Dugaan Pungli Proyek Sanitasi Mencuat

AMIR ALI
Amir Ali (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Dugaan pungutan liar (liar) mencuat di proyek sanitasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah. Proyek program pengendalian, pencemaran dan perusakan lingkungan hidup (DP3LH) ini dibangun akhir tahun 2020 lalu. Anggaran proyek ini sendiri bersumber dari DAK Apirmasi dan DAK Penugasan tahun anggaran 2020.

Informasi yang dihimpun Radar Lombok, sekitar 3.000 unit tangki septic yang disebar di 25 desa di Lombok Tengah. Setiap desa mendapatkan jumlah yang bervariasi, mulai dari 70 unit hingga ratusan unit. Rinciannya, satu unit ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 7 juta.

Dalam perjalanannya, setiap unit diduga dipotong Rp 10 ribu. Dalam proyek ini, setiap kelompok swadaya masyarakat (KSM) rata-rata menangani 100 unit septic. Sehingga rata-rata di antara mereka harus menyetorkan uang Rp 1 juta kepada oknum KSM yang mengkoordinir pungli ini.

Awalnya, uang pungli ini dihajatkan untuk membungkam aparat penegak hukum (APH) ketika mereka turun memantau ke lapangan. Tapi sebelum uang itu sampai dibelanjakan, APH sudah terlebih dahulu mengendusnya. Dugaan pungli inipun akhirnya dibawa ke meja penyidik Polres Lombok Tengah. Beberapa KSM kemudian dipanggil untuk mengklarifikasi dugaan pungli tersebut.

Mengetahui hal itu, pihak DLH pun segera ambil tindakan. DLH mengumpulkan semua KSM untuk dimintai penjelasan. Termasuk mengembalikan uang yang telah terkumpul dan membuat surat pernyataan bahwa tidak ada pungutan.

Tak sebatas itu, Radar Lombok juga mencari tahu fakta sebenarnya di lapangan. Dugaan sementara, pengembalian uang itu tak dilakukan melainkan sebatas formalitas saja. Dengan demikian, ketika perkara ini dipersoalkan APH, maka akan dijawab sudah dikembalikan. Untuk menguatkan pernyataan para KSM ini juga, mereka telah membuat surat pernyataan di atas materai 6000.

Kepala DLH Lombok Tengah, Amir Ali yang dikonfirmasi tak menafikan informasi tersebut. Dia berdalih, dana yang dikumpulkan KSM ini bukan inisiatif DLH melainkan inisiatif KSM sendiri. Muncul keinginan KSM mengumpulkan dana dalam persiapan untuk membiayai pemeriksaan. “Untuk persiapan pemeriksaan yang dimaksud dan bukan untuk dibagi-bagi ke pemeriksa atau bukan tim pemeriksa. Jadi ada salah persepsi, di satu sisi saya tidak tahu bahwa ada kesepakatan antara KSM. Jadi KSM secara mandiri mereka melakukan hal seperti itu,“ kata Amir Ali mengawali pembicaraan dengan Radar Lombok, kemarin.

Persiapan yang dimaksud adalah persiapan kekurangan administrasi setelah dilakukan pemeriksaan di setiap KSM nantinya. Sayangnya, para KSM ini tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada dinas. “Kalau mereka konfirmasi ke saya, maka tentu saya tidak izinkan,” tandasnya.

Bagaimana soal adanya informasi dana yang masuk lewat rekening? Amir menegaskan, hal ini menurutnya  diduga disengaja salah satu oknum agar semua ini terbongkar. Oknum ini seperti sengaja membuat jebakan agar ada jalan untuk membuat persoalan bahwa ini benar-benar pungutuan. “Jadi sama-sama Rp 1 juta/KSM dan kalau saya tidak ditanya sama wartawan, saya tidak tahu,” tegasnya.

Amir menegaskan kembali, apa yang terjadi bukan keinginan dinas. Jika pun ada terjadi pungutan, itu semata-mata dilakukan KSM. Setelah permasalahan itu muncul, baru kemudian DLH mengkroscek kebenarannya dan menemukan bahwa ada potongan. Karenanya, pihaknya segera meminta kepada KSM untuk segera mengembalikan dana tersebut. “Untuk yang transfer ini berbeda yang kirim uang dengan yang seharusnya. Jadi bukan KSM yang kirim,” terangnya.

Amir juga berkilah tak tahu soal nominal anggaran yang sudah terkumpul. Yang ia ketahui ada uang yang menggunakan transfer dan berapapun jumlah uang itu sudah diperintahkan untuk dikembalikan karena bukan hak dari tim pendamping untuk memegang uang itu. “Jadi kalau dipegang oleh KSM, terserah. Tidak ada kaitannya. Yang penting jangan di oknum dinas,” celetuknya.

Amir lantas menyebut, ada 25 desa yang mendapatkan bantuan ini. Beberapa desa di antaranya seperti Selong Belanak, Montong Ajan, dan Mekarsari memang diduga kuat ada permasalahannya. Karena dalam perjalanannya yang belum tuntas hanya di Selong Belanak. “Jadi sekarang Mekarsari sudah tuntas dan Montong Ajan juga sudah selesai. Yang belum tinggal di Selong Belanak,” pungkasnya. (met)