Ekspor NTB Terkendala Kontainer Langka

KONTAINER : Keberadaan kontainer kini mulai menjadi kendala bagi eksportir, karena hargnya mulai naik tinggi. (IST/ RADAR LOMBOK )

MATARAM – Pandemi telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap sejumlah sektor industri. Salah satunya jasa pengiriman kontainer. Kelangkaan jasa kontainer sangat dirasakan oleh para pengusaha atau eksportir di NTB, sehingga untuk ekspor beberapa komoditi terkendala.

Dampak dari kelangkaan kontainer ini dirasakan oleh eksportir yang mengirim dalam jumlah banyak. Sementara yang mengirim sedikit masih bisa menggunakan kargo pesawat. Persoalan kelangkaan ini tidak hanya dialami eksportir Indonesia saja, tetapi hampir seluruh negara eskportir.

“Kondisi kontainer yang semakin sulit karena kelangkaan. Akibat beberapa kontainer dari China ditarik,” kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) provinsi NTB, H Fathurrahman.

Apalagi kontainer lokal belum mampu bersaing dengan kontainer-kontainer China. Ketika terjadi kendala seperti ini mereka tidak punya kontainer kapasitasnya besar, sehingga kontainer yang masih ada ini menjadi rebutan. Meskipun, harganya masih terbilang tinggi.

BACA JUGA :  Petani Tembakau Diimbau Tanam Jagung

“Ini bukan persoalan lokal, kami berharap dari pemerintah pusat mencari solusinya karena di daerah-daerah membutuhkan,” ujarnya.

Meskipun para eksportir ini harus mengirim dari Surabaya, tetapi kontainernya sudah jelas, baik itu kuota atau jatah kontainernya. Jika terlambat mendapatkan kontainer hal tersebut menjadi kendala lagi. Karena buyer (pembeli) menginginkan barang itu tidak ada tawar menawar.

“Dia (buyer,red) tidak tahu persoalan kontainer dan sebagainya, bagaimana barang atau produk itu cepat sampai tepat waktu,” terangnya.

Diakui Faturahman, untuk komoditi dalam jumlah besar yang terkendala untuk mengirim produk mereka keluar, seperti kopi belum lama ini sudah dikirim ke Korea Selatan. Selain itu, ada juga ketak dalam waktu dekat akan dikirim keluar dan membutuhkan kontainer untuk mengirimnya.

BACA JUGA :  Meski Stok Aman, Harga Minyak Goreng Naik

“Sekarang ini kita sedang mencari juga kontainer, harus sebulan sebelum pengiriman sudah disiapkan. Kalau tidak ada, jadi kendala lagi tidak bisa mengirim,” ucapnya.

Kendati demikian, untuk nilai ekspor sendiri bisa saja tergangung namun tidak besar. Karena masih ada beberapa komoditi lain dikirim menggunkan cargo pesawat, meskipun jumlahnya kecil.

Sebelumnya, Owner Etnic Lombok Coffe Dodi Adi Wibowo mengatakan, tingginya biaya ongkos kirim membuat para pembeli harus menunda pembelian. Saat ini permintaan kopi untuk ekspor hanya mencapai 10 ton, jauh menurun dibandingkan kondisi normal.

“Sekarang ini biaya pengiriman satu kontainer kopi dari NTB ke negara tujuan bisa sampai diatas Rp20 juta, sebelum pandemi Rp7 juta. Naiknya sangat tinggi,” katanya. (dev)