Hasni Gantung Diri di Kandang Sapi

GANTUNG DIRI: Amaq Husni warga Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela tewas gantung diri di kandang sapi. (ist)

SELONG – Amaq Hasni alias Hasni warga Dusun Aik Telir Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Lombok Timur ditemukan tewas gantung diri di kandang sapi miliknya Rabu (10/2) sekitar pukul 18.00 WITA.

Mayat korban pertama kali ditemukan istrinya yang sedang mencarinya. Istri korban pun sontak kaget dan histeris melihat suaminya tergantung. Warga setempat bergegas ke lokasi untuk melihat langsung kejadian. Selanjutnya dilaporkan ke Polsek setempat dan petugas pun ke lokasi untuk mengevakuasi mayat korban dan menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).” Mayat korban selanjutnya dibawa ke Puskesmas Pringgasela,” kata Kapolres Lotim melalui Kasubag Humas Iptu Lalu Jaharuddin.

Sebelum kejadian, korban sempat makan malam di rumahnya. Sementara istrinya pergi wudhu’ untuk salat Magrib. Sekeluarnya dari kamar mandi, korban sudah keluar dari rumah. Istrinya pun sempat menanyakan keberadaan korban ke salah seorang warga yang kebetulan datang ke rumah untuk mengembalikan sekop yang telah dipinjam. Warga itu memberitaukan jika suaminya berjalan ke arah kandang sapi. ” Setelah itu istrinya masuk ke rumah untuk salat. Selesai salat istri korban kemudian ke dapur dan mengambil korek untuk membakar sampah di kandang,” terangnya.

Namun ketika masuk ke kandang sapi, korban sudah ditemukan dalam kondisi tergantung menggunakan tali yang dililit di lehernya. Istrinya pun langsung memeluk korban sambil berteriak minta bantuan. Warga lainnya pun datang membantu.
”Dibantu warga, mayat korban kemudian diturunkan dari tali gantungan. Tapi kondisi korban sudah tidak bergerak. Korban sempat dibawa ke rumahnya,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan tim medis, pada tubuh korban tidak ditemukan ada tanda tanda kekerasan melainkan hanya bekas jeretan tali di bagian leher. Pihak kepolisian belum bisa memastikan apa yang melatarbelakangi korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. ” Pihak keluarga menolak untuk lakukan otopsi. Mereka menerima kejadian ini dan menggangapnya sebagai musibah. Mayat korban diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan,” tutup Jaharuddin. (lie)