Dijanjikan ke Singapura, 25 CTKI Ditipu Tekong

SELONG—Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transimigrasi Lombok Timur  kembali menerima pengaduan dari masyarakat. Sekitar 25 warga yang akan menjadi Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) mengaku di tipu tekong. Sebagian besar dari mereka, berasal dari Pringgabaya dan Pohgading.

Mereka ini dijanjikan akan berangkat ke Singapura sejak beberapa waktu lalu. Namun sampai saat ini tak kunjung diberangkatkan. Sementara masing-masing CTKI sudah mengeluarkan uang antara Rp. 7 juta hingga Rp. 7,5 juta.

Para korban direkrut secara orang per orang olah tekong berinisial H dan HR. Keduanya berasal dari Pringgabaya dan Pohgading. “Mereka dijanjikan ke Singapura, namun prosesnya tanpa melalui perusahaan,” ungkap Kasi Penempatan dan Pasar Kerja  Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Dissosnakertrans) Lotim, Lalu Sadli Bachtiar, Jumat kemarin (2/9).

Para korban ini dijanjikan pekerjaan di pabrik. Namun jika janji itu benar adanya, berarti warga tersebut menjadi korban penipun. Karena diketahui, Singapura sendiri selama ini tidak ada penempatan bagi tenaga kerja laki-laki, khusunya untuk job formal. “Semua korban ini laki-laki,” lanjut Bachtiar.

Dari jumlah korban itu, saat ini sekitar lima orang korban yang telah melapor ke Dissosnakertrans Lotim.  Mereka membawa sejumlah bukti pengaduan berupa paspor dan berkas-berkas lainnya. “Namun informasinya, dua oknum yang merekrut CTKI itu juga menjadi korban penipuan. Mereka ditipu oleh seseorang yang mengaku sebagai agen dari Singapura,” terangnya.

Menindak lanjuti pengaduan warga, pihaknya sesegera mungkin akan melakukan pemanggilan. Baik itu terhadap korban maupun oknum tekong tersebut. Nantinya mereka akan dipertemukan untuk dimediasi. “Mungkin besok (hari ini), kita akan panggil semua pihak. Baik pelaku atau korban,” sebutnya.

Dua oknum tersebut juga akan diklarifikasi untuk memastikan apa yang diadukan para korban. Termasuk menanyakan total jumlah uang korban yang telah mereka ambil. Dia sangat menyayangkan hal seperti ini kembali terulang. Ini semua terjadi tak lepas karena kurangnya kepedulian dari aparat desa setempat. “Ini karena kurang kepedulian dari unsur desa. Padahal kita sudah sampaikan, nama-nama perusahaan dan lowongan kerja yang ada di dinas kita ini,” tutup Bachtiar. (lie)