Dispar NTB Gandeng Kemenparekraf Gelar Bisnis Forum Industri Pariwisata dan Ekraf

SAMBUTAN: Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal saat memberikan sambutan dalam Bisnis Forum Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bertempat di Lombok Astoria Hotel, Sabtu (24/4/2021). (faisalharis/radarlombok.co.id)

MATARAM–Dinas Pariwisata Provinsi NTB menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI mengadakan kegiatan Bisnis Forum Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) selama dua hari, dari 24-25 April 2021, bertempat di Lombok Astoria Hotel.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal, menjelaskan kegiatan yang melibatkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif (Ekraf) dalam satu forum untuk mengatasi berbagai permasalah dan tentangan dalam meningkatkan kualitas produk dan pasokan target industri pariwisata di Lombok dengan mempertemukan kedua belah pihak, guna membicarakan soal bisnis pariwista dalam hal produk yang nantinya akan disiapkan sesuai apa permintaan dari industri pariwisata.

“Lewat forum ini kita pertemukan. Teman-teman Ekraf nanti akan bicara ke industri pariwisata, baik soal produksi prodak, kemampuan Ekraf, sampai soal kualitas produk kita. Kemudian hal ini nanti akan direspon oleh teman-teman yang di industri pariwisata untuk menjalin kerjasama bisnis,” jelas Fouzal yang baru-baru ini dilantik sebagai Kepala Dishub NTB saat memberikan sambutan.

Mengingat dalam situasi pendemi seperti saat ini, tentu banyak hal yang harus disesuaikan. Maka lewat forum ini nanti akan dibahas bersama apa yang menjadi kebutuhan dari Industri pariwisata maupun dari Ekraf. Sehingga terjadi kesempakatan bersama dalam menampilkan prokduk sesuai keinginan para konsumen atau para wisatawan.

“Dan saya kira diskusi seperti ini akan kita lakukan untuk memastikan teman-teman di Ekraf itu yang sudah produksi ada pasar. Pasti dalam kondisi pandemi ini banyak hal yang harus kita sesuaikan minsalnya dengan kita kembangkan digintal marketing dan lain sebagainya. Tetapi ini dimaksudkan untuk bagiaman kita menjadi satu antara produksi dan pasar ini. Jadi sedarhananya seperti itu,” sambungnya.

Karena keluhan selama ini, IKM berproduksi terus sementara belum jelas pasar dari prodak yang dibuat dimana. Oleh sebab itu lewat forum ini salah satu jawaban untuk menciptakan peluang pasar bagi para IKM. Karena dari industri pariwisata langsung  melihat apa yang akan menjadi kebutuhannya.

BACA JUGA :  Dispar NTB Minta Masukan Asosiasi dan Pelaku Wisata

“Itu yang akan kita diskusikan dalam satu hari ini. Sehingga kemarin saya minta teman-teman bisa sampaikan dari ekraf, ada perwikilan kriya, ada perwakilan dari fashion dan perwakilan dari kulinner cerita disini. Kulinner produksinya ini lho bentuknya, fashion ini lho yang ada diproduksi kita,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Faozal juga melaporkan yang hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari perwakilan dari Hotel, Industri Pariwisata sebanyak 20 peserta, kemudian dari perwakilan Ekraf sebayak 20 peserta. “Kita hadirkan dalam kegiatan ini ada teman-teman dari hotel, dari industri pariwisata ada 20 peserta yang kita undang, kemudian Ekrafnya ada 20 juga,” bebernya.

Ia juga berharap, melalui kegiatan ini nanti akan terjadi interaksi bisnis yang kemudian diformulasi dalam kesepakatan-kesepakatan untuk dilanjutkan ke bisnis antar pihak. “Tidak hanya sebatas sampai disini. Tapi ada kesepakatan-kesepakatan untuk ke bisnis antar kita,” harapnya.

Sementara dalam arahan dan sambutan yang disampaikan, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf RI, Fajar Utomo melalui virtual, menegaskan, bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas terget pasok industri pariwisata di Lombok.
Dimana salah satu tolok ukurnya bagaimana kemudian produk-produk lokal itu semakin banyak dibeli, semakin banyak masuk kepada rantai pasok dari industri pariwisata. “Hal ini memerlukan komunikasi sama yang tadi disampakan pak kadis antara bayar dan seller antara produsen dan konsumennya,” tegasnya.

Sehingga masing-masing bisa mengetahui, apa yang dinginkan dan apa yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak akan terjalin dalam satu kesepakatan bersama. “Baik apa yang diinginkan oleh konsumen, supaya produsen tidak hanya produksi apa dia bisa. Tapi produsen harus lebih tahu apa konsumen butuhkan dan apa konsumen yang diinginkan,” sambungnya.

Untuk itu, ia juga menekankan, agar kegiatan-kegiatan secamam ini terus dilaksakan, baik dalam bentuk forum-forum bisnis maupun diskusi-diskusi antara para pemangku kepentingan yang ada di Lombok untuk saling berkomunikasi supaya masing-masing pihak saling mengisi.

BACA JUGA :  Progres Pembangunan Sirkuit MotoGP Mencapai 60 Persen

“Hanya dengan demikian, bapak ibu  bisa bangkit dengan cepat dari situasi pandemi ini. Emang dalam situasi seperti ini tidak ada kata lain selain kita harus mengandalkan kekuatan dan potensi kita sendiri,” ujarnya.

Mengingat saat ini, kunjungan wisata  sangat bergantung pada wisatawan domestik dan tentunya prodak-prodak yang bisa dinikmati oleh wisatawan domistik itu adalah prodak-prodak lokal sendiri. Bukan prodak-prodak yang didatangkan dari luar.
“Karena memang tidak mungkin kita isolasi diri mengatakan tidak prodak-prodak asing. Tapi paling tidak kita punya keperpihakan ketika sudah prodak-prodak lokal mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut kenapa tidak, kenapa harus memilih prodak luar. Ini penting untuk menjadi pelajaran kita semua lalu bukan hanya kesadaran tetapi juga dibuat sedemikian rupa,” jelasnya.

Bahkan dengan kegiatan ini, pihaknya kemudian akan membuat sebagai file projec untuk diselenggarakan di beberapa destinasi super prioritas lainnya. “Saya kira ini sebuat file project buat contoh yang kita imflikasi di destinasi super prioritas lainnya. Sehingga saya berharap inisiatif hari ini bisa menunjukkan hasil yang nyata. Bisa terjadi deal-deal bisnis, dan saya ingin mendapatkan laporan nanti output dari kegiatan ini harusnya bukan hanya didapatkan oleh peserta hari ini. Tapi berapa dan bagaimana deal product-product bisnis yang terjadi antara industri kreatif, para pelaku UKM kreatif di Lombok dan industri pariwisata yang ada di Lombok,” katanya seraya membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Kegiatan ini juga dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 secara ketat. Sebelum peserta dan tamu undangan masuk ruangan dilakukan swab antigen. Serta tempat duduk peserta dan tamu undangan diatur sedemikian rupa guna mengatisipasi terjadinya penularan Covid-19. (sal)