serta cek kemasan apa ada yang rusak. Terkait dengan media semai, dengan menggunakan tanah sekitar perakaran bambu biasanya kaya akan mikroorganisme yang dapat membantu untuk mengikat Nitrogen di udara.

Kemudian, pada pemasaran, petani diminta tetap memperhatiakn kualitas hal yang harus tetap dipelihara dan dibarengi dengan ketepatan waktu pengiriman bibit sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Kaitan dengan itu diharapkan agar pengelola Seedling House mampu mempertahankan kondisi serupa sembari memperhatikan aspek kontinuitas sehingga mampu bersaing dengan produk bibit dari tempat lain.

Selama empat tahun berperan aktif membantu petani di KLU. IFSCA sudah membangun Seedling House yang berkedudukan di lima di antaranya Lokok Bata, Sesait, Kayangan, Gumantar, dan Salut. Yang dijadikan sebagai pusat pembibitan sayur dan buah guna memberikan layanan yang cepat untuk penyediaan bibit bagi para petani.

Untuk itulah, melalui program pemberdayaan petani ini diharapkan terus meningkatkan kapasitas dan keterampilan dalam budidaya hortikultura sehingga memungkinkan petani Lombok Utara untuk menyediakan buah dan sayuran dengan kualitas maupun kuantitas memadai, aman dikonsumsi dan berkesinambungan untuk pasar hotel maupun regional.(flo/luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid