Cara Memarahi Anak dengan Kasih Sayang

Lisa Budia Amsari, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Islam Negeri Mataram (IST/RADAR LOMBOK)

Oleh Lisa Budia Amsari, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Islam Negeri Mataram

Semua orang tua tentunya sayang kepada anaknya. Namun seiring perkembangan anak dalam kesehariannya, anak sering berperilaku yang menjengkelkan sehingga membuat orang tuanya marah.

Beberapa perilaku atau kebiasaan anak yang sering memicu kemarahan orang tua di antaranya seperti menumpahkan air, membuang barang ataupun membuat rumah berantakan.

Contohnya ketika orang tua baru pulang bekerja dan melihat anak tidak sengaja menumpahkan susu cokelat di atas sofa yang sangat bersih, orang tua mana sih yang tidak terpancing amarahnya saat mengalami situasi tersebut.

Dalam situasi seperti itu, hal apa sih yang harus dilakukan? Langsung membentak anak? Langsung memarahi? atau justru mendiamkan anak karena sudah tidak memiliki tenaga untuk merespons situasi tersebut?

Perlu diingat bahwa memarahi, meneriaki, atau bahkan memukul melakukan kekerasan fisik bukanlah solusi yang tepat. Sebagai orang tua sangat penting untuk meredakan emosi ketika menghadapi anak.

Jadi bagaimana cara memarahi anak yang benar atau efektif? Caranya yaitu memarahi anak dengan penuh kasih sayang kelembutan sehingga anak tidak merasa disudutkan. Hal ini akan membantu tumbuh kembang anak secara optimal.

Dari berbagai sumber yang saya baca, memarahi merupakan perwujudan dari perasaan orang tua yang merasa dirinya sebagai korban dalam melampiaskan setumpuk kekesalannya sebagai bentuk kekecewaan atas ketidaksesuaian harapannya terhadap anak.

Sebagai orang tua tentunya harus memberikan kasih sayang karena kasih sayang memiliki peran penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Kasih sayang adalah sumber daya yang memberikan kontribusi untuk kelangsungan hidup anak yang dapat orang tua wujudkan dalam bentuk aktif maupun pasif, sehingga terciptanya kelekatan dan ikatan emosional yang harmonis antara orang tua dan anak.

Terkadang orang tua harus memarahi anak. Ini bukan berarti orang tua tidak sayang kepada anak, sebab memarahi dan sikap lemah lembut kasih sayang, bukanlah dua hal yang bertentangan. Saat memarahi anak, orang tua bisa memberikan senyuman. Gunakan teknik bonding atau kontak fisik antara orang tua dan anak sebagai bagian penting dalam proses pertumbuhan.

BACA JUGA :  Parenting Ramadan Saat Covid-19

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan orang tua dalam memarahi anak:

  1. Hindari bertindak kasar pada anak
    Orang tua sebaiknya memberikan penjelasan mengenai kesalahan anak. Sediakan waktu yang baik untuk berbicara dengan anak, dengan memupuk suasana yang mesra lembut penuh kasih sayang dengan anak untuk berbicara tentang perilaku yang baik.
  2. Membuat kesepakatan bersama
    Misalnya mintalah kepada anak-anak agar tenang ketika ibu sedang bekerja. Sampaikan keinginan orang tua dengan cara yang baik dan bersabar bila belum terpenuhi. Adanya komitmen dengan anak, orang tua dapat membicarakan konsekuensi apa yang diterima bila anak mengamuk di saat ibu bekerja, sampaikan konsekuensi ini dengan nada yang akrab dari ancaman yang membuat anak tertekan, beri kebebasan kepada anak untuk melakukan sesuai dengan keinginannya.
  3. Berbicara dengan sopan
    Biasakan memberikan model yang baik kepada anak ketika berbicara atau meminta sesuatu. Sehingga keluarga menjadi tempat ternyaman dan menyenangkan bagi anak. Keluarga merupakan tempat untuk memotivasi anak, bukan melemahkan citra diri anak. Seperti salah satu kebiasaan umum orang tua, berbicara dengan kata yang kurang baik tidak pada tempatnya, sehingga melemahkan citra diri anak “Ibu sudah berkali-kali bilang tapi, Anggi tidak mau mendengar”. Ungkapan tersebut memang efektif untuk membuat anak diam sesaat karena harga dirinya jatuh, tetapi bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi anak akan memiliki konsep diri dan harga diri lemah, anak memandang dirinya secara negatif. Sehingga lupa kebaikan dan keunggulan yang dimilikinya.
  4. Berikan kata-kata positif
    Apa yang dilakukan orang tua terhadap anak seharusnya disampaikan dengan kata-kata yang positif tidak mempermalukan. Orang tua harus meluruskan perilaku anak dengan menyampaikan kata-kata yang positif. Orang tua kadang sibuk mencela anak hingga lupa untuk bertanya kenapa anak berbuat demikian. Di samping itu perkataan negatif akan melemahkan citra diri harga diri dan percaya diri anak. Kadang kala orang tua tidak merasa melontarkan kata yang tidak sopan kepada anak, padahal menyudutkan anak, contoh “Caca kenapa tidak mau mendengar nasihat bapak, selalu saja keras kepala,”. Caca tentunya tidak mendengarkan nasihat orang tua. Padahal di sini orang tua seharusnya tidak mencela anak tetapi memberi perlindungan.
  5. Jangan katakan “jangan”
    Orang tua sangat sering mengatakan kepada anaknya “Ayo jangan lari-larian nanti jatuh! Ayo jangan main kotor kamu baru saja selesai mandi!” dan lain-lain. Padahal kata “jangan” tidak membuat anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Sementara orang tua semakin jengkel karena merasa nasihatnya tidak didengar.
    Orang tua dapat menumbuhkan kepercayaan diri pada anak secara baik. Jangan katakan “jangan“ pada saat ia sedang melakukan kesalahan, tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, kalau orang tua tidak mau anaknya lari-larian dan jatuh, orang tua sebaiknya menyediakan tempat yang aman agar ketika anak jatuh anak tidak terluka, atau orang tua bisa mengatakan “Sayang jalannya pelan-pelan saja, ” Singkat, padat, jelas, dan positif dengan nada suara lemah lembut dan santun. Anak pasti senang mendengarnya akhirnya dia mau melakukan apa yang kita inginkan.
    Kapan sebaiknya orang tua sampaikan larangan? saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orang tua, nasihat yang diberikan pada anak akan lebih efektif, anak lebih mudah memahami. Mereka dapat menerimanya bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya. Pujian perlu diberikan, ketika anak berhasil melakukan suatu tindakan dengan baik, tetapi pujian diberikan dengan tidak berlebihan. Kesabaran, ketenangan, kelembutan menghadapi anak-anak ketika marah dengan menggunakan cara yang tepat sehingga tidak memengaruhi perkembangannya.
BACA JUGA :  Dampak Toxic Parents bagi Mental dan Psikologis Anak

Orang tua merupakan model bagi anak. Semua tingkah laku orang tua akan mudah ditiru karena pada usia dini termasuk golden age. Untuk itu dalam memarahi anak orang tua sebaiknya berusaha untuk memiliki rasa empati pada anak, memberikan contoh dengan tutur kata yang penuh kelembutan serta penuh kasih sayang.

Jadi memarahi anak bisa memberikan manfaat positif dan negatif bagi kesehatan anak. Namun menasihati anak tidak dapat dilepaskan dari tumbuh kembang anak karena menasihati merupakan pengajaran kepada anak mengenai batasan-batasan dan peraturan. Saat penyampaian nasihat dan amarah dilakukan dengan penuh kasih sayang dan penjelasan yang logis. (**)