Dua Bendahara SKPD Nyaris Kena Tipu

Drg Ni Made Ambaryati (ZUL/RADARLOMBOK)

GIRI MENANG – Bendahara Dinas Sosial Lombok Barat (Lobar) dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Lobar nyaris tertipu oleh oknum yang mengaku-ngaku sebagai kepala SKPD baru hasil mutasi Selasa (7/3) lalu.

Kabag Humas dan Protokoler Setda Lobar H. Saiful Ahkam mengatakan, sejauh ini baru di dua SKPD tersebut yang melaporkan nyaris kena tipu. Caranya, penipu tersebut menelepon bendahara SKPD, meminta uang dengan nominal tertentu untuk keperluan kepala SKPD baru. “Tetapi untung, belum ada bendahara yang sampai memberikan, karena lebih dahulu diketahui,” ungkapnya kemarin.

Diungkapkan Ahkam, penipuan ini cukup lihai memanfaatkan momen peralihan jabatan lama ke jabatan baru utamanya yang beda SKPD. Seperti misalnya Kepala Dinsos Lobar Drg Ni Made Ambaryati yang sebelumnya menjabat Direktur RSUD Patut Patuh Patju. Kemudian Kepala Bakesbangpol Lobar H. M. Fajar Taufik yang sebelumnya menjabat Sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Lobar.

Diterangkan Ahkam, setelah dilantik memang tidak serta merta pejabat tersebut menempati tempat baru karena masih menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. Sehingga momen peralihan inilah yang dimanfaatkan, terlebih jika bendahara tersebut belum kenal dengan Kepala SKPD baru.

[postingan number=3 tag=”lobar”]

Setahu Ahkam kasus seperti ini juga sempat terjadi dulu saat Bq Eva Nurcahyaningsih, mantan Asisten I Setda Lobar mengisi jabatan baru sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Kelurga Berencana (BP3AKB) NTB. Saat itu bendahara dihubungi untuk menyiapkan nominal uang bagi Eva. Tetapi untungnya bendahara tersebut mengenal Eva dan langsung menghubungi dan ditegaskan Eva tidak ada seperti yang dimaksud penipu tersebut.

Terpisah, Ambaryati yang dikonfirmasi mengungkapkan, kejadian percobaan penipuan ini terjadi Rabu (8/3). Pelaku adalah perempuan berinisial L. Dia menelpon bendahara dan mengaku sebagai Kepala Dinsos sembari menebar ancaman akan memberikan sanksi jika tidak memberikan nominal uang yang diminta yakni Rp 17 juta. Pada waktu itu lanjutnya, Ambaryati memang tidak berada di Dinsos masih berada di RSUD menyelesaikan pekerjaan. Setelah mendapatkan telepon, bendahara perempuan itupun kemudian langsung menuju RSUD untuk menanyakan langsung sembari menangis, apakah benar Ambaryati membutuhkan uang. “Saya jawab tidak benar, dan kebetulan ada rekamannya. Untung nomornya masih aktif, dan saya langsung telepon. Dia ngaku namanya L (inisial) seorang pegawai. Dia mohon agar tidak dilaporkan. Dia mengaku terpaksa melakukan itu karena sangat membutuhkan,” ungkapnya.

Terhadap peristiwa ini, Ambaryati mengatakan akan meningkatkan kehati-hatian. Kemudian terhadap kasus ini sendiri, tidak akan diteruskan ke proses hukum karena takut nanti akan menyita waktu pekerjaan di Dinsos.

Sementera itu, Sekretaris Bakesbangpol Lobar Ketut Sandiasa mengungkapkan, penipu yang menelepon bendahara adalah laki-laki yang mengaku-ngaku sebagai Kepala Bakesbangpol H. M. Fajar Taufik. Penipu tersebut belum sempat menyebutkan nominal, karena bendahara langsung menyerahkan telepon itu ke dirinya. “Tetapi saat diberikan ke saya dimatikan, ditelepon lagi tidak aktif. Mungkin takut dengan orang-orang Bakesbangpol, tegas-tegas. Salah alamat kalau mau menipu di sini,” terangnya.

Lebih lanjut diterangkan Ketut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan SKPD lain. Sejauh ini baru dua SKPD saja yang dihubungi penipu. Ketut sendiri menduga penipu ini bukan orang jauh, karena mengetahui nomor-nomor bendahara. “Ini sedang kita lacak nomornya,” tandasnya. (zul)