Hafal 30 Juz, Rasa Malas Jadi Tantangan Paling Berat

Kisah Para Penghafal Alquran
MEMBIMBING : Lalu Muh. Khairrurazaq Al-Hafiz (peci putih-tiga dari kiri) saat membimbing rekan-rekanya menghafal Alquran di Ponpes Baitul Qurro Wal Huffaz yang dikelola oleh ayahnya sendiri. (Gazali/Radar Lombok)

Nama  Lalu Muhammad Khairurrazaq Al- Hafiz telah cukup dikenal. Beragam prestasi telah diukirnya. Salah satunya, dia telah mengharumkan nama Indonesia  atas prestasinya menjuarai  Lomba MQH 10 Juz tingkat Asia Pasifik tahun 2016 lalu .


M.GAZALI–LOMBOK TIMUR


Lalu Muhammad Khairrurazaq Al-Hafiz atau yang biasa disapa  Hafiz merupakan hafidz yang memiliki keistimewahan.  Kemampuanya dalam menghafal dan  membacakan Alquran sudah tidak diragukan lagi. Hafiz yang kini masih duduk dibangku kelas VII SMP IT, memiliki  segudang prestasi dalam dunia tahfidz baik itu  lokal, nasional dan intrenasional.

Prestasi yang sangat hebat dan membuat namaya begitu mulai dikenal   banyak  orang ketika Hafiz berhasil menjuarai MQH 10 Juz tingkat Asia Pasifik yang digelar oleh kerajaan Arab Saudi   di Jakarta sekitar pertengahan 2016 lalu.  Lomba  ini diikuti  oleh  45 negara. Suaranya yang  merdu, tajwidnya yang fasih, begitu memukau para dewan juri. Dia pun akhirnya keluar sebagai juara. 

Ketika menjuarai MQH Asia Pasific,  Hafiz baru menghafal 13 juz. Itu dimulainya sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan bimbingan orangtuanya  Lalu Muhibaan  pimpinan Ponpes Baitul Qurro Wal Huffaz  Dusun Berangkah desa Kerongkong Lombok Timur (Lotim).   Perlahan dalam diri Hafiz  mulai  tumbuh kecintaan untuk menghafal Alquran. Hafiz pun mula  termotivasi untuk menuntaskan hafalan 30 juz.  Tekad itu pun dibuktikannya. Kurang dari setahun,  Hafiz mampu menyelsakan hafalan  dari sebelumnya 13 juz  menjadi  30 juz. ‘’ Sekarang sudah 30 juz saya hafal. Saya melakukan sendiri, tidak seperti dulu dibimbing oleh Mamiq (ayah,red),” jawab Hafiz ketika ditemui di ponpes yang dikelola oleh ayahnya, Sabtu lalu (27/5).

Menuntaskan hafalan  sampai 30 juz   dalam  kurung waktu kurang dari setahun, tentu tidak mudah. Semua butuh kerja keras dan ketekunan. Untuk bisa selesai menghafal 30 juz ini, banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan yang paling berat ialah ketika dihadapkan dengan rasa malas.

‘’ Tantangannya yang palin berat bagi saya itu, malas,” akunya.

Diluar rasa malas, baginya tidak ada kesulitan berartu. Karena dia sudah punya metode tersendiri  untuk mempermudah hafalannya itu. Dikatakan, dalam sehari tidak sepenuhnya dia menghabiskan waktu untuk menghafal. Namun ada waktu—waktu tertentu  yang sangat baik yang selau dimanfatkan. Waktu sangat baik untuk menghafal, yaitu setelah salat Subuh dan selsai salat Duha. Terkadang juga  setelah salat  Ashar.‘’ Yang penting kita manfatkan waktu sebaik mungkin.  Selain itu, kita juga harus mencari motode yang yang cepat dan tepat bagi kita untuk menghafal. Misalnya mengunakan metode Tarjim atau menghafal dengan terjamah, itu juga sangat cocok,” lanjutnya.

Dalam sehari dia menargetkan  bisa menghafal dua lembar,  terkadang juga sampai tiga lembar.  Tapi  ketika rasa malas datang, ia pun kadang merasa berat untuk membaca maupun menghafal Aquran.  Namun dirinya tidak mau  terus  terlarut dengan rasa masalah itu. Ia terus berusaha bangkit, hingga saat ini mampu menuntaskan hafalannya itu.  ‘’ Di dalam benak saya, selalu berupaya bagaimana terus menghafal. Saya terus berusaha, meski tanpa bimbingan Mamiq (ayah, red). Karena saya sudah ada dasar dikasih sama Mamiq,” akunya.

Dia merasa bangga  telah bisa menuntaskan hafalannya.  Hafiz pun punya cita-cita yang  begitu mulai. Setelah selesai menempuh pendidikan SMA di ponpes yang dikelola ayahnya, dia berharap bisa melanjutkan pendidikannya di Tanah Suci  Makkah. Karena impian terbesarnya yaitu    bisa diangkat menjadi imam besar di Masjidil Haram. Selain itu, dia juga ingin bisa melanjutkan perjuangan sang ayah membina lembaga pendidikan tahfiz seperti yang dilakukan saat ini. ‘’ Saya juga bercita-cita bisa melanjutkan perjuangan Mamiq di pondok ini,” tungkasnya.(*)