Menjenguk Keluarga Fatimah; Ibu dan Anak Lumpuh Total

Hidup dari Uluran Tangan Tetangga, Butuh Bantuan Pemerintah

Ibu dan Anak Lumpuh
LUMPUH: Fatimah dan Zulkarnain lumpuh total tanpa bisa berbuat apa-apa di dalam rumahnya. (JAWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Sungguh miris dan menyesakkan penderitaan dihadapi Fatimah bersama anaknya Zulkarnain, asal Kampung Muhajirin Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Lombok Timur. Fatimah yang sudah berumur 80 tahun lebih, hidup dalam kondisi lumpuh bersama anaknya bernama Zulkarnain.


JANWARI IRWAN-LOMBOK TIMUR


ZULKARNAIN sendiri, lumpuh dan tuna wicara sejak kecil. Selama lumpuh, hanya mengharap belas kasih tetangga yang ikhlas datang mengantarkan kebutuhan sehari-hari. Kendati sama-sama cacat, dengan hati yang besar dan penuh kasih sayang, Fatimah menyuapi anaknya yang juga lumpuh.

Fatimah alias Inaq Mahsun mengaku menderita kelumpuhan sejak dua tahun silam. Meski ia dalam kondisi lumpuh total, tidak membuatnya menyerah dalam menjalani hidup dan merawat anaknya. Rasa syukur selalu dipanjatkan, kendati kehidupannya cukup memprihatinkan. “Meski seperti ini saya selalu bersyukur, dan saya tidak bisa menyerah begitu saja,” tutur Fatimah saat dikunjungi Koran ini, Minggu (8/4).

Selama ini, sambung Fatimah, mereka tinggal rumah panggung yang reyot dan kondisi fisik yang terbatas, tidak pernah tersentuh bantuan. Pemerintah Desa Tanjung Luar tak pernah meliriknya. Anehnya, setiap ada program selalu difoto bersama tempat tinggalnya. Namun, tak terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH). “Hanya sekali saya dapat beras kesejahteraan (rastra) sebanyak 5 kg, kalau sebelumnya saya tidak dapat,” akunya.

Jangankan bantuan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diperolehnya, bantuan kesehatan seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) pun tidak terdaftar bersama anaknya. Sehingga, seperti apapun kondisi sakitnya, tak pernah bisa pergi berobat. “Kalau penyakitnya lagi datang, kaki saya serasa mati dan tidak bisa bergerak. Begitu juga dengan anak saya kalau sedang kumat, bisa membiru dan tak bisa apa-apa,” ceritanya.

Adanya anggapan selama sehat sering mengkonsumsi obat sembarangan, ibu lima anak ini membantahnya. Menurutnya, ia tak pernah mau minum obat yang dijual di kios dan sebagainya. Alasannya, tidak ingin pengelihatannya terganggu. “Gak pernah mau saya beli obat, “ katanya.

Ia juga mengaku, meski mempunyai banyak anak, namun sudah beberapa tahun belakangan tak pernah dijenguk anak-anaknya. Meski pun itu saat lebaran Idul Fitri. Meski demikian, ia selalu memberikan doa agar anak-anaknya tetap sehat. ”Saya selalu panjatkan do’a untuk mereka agar tetap sehat dan rezekinya lancar,” ucapnya sambil menunduk.

Sementara itu, Kepala Desa Tanjug Luar Mukti Ali membantah kalau pemerintah desa tidak memberikan perhatian kepada warganya. Kepala desa sudah mengusulkan ke Dinas Sosial Pemukiman dan Perumahan, bahkan keluarga ini sebelumnya mendapat bantuan bedah rumah, namun tidak dibangun. “Dari kepala desa sebelumnya juga pernah diberikan bedah rumah tapi diuangkan, sehingga bantuan itu tidak kelihatan. Jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan tidak ada perhatian dari pemerintah desa,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini pemerintah desa juga sudah mengusulkan bantuan penyandang distabilitas dari APBDes. Masyarakat yang kurang mampu bisa diberikan bantuan. ”Tapi namanya pemerintahan,semua itu harus butuh  proses. Saat ini juga yang kita usahakan bagaimana pasrtisipasi masyarakat setempat memberikan bantuan keluarga ini,” katanya.

Bukan hanya itu, lanjut Mukti, pemerintah desa sudah mengusulkan adanya penambahan penerima beras sejahtra. Di mana data yang ada saat ini masih menggunakan data tahun 2015. Dalam data ini keluarga yang mengalami lumpuh ini tidak mendapat bantuan. “Karena tidak dapat bantuan rastra, ada warga yang pindah dan meninggal. Kita alihkan bantuannya ke dua orang yang mengalami lumpuh total ini. Jadi kalau ada yang mengatakan kita tidak pernah memberikan perhatian, istri dan saya sering berkunjung ke sana. Masyarakat sekitar juga sangat peduli dengan mereka,” tandasnya. (**)