Ciptakan Bank Mini Sekolah Berbasis Digital

LATIH : Sejumlah sekolah di Kota Mataram dan Lombok Barat jadi lokasi program Bank Mini Sekolah berbasis digital. Siswa dan mahasiswa yang terlibat diberikan pelatihan. (Ahmad Yani/Radar Lombok)

Berkat perkembangan dan kemajuan teknologi informasi lebih mempermudah dan mendekatkan transaksi keuangan masyarakat. Misalnya, dengan sekolah atau pondok pesantren (ponpes).


Ahmad Yani – Mataram


Provinsi NTB menjadi salah satu dari 6 provinsi di Indonesia dijadikan pilot project bagi pelaksanaan dan penerapan bank mini sekolah berbasis digital. Dengan perangkat teknologi Unstructured Supplementary Services Data (USSD)  memungkinkan segala jenis handphone berbasis GSM dapat mengakses dan bertransaksi, kendati dengan sinyal telepon minim.

Kemudahan dan kesederhanaan tersebut sekaligus meringankan kerja agen yang menjadi representasi perbankan dalam menjalankan transaksi finansial.

Sebab, agen bertindak sebagai second line of defense bank. Namun, di balik tabungan simpel dengan karakteristik Basic Saving Account ini, ada back-up teknologi yang mumpuni sehingga tercipta inovasi yang tepat guna dengan standar tepat. ” Prinsipnya, dengan bank mini sekolah literasi keuangan makin dekat dengan masyarakat. Terutama pelajar” kata Direktur Pusat Pengembangan Usaha dan Bisnis (Inkubasi) IAIN Mataram, Dr Riduan Mas’ud kepada Radar Lombok di MAN 2 Mataram, Rabu kemarin (8/3).

[postingan number=5 tag=”boks”]

Tujuan pendirian dan penerapan bank mini sekolah ini sebagai  sarana atau tempat bagi para pelajar untuk menabung uang mereka dengan jumlah yang tidak ditentukan. Bank mini tersebut mempunyai aturan – aturan yang harus dipatuhi bagi para siswa  yang menabung. Bank mini ini  tidak mengeluarkan pajak dan tidak pula memberi bunga pada penabung. Oleh karena itu, bank mini tidak akan memberatkan atau tidak memberi beban bagi para penabung. Hal itu sekaligus juga bentuk  pembelajaran tentang pelayanan publik dan dunia perbankan.

Adanya bank mini  ini diharapkan dapat membantu guru maupun siswa dalam hal finansial, memudahkan bertransaksi dengan sistem yang cepat dan akurat melalui produk-produk yang ditawarkan. Misalnya, tabungan siswa, tabungan guru, tabungan wali murid, tabungan wisata, tabungan Qurban, tabungan umroh dan lainnya.

” Dengan ada bank mini memindahkan sistem operasional bank ke sekolah dan dikelola sekolah. Karena semua menggunakan perangkat digital” ucap  Doktor Ekonomi Syariah tersebut.

Bahkan, keberadaan bank mini sekolah itu bisa berfungsi melebihi perbankan. Bank mini tersebut juga bisa melatih dan mengembangkan semangat entrepreneurship atau kewirausahaan di kalangan siswa dan mahasiswa.  Dikarenakan mereka akan terlibat langsung dalam mengoperasionalkan bank mini sekolah tersebut. Oleh sebab itu, pihaknya sudah melatih sejumlah pelajar dan mahasiswa sebagai operator dalam pengoperasionalkan bank mini sekolah tersebut. ” Menjadi pusat pembelajaran mandiri bagi siswa dan mahasiswa,” tuturnya.

Pihaknya pun sudah menggandeng PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR)  bekerja sama untuk mendukung  atau sebagai perbankan untuk menyimpan dan menyalurkan tabungan dari bank mini sekolah tersebut.  Kerja sama dengan  perbankan daerah ini  maka ditargetkan uang terkumpul tidak tersedot keluar daerah. Sehingga uang tersebut bisa dioptimalkan dan dipergunakan untuk kepentingan dan pengembangan ekonomi di daerah.

Ia kemudian menuturkan, di beberapa sekolah di Pulau Jawa yang  dijadikan sebagai lokasi program bank mini sekolah terbilang cukup sukses. Misalnya, di SMA  1 Muhammadiyah Yogyakarta baru beberapa bulan uang sudah terkumpul  mencapai Rp 12 miliar. 

Dengan bank mini sekolah berbasis digital tersebut  berbagai transaksi keuangan maupun pembayaran bisa dilakukan  sekaligus. Mulai dari kebutuhan pembayaran seperti pembayaran listrik, telpon, PDAM, hingga pada simpan pinjam dan transaksi keuangan lainnya. ” Maka sekaligus usaha ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi kebutuhan sekolah,” pungkasnya.(*)