Hendak Bantu Suami, Sumiati Malah Terbawa Arus Banjir

RUMAH SUMIATI: Beginilah kondisi rumah Sumiati korban yang meninggal dunia, saat banjir bandang pada senin (6/12) lalu di Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar. (ZULFAHMI/RADAR LOMBOK)

Sumiati adalah salah satu korban yang meninggal dunia saat banjir Bandang di wilayah Kecamatan Batulayar dan Gunungsari Lombok Barat pada Senin (6/12). Sumiati ditemukan di bawah tumpukan material longsor tidak tidak jauh dari rumahnya di dekat masjid Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar Barat.

  ZULFAHMI-LOMBOK BARAT  

Jarum jam menunjukan pukul 12.00 Wita mendekati waktu salat Zuhur. Suara lantunan ayat suci Alquran sayup-sayup terdengar dari pusat lokasi banjir bandang di Dusun Batulayar Utara. Di Masjid Nurul Iman Batulayar Utara yang kemarin dipenuhi lumpur sudah mulai bersih. Banyak relawan yang bergotong royong melakukan kegiatan bersih masjid.

Para relawan dari TNI dan Polri dan relawan lainnya nampak sedang duduk di masjid yang sudah bersih kembali. Mereka duduk menunggu untuk melaksanakan ibadah salat Zuhur. Tidak jauh dari masjid, ada sosok lelaki  tua menggunakan peci putih dengan baju kaos kerah berwarna hitam. Lelaki ini tampak sedang mencari benda di antara tumpukan material longsor. Ia memungut satu dompet berwarna pink. Setelah menggosok dompet yang ditemukan, terlihat ada pas foto anak perempuan dengan seragam SMP. Ternyata foto tersebut adalah cucunya yang rumahnya rusak diterjang banjir. “Saya lihat foto ini. Ini foto cucu saya, ini dompetnya,” tutur H.Suhaili, Kamis (9/12).

BACA JUGA :  Melihat Aktivitas Pejuang Subuh Pemuda Jempong Bersatu

Posisi wartawan Radar Lombok saat ngobrol dengan H Suhaili tidak jauh dari rumah Sumiati, korban yang meninggal dunia. H Suhaili sendiri adalah ipar dari almarhumah Sumiati. “Sumiati itu ipar saya, ia meninggal terseret arus banjir bandang,” tuturnya sambil menunjukan rumahnya Sumiati.

Suhaili pun menuturkan bagaimana kejadian sebelum Sumiati meninggal. Pada Senin (6/12) pagi, hujan memang sudah turun di perkampungan itu.  Sebelum kejadian Sumiati berada di dalam rumah sekitar pukul 09.00 Wita. Sedangkan suaminya, Jumain berada di halaman rumah. Suaminya turun untuk memindahkan sepeda motor yang ada di luar.

Karena melihat suaminya yang sedang berusaha memindahkan sepeda motor, Sumiati keluar berniat untuk membantu suami memindahkan sepeda motor. “Sudah diperingati oleh suaminya agar jangan turun ke halaman rumah. Tapi itulah takdir, tiba-tiba air ini datang dengan ketinggian melebihi pohon kepala menerjang rumah warga dan Sumiati terseret banjir. Ia kemudian ditemukan sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Niat istrinya untuk membantu suaminya berbuah petaka. Setelah turun ke halaman, air tiba-tiba datang dan menyeret Sumiati hingga menyebabkannya meninggal dunia. “Untung ada tali tempat berpegangan suaminya hingga tidak sampai hanyut terbawa arus bersama istrinya,” sesalnya.

BACA JUGA :  Dari Sampah Organik, Tembus Pasar Eropa dan Timur Tengah

Kini untuk sementara, Jumain tinggal di posko sementara yang sudah dibuatkan. Kondisi Jumain masih truma dan sekarang dalam kondisi sakit, karena ia melihat langsung bagaimana istrinya yang terseret air banjir. Dalam kondisi itu, Sumiati sempat meminta pertolongan dengan berusaha melambaikan tangan ke atas agar bisa terlihat untuk bisa ditolong. “Hanya tangannya saja yang terlihat di atas melambai meminta tolong. Kejadian itu terus diingat suaminya,” tuturnya.

Sebagai keluarga, semua kegiatan zikir dan tahlilan untuk almarhumah yang meninggal tetap dilakukan. Tahlilan dan zikir dilakukan dirumahnya yang lebih aman dari banjir. Karena sudah tidak ada tempat lain lagi kalau harus dilakukan rumah sang suami. “Sekarang Jumain masih sakit, jadi untuk sementara dilakukan di rumah,” katanya.

Sebagian tembok rumah Jumain jebol dihantam air. Di atas teras depan rumahnya, ada mesin jahit berdiri. Rumah Sumiati berwarna putih dengan atap genteng masih tertutup lumpur dan tumpukan kayu yang terbawa banjir. (bersambung)